REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA

REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA
DUA PULUH DUA


__ADS_3

"Apa ini?"


"Kuenya terlihat lucu."


"Katanya ada masakan Kaisar juga, aku tidak sabar mencicipi."


"Ah, ada tulisan juga."


"Wah, aku juga ada."


"Apa tulisannya?"


"Terima kasih sudah bersedia datang, semoga semua impian kalian terkabulkan seperti mimpi aku malam ini, yang bisa merayakan ulang tahun sederhana bersama kedua orang tua yang aku cintai. Selena Amartya."


Suasana menjadi hening, para bangsawan terdiam dan berusaha mencerna tulisan putri Selena lalu tersadar bahwa selama ini hanya dua anak yang bisa memiliki nama belakang kaisar, Birendra. Pangeran mahkota dan putri Selena.


Tidak peduli seberapa dimanjakan pangeran Bence dan putri Cassia, yang bisa memakai nama keluarga kaisar tetaplah anak-anak dari permaisuri.


"Kenapa kita bisa melupakannya?"


"Bagaimana ini?"


Jika pangeran mahkota naik tahta, kemungkinan besar anak-anak yang dimanjakan kaisar sekarang, tetap diusir keluar karena hubungan buruk mereka.


"Putri Cassia, bagaimana pendapat an-" salah satu teman bangsawan Cassia coba bertanya pada Cassia. "Di mana Yang Mulia?"


"Aku tadi lihat beliau berlari menuju taman, ratu dan selir berusaha mengejarnya," kata salah satu bangsawan yang berdiri di dekat jendela taman sambil melihat ke arah jendela.


Sementara di taman, Stefano membagikan makanan ke piring istri dan anak-anaknya, para dayang dan pengawal sudah diberikan kue dan masakan terlebih dahulu.


Selena bertanya ke Stefano yang sedang berdiri di depan kursi untuk menaruh ikan masakannya ke piring Aelia. "Apakah Ayah tidak lelah masak sebanyak itu?"


Stefano sedikit bergidik mendengar ucapan manis anak perempuannya, namun disembunyikan dengan baik. "Ayah baik-baik saja."


"Benarkah?" Tanya Selena tidak percaya lalu memegang erat tangan ibunya. Saat ini dia duduk diantara orang tua sementara Aether duduk di sebelah Stefano, intinya tempat duduk kedua anak Stefano, memisahkan tempat duduk sepasang suami-istri.


"Apakah Ayah berharap tidur satu kamar dengan Ibu?" selidik Selena.


Aether hampir tersedak mendengat pertanyaan adiknya yang blak-blakan.


Aelia mengerutkan kening. "Selena, tidak mungkin Kaisar akan repot-repot datang ke tempat ibu. Ibu tidak menarik lagi di mata Kaisar."


Kaisar kembali duduk. "Sekarang kamu memegang harem Ayah, tidak mungkin kamu tidak tahu jadwal Ayah."


Selena menghela napas. "Aku akan mengembalikan manajemen harem ke Ratu setelah keluarga Ratu membayar hutang ke keluarga Kakek."


Kaisar mengerutkan kening. "Ayah tidak masalah jika kamu ingin memegang kendali istana, menggantikan Permaisuri yang sakit."

__ADS_1


Selena memotong makanannya hingga menjadi kecil. "Aku tidak suka memegang harem, tidak ada untungnya. Yang ada hanya pertengkaran masalah para KE.KA.SIH Ayah."


Selena sengaja menekankan kata kekasih.


Aether sudah menduga hal tersebut tapi tidak berani bertanya. "Pekerjaan Permaisuri bukan hanya mengurus harem, masih ada lagi yang lain bukan? Misalnya mengurus pengeluaran Istana."


"Mengurus pembukuan itu sangat membosankan, tidak menarik. Aku tidak seteliti kakak yang mampu membaca penipuan hanya dengan sekali lihat," kata Selena.


"Lalu, apa yang kamu inginkan?" tanya Aelia yang tidak paham. "Apakah kamu ingin menikah?"


Selena menatap ngeri ibunya. "Apakah ada pria yang sehebat Ayah dan secerdas Kakak jika digabungkan menjadi satu?"


Stefano dan Aether tersinggung dengan perkataan Selena, namun tidak berani protes.


Aelia mulai berpikir dan menepuk tangan satu kali. "Kakek lebih hebat dari Kaisar lalu putraku kecerdasannya tidak tertandingi."


Stefano hendak protes lalu terdiam ketika merasakan tendangan dari bawah meja, dia menatap marah putra kurang ajarnya.


Selena menoleh ke Stefano. "Karena itu, bolehkah aku ikut ke tempat kerja Ayah?"


Aether menghela napas lalu kembali makan. Dia sudah menduga dengan keinginan terpendam adiknya yang terhalang dengan kebencian masa lalu, sekarang orang tua mereka baik-baik saja, Selena tidak perlu benci tentang hukum.


Aelia dan Stefano malah berpikiran lain dan khawatir.


"Kamu ingin menggantikan tahta Aether?"


"Selena, Ibu tidak setuju jika kamu menggantikan kedudukan Ayah kamu. Masih ada kedudukan yang lebih baik lagi!"


"AYAH!"


Keempat orang yang sedang makan malam, terkejut.


"AYAH APAKAH MENDENGAR AKU? HARI INI AKU JUGA ULANG TAHUN! APAKAH AYAH TIDAK DATANG?"


Selena mendengus lalu bicara ke ibunya. "Lihat, bu. Memang seharusnya Kaisar tidak bersama kita."


Aether tidak berkomentar.


Stefano menepuk pelan kepala Selena lalu memegangnya dengan erat supaya tubuhnya duduk tegak. "Kamu sedang makan, jangan duduk seperti itu."


Selena bertahan supaya tidak mengikuti tangan Stefano.


Aelia yang melihat itu, sontak berdiri dan memeluk kepala anaknya. "Apa yang sedang kamu lakukan? Dia perempuan, bukan laki-laki!"


Selena menjulurkan lidahnya, mengejek Stefano.


"AYAH!"

__ADS_1


Stefano menjadi kesal lalu beritahu sesuatu ke kepala ksatria yang menjaga Kaisar.


Kepala ksatria mengangguk lalu pergi menuju putri Cassia dan rombongannya.


"Apakah tidak masalah Ayah tidak datang ke sana?" Tanya Aether.


Stefano menjawab dengan tenang. "Habiskan makanan kamu, jangan ikut campur masalah orang tua!"


Aether kembali makan dengan perasaan kesal karena diperlakukan seperti anak kecil.


***


Cassia berlari menuju taman, namun dihalangi oleh para ksatria milik kaisar dan pangeran mahkota. "Minggir!" Desisnya.


"Maaf, hanya anggota keluarga inti kekaisaran yang boleh masuk," ucap salah satu ksatria yang menghalangi Cassia.


"Aku anak kandung Kaisar!" ucap Cassia dengan angkuh.


Ratu yang berhasil menyusul dan berdiri di belakang, sontak membentak para ksatria. "Kurang ajar kalian! Berani menghina Putri kekaisaran!"


"Kami hanya menjalankan perintah dari Kaisar, jika anda ingin protes- silahkan protes terhadap Kaisar."


Cassia yang tidak tahan lagi, berteriak dengan keras supaya bisa didengar Kaisar di dalam taman. "AYAH!"


Ira dan para selir lainnya yang berhasil menyusul, berdiri di belakang ratu.


Tidak ada sahutan, meskipun Cassia berkali-kali teriak.


Tak lama sosok pria muncul dari taman.


Cassia yang mengira sosok itu ayahnya, tersenyum dan hendak mengatakan sesuatu. "Ay-"


Senyum Cassia memudar ketika melihat siapa yang datang. Kepala ksatria kaisar.


Kepala ksatria kaisar membungkuk hormat lalu menyampaikan pesan. "Yang Mulia Putri, jika anda ingin merayakan pesta seperti biasa, tolong biarkan Kaisar makan malam dengan tenang bersama istri dan anaknya. Tapi, jika anda tetap ingin mengacau- saya akan membubarkan pesta anda."


Cassia terkejut.


Ira tidak bisa berkata-kata.


Ratu menjadi marah. "Kaisar tidak mungkin mengatakan itu. Cassia, jangan takut dan tetap cari ayah kamu!"


Cassia tidak ingin pestanya hancur, namun dia tidak bisa menolak perintah ratu. "Aku ingin ayah keluar!"


"Kalau begitu, jangan salahkan saya." Hormat kepala ksatria kaisar.


Cassia menangis, tidak ingin pestanya hancur. "AYAH! AKU MOHON KELUAR DAN BERDANSA DENGANKU?!" LIMA MENIT SAJA! TIDAK, SATU TARIAN- HANYA SATU TARIAN!"

__ADS_1


Tidak ada jawaban dan sebagian ksatria kaisar sudah pergi menuju pesta.


Cassia berlutut sambil menangis, tidak peduli gaun mahalnya rusak. "Ayah-" raungnya.


__ADS_2