
Karena kakek adalah kepala kelompok. dia memiliki tanggung jawab yang paling besar untuk memastikan bahwa anggotanya dapat pergi dengan selamat menuju tempat pengungsian sementara.
" Clark!. pastikan para anggota pergi dengan selamat!." teriak kakek kepada orang yang merupakan seksi keamanannya.
Altan yang merasa bersalah ingin ikut serta membantu kakeknya menahan serangan robot itu selagi para anggota melarikan diri. tapi kakeknya menahannya. dia menyuruh Altan untuk pergi dari tempat itu. namun ia menolak mentah-mentah perintah kakeknya itu.
" pergi sana bocah!. atau kau bisa terbunuh disini!." " tidak kakek!. aku yang membuatnya datang kesini maka aku juga harus yang mengusirnya pergi dari sini." sepintas senyuman terlihat di raut wajah sang kakek namun itu berubah seketika ketika terdengar suara ledakan di depan yang merupakan tempat anak buahnya menaruh perangkap.
" mereka data...Ng!, mereka datang!." teriak salah satu pengintai yang berada di garis terdepan.
" baiklah, apa kau siap bocah." " apa aku harus memperjelas lagi." timpal Altan.
" ingat! kita hanya mengulur waktu agar penduduk bisa selamat. kita tidak benar-benar ingin menghabisi mereka. karena itu tidak mungkin." Altan mengangguk sebagai jawabannya.
Altan sudah mempersiapkan pistol untuk membidik robot robot itu namun kakek menahannya.
" simpanlah pelurumu. ini bukanlah terakhir kalinya mereka akan menyerang. untuk sekarang kita andalkan dulu jebakan yang telah kita buat."
Beberapa robot mulai merangsek maju. namun langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba tanah yang mereka injak bolong membentuk jurang tak berdasar.
Namun itu tidak membuat yang lain mundur. karna mereka robot. dan robot di desain hanya untuk menaati perintah. mereka mulai kewalahan menghadapi robot-robot itu. namun tugas mereka selesai. para anggota telah berhasil melarikan diri tinggal mereka yang bertahan melawan robot yang tersisa di kelompok itu.
" ayo!, kita mundur!." teriak kakek dengan lantang. walaupun tubuhnya terlihat ringkih tapi kakek memiliki kekuatan fisik yang masih tangguh.
mereka pun pergi melarikan diri dengan cara berpencar agar mereka bisa menghindari tembakan dengan mudah. meskipun pada akhirnya mereka akan bertemu di satu titik yang sudah ditentukan sejak mereka menetap di tempat yang lama.
Altan mengambil jalan yang lumayan jauh yaittu melewati Padang rumput ilalang setinggi tiang listrik. dia sudah pernah melewati jalan ini sewaktu ia masih berumur sekitar 7 tahun. namun sekarang ia sudah 18 tahun. sudah sebelas tahun lamanya dia tidak melewati Padang rumput ini. dia takut kalau kalau dia salah ambil jalur sedikit saja dia akan tersesat entah kemana.
Tapi apa yang ditakutinya ternyata menjadi kenyataan. dia kira dia akan menemukan api unggun kelompoknya namun yang dia temukan bertolak belakang dengan apa yang iya harapkan. dia malah menemukan hutan belantara dengan pohon setinggi gedung di kota yang baru saja ia datangi
" dimana aku?, hadu..h. kenapa aku malah nyasar ke sini sih."
" hari juga mulai gelap. melanjutkan perjalanan adalah hal bodoh. tapi masuk ke dalam hutan ini merupakan hal yang lebih bodoh."
" kru..k." " coba sajalah siapa tau aku akan menemukan beberapa buah untuk dimakan."
__ADS_1
Altan memberanikan diri untuk memasuki hutan belantara dalam keadaan lapar dan matahari yang mulai tenggelam.
" semoga saja tidak ada hewan buas di sini." gumamnya untuk mengusir rasa takut. tapi tepat saat dia menutup mulutnya muncul suara semak semak bergerak dari arah kanannya.
" siapa itu!. keluar atau kutembak kau!." tapi suara itu dengan cepat berpindah ke sebelah kirinya. lalu di depannya. lalu di belakangnya. dan sekarang suara itu mengililinginya.
Akhirnya ia sadar bahwa bersamaan dengan bunyi itu ada asap hitam yang juga mengelilinginya. ia juga sadar bahwa asap itu mengandung racun. namun nasi telah menjadi bubur. ia sudah menghisap asap itu sebelum ia menyadarinya.
Memakan waktu yang cukup lama bagi racun itu untuk menaklukkan Altan. 5 menit merupakan waktu yang cepat baginya pada saat itu. setelah itu, tubuhnya mulai hilang kendali. kepalanya terasa di taruh beban yang sangat berat. dan tubuhnya mulai linglung tak terkendali. sampai akhirnya.
" bruk!." Altan pun kalah oleh racun itu setelah
pertarungan 5 menit yang tidak berasa.
" oh, akhirnya kau bangun juga." " si..siapa kau?."
" kau tidak perlu tau siapa aku. tepatnya belum."
" sekarang kau harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu." " sedang apa kau disini?. tempatmu seharusnya bukan disini."
" oh. jadi kau tidak sengaja menemukan hutan ini?." " ya."
" siapa namamu."
" kau biar memanggilku Altan. dan siapa namamu."
" hahaha. kau bisa memanggilku X."
" X?. ya,ya,ya terserah kau saja." wajah yang diselimuti topeng besi itu kembali tertawa.
" hahaha." " apakah kau lapar Altan?. aku memiliki beberapa persediaan di lambung kapalku."
" ya aku lapar.....kapal!. kau bilang kita sedang di kapal!." " wowowo. santai saja kawan tidak usah panik begitu."
" di, dimana pintu keluarnya. ba, bagaimana aku bisa kembali ke kelompokku."
__ADS_1
" mau hanya perlu lurus dari sini lalu belok kanan dan kau akan menemukan pintu keluar dari sini." " kusarankan kau jangan mendobrak pintu keluar itu atau akan terjadi sesuatu padamu." kata makhluk di balik topeng besi itu dengan santai. sambil pergi meninggalkan Altan untuk mengambil segelas air.
Altan yang panik berusaha secepat mungkin untuk pergi dari kapal ini sebelum iya semakin jauh dari daratan pikirnya.
Dia sudah melewati belokan itu dan dapat melihat dengan jelas pintu keluar yang terbuat dari kayu itu. tapi dia lupa dengan nasehat X. jadi dia langsung menorobos pintu itu sekuat kuatnya sampai pintu itu patah karenanya. namun yang didapatinya bukanlah laut melainkan pohon tinggi tempat kapal itu berada dan tanah tempat ia akan jatuh sebentar lagi.
" aaaaah!!." teriaknya sekeras mungkin.dia tidak dapat melihat pijakan atau pegangan tempat kakinya akan berpijak atau bergelayutan.
Sungguh keberuntungan baginya ada tanaman rambat yang menahan kakinya sehingga ia tertahan jatuh ke tanah yang tinggal beberapa meter dari kepalanya.
" hahaha. hahaha!. kau lucu sekali Altan, sungguh, kau harus melihat ekspresi mu tadi ketika jatuh. hahaha!." X menertawainya sampai terpingkal-pingkal mengingat dia berhasil mengerjai Altan.
" keterlaluan. turunkan aku X." " kau sudah membohongiku kau akan tau akibatnya." gertak Altan. namun sepertinya gertakan itu tidak berguna bagi X.
" aku tidak membohongimu bung."
" tapi kau bilang kita sedang di kapal."
" memang benar!. kau bisa melihatnya melalui kakimu." dia benar. ada kapal yang sangat besar menggelantung di antara tanaman rambat di atas sana.
" kau saja yang tidak dengar peringatanku. hahahaha!."
" cepat lepaskan aku X."
" ok, ok untung saja tanaman rambat itu masih berfungsi dengan baik. kupikir tanaman rambat itu telah tiada." " baiklah kita tinggal memotongnya kakimu akan terlepas dan kau akan mencium tanah."
" eh eh eh tunggu dulu.." " srak!. gedebug!."
" kau yang meminta." katanya dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" tidak bisakah kau mendengarkan orang terlebih dahulu." " mm... mungkin tidak."
Altan menggerutu dengan suara yang lumayan keras. dia masih kesal dengan X yang mengerjainya pagi ini. tapi X malah memasang raut wajah yang seperti menahan tawa melihat wajah Altan.
" Ayo cepat!, aku tau kau pasti lapar."
__ADS_1