
Cassia memang terlahir dari seorang selir, ratu juga mendukungnya namun dia hanya ingin ayah kaisar melihat dirinya yang hebat daripada anak sah itu.
Apa hebatnya Selena yang hanya pendiam dan tidak memiliki banyak teman?"
Apa hebatnya Selena yang selalu berkata menusuk hati orang lain jika perasaannya memburuk?
Bukankah Selena tidak bisa menjadi putri sejati, jika memiliki sifat seperti itu?
Bukankah ayah Kaisar sangat menyayangi dirinya yang menjadi bunga kekaisaran?
"AYAH!" jerit Cassia.
Ratu yang berdiri di belakang Cassia mengeluarkan perintah kepada kepala ksatria penjaga kaisar. "Aku berikan kalian perintah untuk mundur dan biarkan kami masuk."
Kepala ksatria penjaga kaisar tersenyum. "Yang mulia Ratu, anda memang sudah lama mengambil alih tugas Permaisuri. Namun ada yang perlu anda ingat, bahwa meskipun anda menggantikan pekerjaan Permaisuri, tetap saja kedudukan Permaisuri lebih tinggi dari anda."
Ratu berteriak marah. "KURANG AJAR!"
Cassia meratap dan memanggil ayahnya. "Ayah, hanya satu dansa saja. Aku mohon, bukankah Ayah berjanji akan berdansa denganku?"
Ratu dan selir menjadi geram dengan para ksatria yang menghalangi seorang anak, untuk bertemu dengan ayah kandungnya.
Ratu memerintahkan ksatria miliknya untuk melawan ksatria milik kaisar.
Ksatria milik kaisar menjadi gagal fokus karena serangan tiba-tiba.
Cassia yang masih berteriak memanggil ayahnya, spontan berlari masuk menuju bagian dalam istana. "Ayah!"
Selena yang mendengar ratapan Cassia, mengambil makanan untuk ibunya. "Ibu, coba makan lebih banyak. Ibu baru sembuh dari sakit, jangan makan terlalu sedikit."
Aether tidak mau kalah dari adiknya. Meja yang mereka duduki berbentuk bundar sehingga bisa menjangkau orang yang duduk di sampingnya. "Ibu, coba ini juga."
Aelia merasa terharu dengan kepedulian anak-anaknya. "Terima kasih, sayang."
Stefano tersenyum bahagia, lalu tidak lama senyum menjadi lenyap ketika Cassia berhasil menerobos pesta taman dan menjambak rambut Selena hingga terjengkang ke belakang.
Stefano yang melihat itu, dengan sigap menarik darah dagingnya supaya tidak jatuh.
__ADS_1
Aelia yang juga berusaha menolong anak yang dilahirkannya dengan susah payah, hampir terjatuh dan untungnya Aether berhasil menarik ibunya ke belakang.
"Selena!"
"Ibu!"
Teriak Stefano dan Aether dengan bersamaan dan jantung berdebar.
"PUTRI CASSIA!" Bentak ratu yang terlambat menyusul Cassia.
Cassia yang tersadar dari kesalahan, jatuh berlutut.
Selena yang sudah di dalam pelukan ayahnya dan melihat kekacauan di meja, efek dari dirinya yang tanpa sengaja menarik taplak meja ketika Cassia menjambak rambutnya, mendorong sang ayah menjauh dan berdiri diam.
"Ibu tidak apa?" Tanya Aether ke Aelia.
Aelia menggeleng tidak berdaya dan menunjukkan senyum sedih lalu berjalan ke arah Selena. "Putriku."
Selena memeluk ibunya dan menangis. Pesta ulang tahun hancur begitu saja. "Maafkan aku bu, aku anak yang tidak berguna."
Aelia menghela napas panjang dan bisa merasakan kesedihan putri yang disayanginya. "Tahun depan, kita rayakan ulang tahun bertiga."
Padahal orang lain berebut mengundang kaisar dan menarik perhatian. Namun istri dan kedua anaknya justru ingin menjauh.
Ironis yang tidak bisa diungkapkan.
Aether memegang perutnya yang kelaparan dan melihat semua isi di atas meja makan sudah berjatuhan. "Aku masih lapar."
Aelia menarik tangan Aether. "Ibu akan memasak untuk kalian, masih ada sisa bahan di dapur istana Permaisuri."
Aether mengangguk cemas lalu menepuk pundak adiknya. "Tidak apa, jangan menangis. Kakak juga salah karena mengadakan pesta ulang tahun di istana, harusnya kita merayakan ulang tahun di kediaman kakek."
Selena berganti memeluk Aether dan menangis.
Cassia yang berlutut ketakutan dan tidak ditanggapi oleh Permaisuri serta anak-anak, semakin membuat dirinya ketakutan.
Stefano memijat kening karena kekacauan yang dibuat Cassia. "Untuk apa kamu ke sini dan membuat keributan yang tidak berguna?"
__ADS_1
Cassia menjadi takut dengan aura yang dikeluarkan oleh kaisar.
Selir Ira memeluk anaknya untuk melindungi sementara Ratu berjalan mendekati kaisar untuk menenangkan. Namun di luar dugaan, ratu tidak bisa masuk ke dalam aura berwarna bening yang membungkus kaisar, permaisuri dan kedua anaknya.
Ratu menatap iri Permaisuri. "Yang Mulia, tolong jangan membuat kekacauan. Pesta ulang tahun putri Cassia sudah direncanakan jauh hari, jika memang putri Selena ikut merayakan ulang tahun- bukankah tinggal beritahu kepada saya?"
Selena dan Aether muak dengan ucapan ratu.
Aelia tersenyum. "Ratu, apakah aku terlalu bodoh untuk kamu? Bagaimana bisa seorang putri kekaisaran yang juga menjaga harem kaisar, meminta ulang tahun dijadikan satu dengan anak selir? Apakah Ratu ingin merendahkan kedudukan Putri?"
Senyum ratu menghilang, permaisuri yang dulunya langsung marah hanya dengan satu ucapan, sekarang bisa membalas dirinya dengan tenang.
Stefano menghela napas dan menyentuh pundak istri serta putranya sementara Selena berdiri di antara mereka bertiga. "Ayah yang akan memasak untuk kalian berdua."
Selena menggeleng lalu bicara ke kakaknya. "Aku tidak mau, jika dia ikut."
Aether melindungi adiknya. "Kaisar, anda bisa dengar sendiri, bukan?"
"Tidak, aku tidak mendengarnya. Aku hanya mendengar perut kalian yang berbunyi." Bantah Stefano.
Aelia menarik kedua anaknya, untuk menjauh dari kaisar. "Ayo ke istana Permaisuri dan istirahat di sana."
"Ayah ikut." Stefano menyebut dirinya ayah, bukan kaisar. Untuk mempersempit hubungan mereka berempat, dia tidak ingin kehilangan anak-anaknya lagi, jika masih bisa diberikan kesempatan.
"Yang Mulia, sebaiknya anda pedulikan putri Cassia. Hari ini ulang tahunnya yang berharga dan sudah dipersiapkan jauh hari, banyak uang sudah dikeluarkan secara cuma-cuma untuk ulang tahun mewahnya. Anda tidak mungkin tidak datang, bukan?" Tanya Aether yang masih ingin menjaga jarak. Dia masih marah dengan kelakuan Kaisar yang terlalu dingin terhadap ibu mereka berdua.
Stefano menatap tegas putranya. "Aku ayah kandung kalian berdua, apakah ada seorang Ayah yang mengabaikan anak kandungnya sendiri?"
Ada, dan kamu sedang melakukannya sekarang. Batin Aelia sambil melirik Cassia yang menatap marah sekaligus iri Selena yang sedang memeluk kakaknya, pangeran mahkota.
Ira menatap nanar kaisar. "Yang Mulia, hari ini juga hari ulang tahun Cassia, putri kesayangan anda. Jangan melupakan hal itu, Yang Mulia."
Stefano pura-pura tidak mendengar, lalu menyuruh salah satu bangsawan pengikutnya. "Awasi selir dan anaknya untuk membersihkan semua kekacauan yang mereka buat, besok pagi aku harus sudah melihat taman dalam keadaan bersih. Jangan pakai pelayan juga."
"Baik, Yang Mulia Kaisar." Bangsawan pengikut membungkuk hormat setelah menerima perintah dari kaisar.
Aelia, Aether dan Selena tidak bisa keluar dari aura yang dibuat kaisar untuk melindungi mereka bertiga.
__ADS_1
Setelah kaisar memberikan perintah, aura masih tidak terbuka, namun mengikuti kaisar yang sudah berjalan lebih dahulu.
Mau tidak mau, Aelia dan kedua anaknya berjalan mengikuti kaisar.