
" bagaimana kau bisa menemukanku di tengah Padang rumput begini?."
" mudah saja." kata X sembari menunjuk ke pakaian Altan dan mengangkat alat yang dipegangnya.
" aku melacakmu."
" kalau begitu, kau pasti tau jalan kembali ke kapalmu kan?."
" nah, itu dia!. aku lupa memasang yang satu lagi di kapalku." katanya sambil tersenyum sangat lebar sampai memperlihatkan giginya.
" lalu apa yang akan kita lakukan?."
" apa lagi." " bertahan sampai matahari terbit."
" apa kau gila!. kita akan terbunuh oleh tanaman tanaman ini.!"
" dengar, ini semua terjadi karenamu. jadi-"
perkataannya berhenti sebentar. raut wajahnya seperti sedang mengumpulkan amarah untuk mengeluarkan seluruhnya ke Altan.
" jadi berhentilah mengeluh!." dia tidak berteriak, namun perkataannya dingin dan menusuk sampai cukup untuk membuat Altan diam seribu bahasa.
" ini, ambillah pakai ini dan simpan pistolmu itu." X memberikan sebilah pedang yang tidak terlalu panjang kepadanya. "aku tau kau belum bisa memakai senjata itu."
"potong rumput yang berusaha menggapai kakimu saja. untuk menghemat tenaga." Altan mengangguk. iya paham.
Semakin malam rumput itu semakin ganas mereka mulai mencoba untuk menangkap kaki mereka berdua. namun untuk sementara Altan dan X membuat kerjasama yang sabar baik. mereka saling melindungi. itu membuat rerumputan masih harus mengulur waktu lebih lama lagi.
30 menit berlalu stamina mereka mulai memudar namun mereka masih setangguh 30 menit yang lalu. keringat mulai bercucuran. rerumputan mulai beringas merangsek maju. namun tetap terputus oleh tebasan tebasan pedang mereka berdua.
" kita tidak akan bertahan satu jam lebih lama lagi." kata Altan. " aku setuju denganmu. kita harus mulai bergerak. kita tidak boleh diam ditempat saja." Altan mengangguk sebagai jawaban.
mereka mulai bergerak sedikit demi sedikit. mereka berjalan tanpa tau kemana arah yang mereka tuju. X mengambil sesuatu dari tas selempangnya dan melemparkan sebotol air ke Altan.
" minumlah. tapi jangan langsung kau habiskan. aku hanya membawa dua."
" kenapa kau tidak mengeluarkannya dari tadi."
" aku tidak ingin kita hanya bertahan satu jam. jadi aku memutuskan memberimu setelah kau benar benar kelelahan."
Altan langsung membuka botolnya dan meminumnya. ia benar benar dehidrasi.
Satu jam telah berlalu sejak mereka mulai berjalan.
" estimasi waktu?." tanya Altan " sekitar satu jam lagi."
" kita tidak akan mungkin bertahan selama itu."
__ADS_1
" aku setuju. namun apakah kau punya ide yang lebih baik?."
" bagaimana kalau kita mencari kelemahan mereka."
" apa kau gila!. kau telah melihat seberapa buas rumput rumput ini. senjata apapun tidak akan mampu untuk mematahkan pergerakan mereka."
Altan memberikan secercah senyuman kepada X dan mengangkat senjata yang disangkutkannya di pinggangnya sedari tadi.
X memutar bola matanya. dia tau apa yang akan dilakukan Altan. namun itu bukanlah ide yang buruk.
Altan mulai membuka pengaman dan mengkokang senjata itu. lalu menembakkan peluru pertama yang terdapat sebuah harapan pada tembakannya bahwa itulah kelemahannya.
sayangnya harapannya langsung pupus melihat rumput yang tetap maju meski telah terkena tembakan senjata laser tersebut.
Raut wajah Altan pun berubah. kembali ke wajahnya sebelum menembak. ia kembali larut dalam kekecewaan dan kepasrahan bahwa hidupnya akan berakhir paling lambat 30 menit lagi. berbeda dengan temannya yang malah memercikkan senyuman.
" kenapa kau malah tersenyum?."
" kau memberiku ide." " maksudmu?."
" apakah kau tidak memperhatikan?." " apa?."
" rumput yang barusan kau tembak." Altan menoleh mengikuti ke arah yang ditunjuk oleh X. dia masih bingung apa bedanya. rumputnya masih merangsek maju dan tidak berhenti.
" dia masih saja hidup."
" jadi maksudmu?."
" tidakkah kau memperhatikan perubahan itu."
" langsung saja ke intinya." kata Altan yang mulai kesal karena tidak tau apa maksud dari perkataan temannya itu.
" pikirkanlah mengapa mereka menjadi pasif di siang hari."
"mm.... oh! aku paham!. cahaya!." X mengangguk sebagai jawabannya.
" tapi bagaimana kita membuat alat yang bisa mengeluarkan cahaya terang?."
" boleh kupinjam pistolmu bung?."
" nih." " em.. dan bisakah kau lindungi aku sebentar. sebenta...r saja."
Altan menghela nafas berat. " berapa lama?."
" paling cepat 5 menit." " ok."
X pun langsung terduduk dan melepaskan tas selempangnya dari pundaknya dan menaruhnya di tanah. dia mengogrok ogrok ke dalam mencari beberapa bahan yang ia perlukan untuk membuat alat yang bisa mengeluarkan cahaya terang. dia mengeluarkan obeng dan perkakas lainnya lalu memulai pekerjaannya.
__ADS_1
5 menit kemudian...
Satu tebasan melayang tepat di tempat kepala X tadinya berada. seandainya ia tidak reflek merunduk maka kepalanya lah yang menjadi taruhan.
" hey! hati hati dengan pedangmu!."
" cepatlah!. aku sudah tidak kuat lagi." " sabaaar. bertahanlah sebentar lagi."
...|\=|...
"sudah jadi!." " nih, tangkap!."
Altan menangkap benda yang dilemparkan X padanya. dia meratapi benda yang mirip seperti batangan besi bulat itu.
" bagaimana cara menggunakan benda ini?."
" ketukkan benda itu ke sesuatu yang keras."
Dia mengetukkan benda itu ke pahanya seperti orang yang sedang berusaha mematahkan tongkat besi di film film. dan usahanya ternyata membuahkan hasil!. benda itu menyala cukup terang untuk membuat rumput rumput itu tidak berani menerjang mereka.
Rumput rumput itu kembali mengeluarkan suara yang terdengar seperti suara desisan.
" kita hanya punya waktu dua puluh lima menit. kita harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin."
" ayo cepat, kita segera pergi dari ladang kematian ini."
Mereka setengah berlari melewati Padang rumput itu. mereka sudah aman-(setidaknya untuk sementara).
rencana X berjalan efektif sejauh ini. selama dua puluh menit kedepan mereka aman aman saja. tidak ada rerumputan yang berani mendekat. mereka akan bersedis setiap kali terkena cahaya. sampai akhirnya sebuah keanehan disadari oleh mereka berdua.
" hey bung. sepertinya mereka sudah lelah mengejar kita." kata Altan selagi berjalan.
" entahlah, tapi justru aku memiliki perasaan buruk mengenai ini." " ini tidak seharusnya terjadi. mereka harusnya selalu berusaha untuk menangkap kita."
Tepat setelah X menyelesaikan omongannya. terdengar suara raungan yang sangat keras. saking kerasnya, tanah yang mereka injak sampai bergetar seperti ada gempa bumi.
" roaa.....r!!." " bunyi apa itu!!?."
" aku terkadang benci pemikiranku selalu benar." gumam X
Dari jauh mereka melihat siluet bayangan hitam besar dengan tangan yang tak kalah besar. tapi anehnya makhluk itu tidak memiliki kaki. dia berjalan seperti menyeret permukaan rumput dibawahnya.
" makhluk apa itu?." " aku tidak tau makhluk macam apa itu. yang aku tau pasti yang seharusnya kita lakukan sekarang adalah-"
" lari!!."
Mereka berusaha berlari dengan sisa sisa tenaga yang mereka punya. namun sepertinya makhluk yang mengejar mereka jauh lebih cepat dari yang mereka duga. siluet bayangannya semakin besar. sampai mereka bisa melihat bentuknya sekarang. itu bukanlah makhluk biasa. itu adalah rumput-rumput yang membentuk suatu monster.
__ADS_1