Reinkarnasi Sang Penguasa

Reinkarnasi Sang Penguasa
Bertemu Aling Zhu


__ADS_3

"Kami akan mencari tau tentang itu, tapi sekarang aku harus kembali ke dunia atas terlebih dahulu. Aku sudah lama tidak kembali dan aku yakin saat ini ruang kerjaku penuh dengan kertas"


"maafkan aku gadis kecil tapi aku juga harus kembali ke klan ku. apa tidak masalah meninggalkanmu sendiri di sini?"


"tidak masalah, aku bisa menjaga diri"


"kalau begitu berhati-hatilah, panggil kami saat kau butuh bantuan" Yuan Li mengangguk. Sesaat kemudian Jiancheng dan Yuanfeng menghilang dari pandangannya .


Saat ini Yuan Li berada di penginapan yang ada di pusat kota kekaisaran Jiang. Kamar penginapan Yuan Li berada di lantai tiga, itu membuat Yuan Li dapat dengan leluasa melihat keadaan di bawah sana.


"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk melakukan latihan tertutup setidaknya sampai besok pagi sebelum matahari terbit"


Setelah memasang pelindung pada kamarnya, Yuan Li duduk di atas kasur dengan posisi lotus. Matanya terpejam dan mulai berkonsentrasi untuk memulai pelatihan.


.


.


.


"mari kita mulai dengan teknik pedang angin" Yuan Li mulai menggerakkan tangannya untuk mengayunkan pedang sesuai dengan petunjuk pada buku yang diberikan oleh Xiao Yue.


Tidak perlu waktu lama, Yuan Li sudah dapat menguasai tiga tahap pedang angin sekaligus.


"untuk selanjutnya, api hitam penghancur roh. Ini adalah hal yang sulit dilakukan. Tapi kenapa teknik ini bisa ada di dalam buku yang diberikan guru"


Api hitam penghancur roh, bukanlah teknik sembarangan. Dimana setiap penggunaannya yang memiliki elemen api harus menggunakan api murni dari neraka. Tak tahu cara mendapatkan api itu. Tapi pastinya teknik api hitam penghancur roh dipercaya sebagai salah satu ilmu hitam.


"tapi ini menarik untuk di pelajari" Yuan Li mulai mempraktekkan secara runtut langkah-langkah yang ditampilkan pada bukunya.


"sedikit menguras tenaga"


Yuan Li tetap meneruskan latihannya hingga pagi hari saat suara ayam jantan mulai berkokok, Yuan Li membuka matanya kembali.


'huft'


"sebaiknya aku segera mandi" Yuan Li bangkit menuju tempat pemandian yang ada di kamarnya.


Setelah mandi, Yuan Li mengganti pakaiannya dengan hanfu berwarna hitam yang menawan.


"apa yang harus aku lakukan hari ini?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Yuan Li berjalan menyusuri pasar. Matanya beredar mencari sesuatu yang menarik. Saat fokus memperhatikan sekitar, manik aqua itu tertuju pada sebuah toko yang terlihat usang di ujung pasar.


Yuan Li melangkah memasuki toko. Dentingan lonceng terdengar saat ia membuka pintu yang terlihat hampir lapuk. Di dalam toko, seorang wanita tua menyambutnya dengan hangat.


"Selamat datang nona muda. perkenalkan saya Wu Ling, apa yang anda butuhkan disini?" sambut wanita itu ramah.


"ah, saya mencari sebuah topeng. Apa bibi memilikinya" Tanya Yuan Li.


"saya punya beberapa nona, mari"


Yuan Li mengikuti nyonya Wu menuju barisan topeng di ujung toko.


"silahkan nona" Yuan Li menelisik beberapa topeng yang terpajang. Pilihannya jatuh pada topeng setengah wajah berwarna putih hitam dengan ukiran mawar.


"saya akan mengambil yang ini bibi" Nyonya Wu menerima topeng itu kemudian berjalan menuju kasir. Sedangkan Yuan Li berkeliling toko untuk melihat-lihat.


Saat melihat-lihat koleksi pedang di toko, ada sebuah pedang yang amat menarik perhatiannya.


Pedang sederhana, gagang pedang berwarna putih perak. Bilah pedang yang panjang, lebih panjang dari pada umumnya dengan ukiran bunga mawar. Mata pedang yang tajam, Yuan Li yakin jika pedang itu bahkan bisa menembus batang kayu setebal satu meter.


"anda tertarik dengan pedang itu nona?" Yuan Li menoleh ke arah Nyonya Wu yang sudah berdiri di belakangnya.


"berapa harganya?"


"20 koin perak"


"karena mengagumkan maka harganya murah" Yuan Li tentu tidak paham. Biasanya semakin menarik suatu barang maka harganya pun akan semakin mahal. Namun ini sangat berbeda.


"Pedang ini dulunya milik seorang kultivator terkenal nona. Ketajaman pedang ini telah membunuh ribuan orang. Konon katanya jiwa-jiwa yang terbunuh itu terkurung dalam pedang ini bersama dengan pemiliknya. Karena itu tidak ada yang berani memiliki pedang ini. Jika saja cerita ini tidak ada, maka dapat dipastikan bahwa pedang ini laku dengan harga tinggi. Selain terbuat dari campuran perak dan emas murni, pedang ini berada di tingkat legenda. Nona bisa lihat pada ukiran yang ada di sarung pedang itu? itu bukanlah sembarang ukiran nona. Jika nona tertarik untuk membelinya, saya akan memberi harga 10 perak"


"terlihat seperti pedang biasa, aku akan mengambilnya"


.


.


.


.


.


.


Setelah membeli pedang dan topeng itu, Yuan Li pergi ke sebuah kedai untuk makan. Yuan Li menghabiskan 50 keping emas untuk membeli kedua benda itu.


"*nona ini terlalu banyak, total semuanya hanya 25 koin perak"


"tidak masalah, karena seharusnya pedang ini juga mahal*"

__ADS_1


Yuan Li menikmati makan siangnya dengan damai. Sampai suara bising dari para gadis-gadis dan nona muda mengganggu pendengarannya.


"lihatlah itu adalah tuan muda kelima dari klan Zhu, dia sangat tampan"


"ah kau benar, Tuan muda Aling Zhu memang tampan"


Yuan Li tampak tak peduli dengan kehadiran pemuda yang sangat dielu-elukan di dalam kedai itu. Ia masih menikmati makanannya sampai pemuda itu duduk di depannya.


"Apa!? kau ingin menggangguku?"


"hahaha, ternyata aku tidak salah mengira jika itu kau adik manis"


"berhenti mengusak rambutku, kau membuatnya berantakan" Perkataan Yuan Li membuat Aling Zhu terkekeh. Sedangkan Yuan Li saat ini sudah merasakan bulu kuduknya berdiri karena para gadis yang menatapnya tajam.


"jadi, apa yang kau lakukan disini?" tanya Aling Zhu sembari memulai acara makannya.


"guru kembali ke sekte dan aku bosan sendirian di sana. Aku juga tidak mungkin kembali kekaisaran Xi ataupun Kekaisaran Xue, jadi aku kemari" jawab Yuan Li.


"benarkah? kau tidak kemari karena merindukanku bukan?"


"untuk apa aku merindukanmu?"


"kau kejam adik. Hatiku sakit saat kau berkata seperti itu padaku"


"baiklah maafkan aku"


Yuan Li berbincang banyak hal dengan Aling Zhu sembari menunggu pemuda itu selesai dengan makanannya. Ia tidak memperdulikan tatapan mengintimidasi yang diarahkan padanya. Yuan Li menunggu Aling Zhu karena setelah ini ia akan ikut dengan Aling Zhu memenuhi tugas dari ayahnya.


Sebenarnya ia hanya bingung harus melakukan apa sembari menunggu informasi dari kakaknya tentang Aliansi Kalajengking Merah.


"*siapa gadis yang berani mendekati tuan muda Aling Zhu itu"


"ck! hanya gadis kecil saja berani-beraninya mendekati tuan muda"


"aku tak mengenal dan tak pernah melihat gadis itu, siapa dia*"


Yuan Li yang sudah tak tahan dengan bisikan-bisikan itu mengajak Aling Zhu untuk segera pergi meninggalkan kedai.


Aling Zhu mengangguk, kemudian pergi bersama dengan Yuan Li setelah meletakkan dua koin emas di atas meja.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2