Resistance: The Beginning

Resistance: The Beginning
Bab 6 ( ladang kematian )


__ADS_3

" hei Altan, kau mau makan apa?."


" terserah kau saja."


" baiklah."


X pergi ke meja makan hanya dengan membawa satu piring yang spontan membuat Altan tak tahan ingin bertanya.


" mana punyaku X." " kau bilang terserah. dan aku tidak tau apa seleramu, jadi tidak aku ambilkan apa apa."


" kalau kau mau kau ambil saja sendiri sana."


Dengan menghela nafas berat Altan pun berdiri dan berjalan menuju lambung penyimpanan makanan yang berada tak jau dari tempat ia duduk tadi.


" yang mana lemarinya!?." " an an,n."


"apa!?." X menelan makanannya untuk memperjelas apa yang sedang ia bicarakan.


" yang mana X!?." " yang kanan!." Dia tidak menyangka bahwa teman barunya itu memiliki persediaan makanan segudang- benar benar segudang-.


" aku boleh ambil yang mana nih?." " terserah kau saja. sesukamu."


X melongo melihat Altan kembali dari gudang makanannya dengan piring yang sangat penuh dengan berbagai macam makanan di dalamnya.


" kenapa?, kenapa kau melihatku seperti itu?, apa ada yang salah?." tanya Altan yang mulai risih dengan tatapan X kepadanya.


" baru kali ini aku melihat siapapun makan sebanyak ini. kenapa kau tidak bawa saja gudang ku kesini sekalian." tanggapan X dibalas senyuman lebar oleh Altan.


Setelah selesai makan X mengajaknya berkeliling kapalnya. dia berperan layaknya pemandu wisata yang sedang memperkenalkan objek wisatanya kepada turis yang masih awam. Altan pun hanya mengangguk angguk mendengar penjelasan X. dia sangat penasaran dengan kapal itu. karena itu pertama kalinya dia melihat dan masuk ke dalam benda yang namanya "kapal".


" omong-omong sudah berapa lama kau tinggal di sini X?."


" seumur hidupku." " apa kau tidak bosan dan ingin pindah ke tempat lain?."


" mm... tidak. ini adalah tempatku. aku nyaman disini."

__ADS_1


Setelah berkeliling kapal. Altan meminta izin untuk pamit menemui kelompoknya.


" kau tidak bisa, tepatnya belum bisa."


" tapi kenapa?."


X mengisyaratkan Altan untuk mengikutinya. ia pun mengikuti X karena dia ingin tahu kenapa X melarangnya untuk pergi.


Ternyata X membawanya ke area geladak kapal dimana ia bisa melihat hampir ke seluruh arah dari sini.


" tuh, disana, apakah kau melihatnya?." tanya X sembari menunjuk ke arah sesuatu yang berwarna kuning.


" apa itu?." " itu adalah jalanmu kemari, Padang ilalang."


" terus, apa yang membuatmu melarangku untuk pergi kesana."


" dari sini kesana kira kira akan memakan waktu 1 jam. sedangkan sekarang sudah hampir sore." " kau akan terperangkap disana semalaman."


" disana tidak ada hewan buas bukan?."


" apa maksudmu' berpindah tempat'".


" ya, maksudku mereka benar benar bisa hidup di malam hari. mereka bisa mengikat kakimu dan menghapus jejak mu. tidak akan ada yang tau kau pernah melewati jalan itu."


" rumput hidup, hahaha!. kau membuatku tertawa."


" terserah kau saja. tapi kusarankan kau lebih baik menginap di kapalku dulu."


" baiklah!, aku akan menginap di rumahmu. dan saat malam aku akan ke geladak untuk melihat omong kosongmu."


" ya,ya,ya." balas X tidak peduli.


Malam pun telah tiba. Altan tidak percaya dengan apa yang dikatakan teman barunya itu. sehingga ia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan temannya hanyalah omong kosong.


" hahaha!. apa!?, rumput hidup. haduuh, aku tidak habis pikir bagaimana rupa rumput itu."

__ADS_1


Altan memandangi Padang rumput itu dengan senyuman yang hampir tertawa. dia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan teman barunya ini hanyalah omong kosong. dia tidak akan percaya sampai ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


" disini tidak ada makhluk hidup, bagaimana aku bisa melihat kalau rumput itu hidup jika aku tidak menghampirinya." gumamnya


Karena penasaran sekaligus tidak percaya. Altan pun mulai berjalan menuju ke arah ilalang itu dengan mengendap endap. sebagaimana ia melakukannya saat ingin ke kota dulu.


1 jam telah ia lalui dengan tidak sabaran. dia berusaha melawan hasratnya untuk berlari. karena iya akan kelelahan untuk melihat dan merasakan bahwa rumput itu hidup.


" ok, jadi ini dia. Padang ilalang." Altan masuk ke dalam Padang itu beberapa langkah. ia takut lupa jalan pulang karena terhalang tingginya ilalang itu.


" lihat. tidak ada apa apa disini. tidak ada yang namanya rumput hidup. bahkan jejak ku saja tidak tertutup kembali." tepat saat dia memutuskan untuk masuk lebih dalam. ia seperti mendengar suara berbisik bisik. dari ilalang ilalang disekitarnya. ia mencoba menemukan sumber suara itu. ia mengikuti kemana suara itu membawanya. sampai saat sudah terasa berhadap hadapan dengan sumber suara itu. ia membelah ilalang dengan tangannya untuk mengetahui siapa di balik suara berbisik itu.


Namun anehnya ia tidak menemukan siapa siapa dibalik ilalang itu. sampai ia menyadari bahwa dia telah masuk terlalu jauh ke dalam Padang tersebut. dan apa yang dikatakan X terjadi. dia tidak bisa menemukan dari arah mana ia barusan berjalan. semuanya terasa seperti tidak pernah dilewati sedikitpun.


" oh tidak. ini pasti hanya mimpi. tidak tidak tidak." ia berharap bahwa itu semua hanya mimpi. namun itu hanyalah harapan yang bodoh untuk diharapkan dalam keadaan seperti ini.


Perlahan ia bisa mendengar suara berbisik itu lagi. dan saat ia menoleh ke arah tersebut. dilihatnya ilalang itu mulai merambat di tanah, mencoba menggapai pergelangan kakinya.


Untuk sementara waktu ia dapat menangani rumput itu. namun lama kelamaan staminanya kian memudar. ia mulai lelah, dan tanaman itu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengikat satu sama lain yang ditujukan untuk membuat Altan terjatuh.


" huh,huh, bagaimana caraku melawan mereka." gumamnya sambil terengah-engah. tanpa ia sadari ia telah menyandung sesuatu yang tidak lain adalah perangkap yang telah dibuat oleh tanaman tadi. sehingga membuatnya terjungkal ke tanah.


"bruk!." tanaman itu memanfaatkan kesempatan itu untuk melilit kakinya.


"tolooong!!,tolooong!!." teriaknya. namun teriakannya dibalas dengan sunyinya malam.


ia sudah pasrah. meronta-ronta juga percuma.tanaman itu mulai melilit penuh kakinya. dan mulai naik ke pinggulnya. tapi anehnya, tanaman tanaman itu berhenti seketika seperti sedang memperhatikan predator yang akan menghabisinya. Altan juga bingung dengan tingkah laku tanaman tersebut yang tiba-tiba berubah. sampai akhirnya ia berusaha untuk melihat apa yang membuat tanaman ini tercengang.


cahaya. itu adalah hal pertama yang ia dapati ketika menoleh. ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang membawanya. dan bagaimana ia membawanya. yang ia tau pasti satu hal, ia mengenal siapa yang membawa cahaya tersebut.


" apa kau tidak apa-apa bung?." katanya seraya memeriksa anggota tubuh Altan dengan sekilas.


" bagaimana kau bisa tau aku disini?."


" kita akan membahas ini nanti. sekarang ayo kita keluar dari ladang terkutuk ini."

__ADS_1


__ADS_2