
Didalam kamarnya, Zeyn masih kepikiran ucapan Cyle sore tadi. Wajar saja, Zeyn baru menginjak masa remaja pada umurnya saat ini.
"(Aku tidak bisa tidur..)" Ucap Zeyn dalam hati, ia tampak gelisah.
"(Mungkin aku akan berjalan-jalan sebentar sebelum tengah malam, aku juga gak terlalu ngantuk)" Gumamnya
Pada malam itu, Zeyn ingin keluar berjalan-jalan. Niatnya tidak lain adalah memulihkan pikirannya yang sedang dimabuk asmara.
Dengan baju tidur, Zeyn keluar kamarnya dan berjalan menuju pusat kota
Sesampainya di pusat kota, ia dikejutkan dengan ramainya pusat kota di malam hari. Ini bukanlah hari besar atau acara tradisi, pusat kota Artamevia memang selalu ramai pada saat malam hari, banyak yang berjualan mulai dari aneka kuliner, pakaian, dan lain-lain.
Zeyn mengira bahwa pusat kota sepi pada saat malam hari, tapi sebaliknya, semakin tengah malam pusat kota semakin ramai. Terkejutnya ia pada saat itu melihat Cyle di salah satu gerai permainan, gerai permainan itu bernama [Sasaran Berhadiah]
Sasaran Berhadiah adalah permainan memanah ke sasaran yang disediakan, jika tepat sasaran maka pemain akan mendapatkan hadiah beragam yang telah disediakan.
Zeyn mencoba untuk mendekati Cyle disana, Cyle juga nampak datang tanpa pendamping.
"Maaf mengganggumu, Cyle" Sapa Zeyn
Cyle yang tadinya sedang fokus dengan sasarannya bubar fokusnya begitu saja mendengar suara Zeyn. Dia juga kaget dan langsung melepas anak panah tersebut tanpa mengenai sasaran apapun
__ADS_1
"Oh... Maafkan aku" Ujar Zeyn
"Hehe, tidak apa. Lagipula aku sama sekali tidak bisa memanah, bahkan dengan fokus sekalipun. Aku hanya iseng coba-coba saja" Jawab Cyle
"Apa hadiah yang kau incar?" Tanya Zeyn
"Kalung disana, itu sangat indah bukan?" Ujar Cyle
"Ya, itu memang agak sulit. Posisi sasarannya dibuat sedemikian rupa agar sulit untuk dikenai. Namun itu bukan masalah bagiku." Ucap Zeyn
"Kau masih ada sisa percobaan?" Tanya Zeyn
Zeyn lalu mendekati pemilik permainan tersebut, Cyle tidak bisa mendengarnya namun terlihat pemilik permainan itu mengangguk setuju.
"Apa yang kau bicarakan dengan pemilik permainan ini?" Tanya Cyle ke Zeyn yang kembali ke tempatnya
"Ohh, itu? Aku hanya memastikan bahwa kita akan tetap tak mendapatkan hadiahnya walaupun bukan kau yang memainkannya" Jawab Zeyn
"Baiklah, biar aku coba" Ucap Zeyn
Zeyn di kampung halamannya juga berlatih panah, ia bahkan setara dengan pemanah kastil karena yang melatihnya adalah jendral kerajaan itu sendiri.
__ADS_1
Dengan percaya diri, Zeyn memfokuskan penglihatannya ke sasaran. Dia mulai mengambil satu-satunya anak panah yang tersisa, meregangkan busurnya, sambil berbisik:
"(Vincere..)"
Ia melepaskan panah itu, tidak disangka.. anak panah yang melesat itu berhasil mengenai sasaran, padahal lokasi sasaran sangat sulit bahkan untuk pemanah profesional sekalipun.
Alhasil, pemilik permainan itu kagum dengan bakat yang dimiliki Zeyn.. Pemilik langsung menegaskan matanya sekali lagi bahwa anak panah benar benar tepat sasaran, dan ya.. anak panah itu tepat sasaran bahkan dengan akurasi paling sempurna.
Zeyn mendapatkan hadiah berupa Kalung yang di incar oleh Darcilla, lalu ia segera memberikan kalung itu ke Darcilla.
"Boleh aku pakaikan?" Tanya Zeyn dengan wajah yang tersipu.
"S-silahkan saja.." Sama dengan Zeyn, Darcilla juga sangat tersipu karena dilihat oleh banyak orang.
Zeyn memasangkan kalung hadiah tersebut ke Darcilla, tanpa ia sadari wajahnya sangat dekat Darcilla bahkan bibirnya hampir bersentuhan. Zeyn yang langsung menyadari hal itu sesudah memasangkan kalung terlihat wajahnya sangat merah, tidak hanya Zeyn.. Darcilla juga merasakan hal yang sama.
Keheningan diantara mereka berdua membuat suasana semakin canggung, namun nyaman. Detak jantung mereka berdua terdengar seirama. Zeyn yang menggebu-gebu di hatinya mencoba menggenggam tangan Cyle perlahan, tangan Zeyn perlahan mendekat dan mendekat, sampai pada akhirnya kedua tangan mereka terikat batin satu sama lain, menggenggam hal yang tidak nampak namun bisa dirasakan.
Ya, mereka berdua sedang jatuh cinta. Ini pertama kalinya bagi Zeyn dan juga Darcilla merasakan hal seperti ini. Mereka berdua duduk semakin dekat dan pada akhirnya mereka dipisahkan oleh bulan.
Zeyn pulang ke penginapannya, begitupun Darcilla. Apa yang dirasakan mereka berdua tadi sangatlah aneh, tanpa sepatah kata, mereka menikmati langit yang sama, lalu pergi begitu saja karena pikirnya esok hari kan masih ada.
__ADS_1