REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA

REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Dua kenangan buruk di dua kehidupan yang berbeda membuat Selena tidak mau merayakan ulang tahunnya, meskipun Cassia selalu merayakan ulang tahun dengan mewah dan meriah, lalu para bangsawan menyindirnya karena terlalu introvert, Selena tetap tidak peduli.


Yang memahami perasaan Selena tentang ulang tahunnya hanyalah Aether, sang kakak.


Di kehidupan saat ini Aether tidak mau terlalu memaksakan Selena seperti sebelumnya, namun ketika melihat perubahan sang Ibu dan antusiasnya mengenai ulang tahun Selena.


Aether coba membujuknya. "Apakah kamu tidak ingin merayakan ulang tahun dengan ibu?"


"Apakah ibu akan meninggal di hari ulang tahunku lagi?"


Pertanyaan yang hanya diketahui pemilik alam semesta, tidak mampu dijawab Aether. "Aku tidak bisa menjanjikan hal yang tidak aku ketahui, bahkan alam semesta pun tidak tahu kenapa kita dua kali reinkarnasi. Namun, ibu sekarang sudah berubah- tidak bisakah kamu memberikan kesempatan untuk ibu merayakan ulang tahunmu?"


Percakapan itu terjadi setelah ibu mereka mengungkapkan keinginan untuk merayakan ulang tahun. Selena coba memberikan satu kesempatan untuk merayakan ulang tahun.


Dan itulah yang Aether dan Selena jalani malam ini, dengan mimpi yang tidak akan pernah berani mereka berdua bayangkan di tiga kehidupan yang mereka jalani.


Selena memegang erat tangan Aether untuk mencari kekuatan.


Stefano dan Aelia memasang lilin di atas kue ulang tahun Selena yang dibuat oleh Aelia.


Aelia mengangkat kue satu tingkat dengan dihias krim putih bersama bunga mawar berwarna pink. "Selamat ulang tahun putri Ibu, semoga menjadi anak yang bisa menggapai mimpinya."


Stefano berdiri di belakang Aelia dan memegang kedua pundaknya. "Selamat ulang tahun, putri Ayah."


Selena menitikan air mata dan menggosok dengan punggung tangan.


Aether paham perasaan Selena dan mengucapkannya dengan tulus. "Selamat ulang tahun, adik kakak."


Selena berusaha menahan air mata untuk tidak muncul lebih banyak lagi, lalu membuat keinginan di dalam hati dan menyuarakan rasa syukurnya. "Terima kasih, keinginanku sudah diwujudkan ibu sekarang."


Aelia yang tadinya tersenyum tulus, menjadi sedih. "Maafkan Ibu, selama ini mengabaikan putri kesayangan Ibu."


Selena menggeleng. "Tidak, aku mengerti kok."


Aether tersenyum sedih. Paham apa yang dirasakan adiknya.


Selena meniup lilin


Semua orang di sekitar taman sontak bertepuk tangan, kecuali Stefano yang membantu Aelia meletakkan kue ulang tahun di atas meja.

__ADS_1


Pemandangan itu membuat heran para bangsawan yang ada di dalam ruang pesta dan mengintip dari jendela.


"Kenapa semua orang di taman bertepuk tangan?"


"Apakah tadi itu kue?"


"Kenapa putri Selena meniup lilin?"


"Apakah itu kebiasaan baru?"


"Wah, apakah Kaisar dan Permaisuri sedang merayakan ulang tahun Putri Selena? Ada Pangeran Mahkota juga di sana."


Suasana sontak menjadi hening ketika mendengar perkataan salah satu bangsawan wanita muda tersebut.


"Hei, hati-hati jika bicara. Malam ini ulang tahun putri Cassia." Tegur salah satu teman yang berdiri di sampingnya.


Cassia menjadi marah sementara ibunya menatap khawatir ratu.


Ratu yang juga melihat pemandangan itu, berkata ke Cassia. "Putri Cassia, kamu adalah anak kesayangan Kaisar. Jadi jangan bersikap marah, nanti Kaisar pasti datang ke acara Putri. Tunggulah sebentar lagi."


Cassia mengangguk. "Kaisar sudah berjanji akan datang, pasti akan menepatinya."


Cassia balik badan dan membuka acara pesta ulang tahunnya. "Terima kasih sudah datang ke pesta ulang tahun saya dan membawa beberapa hadiah, karena itu saya-"


Tidak lama pintu ruang pesta terbuka, para pelayan datang mendorong kereta nampan dan mulai membagikan kue ke para undangan.


Pelayan kepercayaan pangeran mahkota membuat pengumuman. "Hari ini adalah hari kebahagiaan untuk adik satu-satunya Pangeran Mahkota, Putri Selena."


Para bangsawan sontak menjadi ribut lalu beberapa bangsawan muda seusia Cassia dan Selena, melirik Cassia.


Selama ini Cassia selalu mengatakan kepada semua orang bahwa hubungannya dengan pangeran mahkota baik-baik saja, namun dengan pengumuman seperti itu, bukankah hubungan mereka yang sebenarnya tidak sesuai dengan cerita Cassia?


"Apakah Putri Cassia berbohong?"


"Ssstt!"


Pelayan kepercayaan pangeran mahkota mengumumkan lagi, ketika sudah menenangkan para tamu dengan lonceng. "Karena itu Pangeran Mahkota ingin membagikan kue yang dibuat sendiri oleh Permaisuri dan juga masakan sederhana Kaisar untuk dibawa pulang ke rumah."


Sebelum perayaan, Stefano dan Aelia sedikit berdebat mengenai kue dan makanan yang akan dibagikan.

__ADS_1


Pagi hari saat di dapur, sebelum malam pesta ulang tahun dimulai. Selena yang tersenyum, melihat pertikaian sengit kedua orang tuanya.


"Tidak, jangan membuat kue sebanyak dan sebesar itu. Memangnya kamu ingin membagikan ke para bangsawan yang datang?"


"Iya, memang."


"Tidak, aku tidak mengizinkannya. Lebih baik serahkan kepada kepala dapur istana."


"Malam ini ulang tahun anakku, tidak mungkin aku menyerahkan masakan ke orang lain!"


"Selena juga Putriku, tapi aku juga tidak akan membiarkan istriku kerja keras hanya untuk para bangsawan manja dan tidak tahu diri!"


"Hah! Kamu punya istri banyak, jangan sebut aku istri! Kaisar sinting!"


Stefano terkejut, dari sekian banyak wanita yang ada di sekelilingnya, tidak ada yang berani berkata kasar seperti Aelia. Namun, Stefano tidak tersinggung sama sekali.


Selena mengangguk bahagia. "Benar, bu. Abaikan Kaisar sinting itu, Ibu bisa memasak semua yang Ibu inginkan. Aku akan memakan semuanya."


Aelia tersenyum ke Selena. "Ah, kamu memang anak yang pengertian."


Stefano juga terkejut mendengar betapa kurang ajarnya sang anak, namun tidak bisa membalas. Dia paham bagaimana sifat Selena yang tidak kenal takut, bahkan jika dihapus dari anggota keluarga kekaisaran, Selena tidak akan pernah peduli.


Selena mengangguk. "Iya, memang hanya aku yang paling mengerti ibu."


Stefano berkacak pinggang lalu menghela napas, akhirnya mengalah. "Baiklah, karena kamu terlanjur membuatnya. Aku memang keberatan kamu menghias kue ulang tahun sangat besar, tapi bisa diakali, biarkan kue seperti itu lalu dipotong kecil dan jadikan hadiah untuk para tamu."


Aelia bertukar tatapan dengan Selena.


Stefano membujuk mereka. "Para bangsawan tidak mungkin makan sambil berdiri, mereka tidak akan memegang piring lalu dibawa kemana-mana, mereka hanya membawa gelas. Kalian berdua tidak lupa dengan pelajaran table manner bukan?"


Aelia mengangguk. "Baiklah, jika memang begitu. Kita akan membungkusnya dengan pita cantik, lalu Selena tulis sendiri di dalam kertas."


Selena menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Menulis? Apa yang harus aku tulis, bu?"


Aelia tersenyum. "Tulis bahwa kamu ingin membagikan kebahagiaan melalui kue dan ucapan terima kasih kepada para bangsawan yang sudah bekerja keras."


Selena melirik ayahnya.


Stefano terpaksa menurut dan mengangguk ke Selena.

__ADS_1


__ADS_2