
" bagaimana ini, apa yang harus kulakukan. tongkat besi ini tidak akan cukup untuk melawan mereka." sejak 10 menit terakhir dia dikejar-kejar oleh robot polisi yang berusaha menangkapnya. dia sudah mencoba berbagai cara. mulai dari lari ke gang-gang sempit sampai mengecoh mereka di persimpangan. namun itu semua sia-sia karena robot-robot itu lebih tau denah kota itu daripadanya.
Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan agar bisa melarikan diri dari para robot ini. dia tidak mau ditangkap, dia tidak mau mati. tidak sekarang.
" ciu,ciu,ciu." " apa!, dia bisa menembakkan laser!?. oh tida...k."
satu tembakan dua tembakan memanglah mundah untuk ia hindari. namun tepat pada saat tembakan ke tujuh dia tidak dapat mengelakkan serangan. alhasil, tembakkan itutepat mengenai punggungnya.
" aduh!." dia mengerang dan berusaha berdiri. namun terlambat!. semua robot yang mengejarnya telah mengepungnya dengan membentuk lingkaran di sekelilingnya.
Ia pasrah. dia tau mungkin ini adalah akhir dari hidupnya. akhir yang konyol menurutnya. tapi tiba-tiba ia melihat sebuah peluang. senjata di robot itu tidak permanen. laser tadi bukan berasal dari tangannya namun dari senjatanya. ia pun berusaha memikirkan rencananya matang-matang.
" baiklah. aku menyerah." katanya dengan lantang.
" subjek telah menyerah. ulangi, subjek telah menyerah. menunggu perintah dari markas pusat."
" tangkap dan bawa dia ke penjara. untuk pengeksekusian."
" baiklah."
__ADS_1
Altan menaruh tangannya di belakang kepalanya sebagai tanda menyerah. namun ia tidak sebodoh itu. saat ada satu robot yang ingin memborgol tangannya. ia dengan gesit langsung memutar badannya dan mengambil pistol laser milik polisi tadi. dan melompat ke belakang badan robot polisi tersebut.
" subjek menyerang, subjek menyerang, habisi dia."
" hehehe. kau takkan bisa menghabisiku semudah itu!."
Baku tembak pun terjadi dan anehnya Altan tidak perlu mengeluarkan satu peluru pun. karena dia cukup mengaktifkan perisai pada robot yang ia naiki. sedangkan robot itu berusaha untuk menangkapnya. dan Yap!. sesuai rencana yang ia mau. ia hanya perlu menunggu semua robot yang menembakinya mati. dan barulah ia akan menghancurkan robot yang ia naiki.
" bdua..r, blaaar."
" huh untung saja aku jenius."
Dia pikir masalahnya telah selesai semudah itu. namun dia salah. begitu ia memasuki tendanya. di dapatinya kakeknya telah menunggu kepulangannya. dengan muka yang menunjukkan rasa marah yang luar biasa
" aku pulang. hehehe, mm.. aku bisa jelaskan."
" plak!." dia sudah tau kakek akan melakukan itu padanya dan ia sudah siap diomeli dan di kurung seharian. namun yang terjadi malah sebaliknya. setelah menampar cucunya, sang kakek malah menangis dan memeluknya.
" anak bodoh, untung saja kau selamat nak."
__ADS_1
" ka..ke..k." " bagaimana kau bisa keluar dari sana hah!. kau tau apa yang akan aku rasakan jika kau tidak berhasil kembali." masih tersimpan rasa emosi dalam nada bicaranya. namun lebih banyak rasa seperti penyesalan yang mendalam telah membiarkan Altan pergi ke kota itu.
" aku, aku..." " apakah kau bertemu dengannya?. apakah kau bertemu dengan robot-robot itu?."
" ya, aku bertemu dengannya." " lalu apa yang terjadi. apakah dia menangkapmu, mengejarmu.." kakek langsung menyela setiap Altan ingin bicara mengenai pengalamannya barusan.
" kakek!. biarkan aku bicara sebentar."
" ok,ok, maafkan kakek, kakek hanya.."
" Tee....Ng. Tee...Ng." mereka sangat tahu persis itu bunyi apa. itu adalah bunyi bel yang menandai kalau ada bahaya yang akan datang.
tiba tiba mereka mendengar suara ricuh dari perkampungan mereka.
" robot!. mereka ada disini!. cepat persiapkan barang-barang kalian dan segera meninggalkan tempat ini!." kata orang yang baru saja membunyikan lonceng tadi.
"robot?!." kakek langsung membalikkan badanku dan mendapati pelacak di baju robot milikku.
" bocah sialan!."
__ADS_1