Resistance: The Beginning

Resistance: The Beginning
Bab 8 ( akhirnya )


__ADS_3

Monster rumput semakin mendekat. wujudnya sudah bukan merupakan siluet bayangan lagi. Altan menoleh ke arah X yang berlari di sebelahnya. X menoleh dan menggelengkan kepalanya seraya memasang wajah seperti "maaf, tapi aku kehabisan ide." Altan paham. ia tidak bisa menyalahkan X karena tidak punya ide.


Kecepatan mereka menurun drastis setelah 10 menit berlari. X mulai oleng sempoyongan. dan dia tersandung batu yang membuatnya terjerembab ke tanah dengan wajah yang terlebih dahulu mencium tanah.


Monster itu sudah sangat dekat. sampai sampai tangannya hampir bisa menggapai mereka berdua. Altan sekarang hanya bisa memilih salah satu diantara dua pilihan. menyelamatkan dirinya atau berusaha menolong temannya.


Tapi ia tidak akan mungkin meninggalkan temannya yang sudah menyelamatkan hidupnya walau baru sekali.


"ayo! cepat bangun. ayo X kau pasti bisa!."


"Tinggalkan saja aku. aku sudah tidak kuat berlari lagi."


"tidak!. aku tidak akan meninggalkanmu. kau telah menyelamatkan nyawaku. jika kita mati disini, setidaknya kita tidak meninggalkan satu sama lain."


"terima kasih bung." X mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia termotivasi dengan kata kata yang baru dilontarkan Altan kepadanya. dan ia tidak ingin mengecewakan temannya.


Altan segera membungkukkan badan agar ia bisa menggendong temannya. namun X menolak sembari melontarkan senyuman meledek.


"aku tidak selemah itu. kau bopong saja aku. tidak usah digendong."


Namun Altan manghiraukan perkataannya. ia langsung memundurkan badan dan mengangkat kaki X setara dengan pinggulnya.


"pegangan!."


Altan berusaha berlari secepat mungkin. namun apa daya, monster itu telah meraung begitu kencang dan melepaskan tamparan keras yang mengenainya telak.


"aaah!!."


Mereka ambruk ke tanah. X terlepas dari gendongannya Altan. dan Altan masih merintih kesakitan sambil berusaha untuk berdiri semampunya.


Serangan kedua datang. namun serangan itu terlalu tinggi sehingga Altan hanya perlu untuk menundukkan kepalanya agar terhindar dari serangan kedua.


Serangan dilanjutkan untuk yang ketiga kalinya. kali ini serangan itu bermodel seperti yang pertama yaitu menyapu area di depannya seperti membentuk pola kipas. Altan kembali terpental ke tanah karena terkena serangan tersebut. sedangkan X sudah pingsan sejak serangan pertama.

__ADS_1


"hah, hah, hah." " ayolah Altan bertahanlah sedikit lagi. jangan mati dulu." gumamnya pada dirinya sendiri.


Monster itu tidak memiliki belas kasihan. ia langsung melontarkan serangan keempat yang memberikan serangan dari atas ke bawah. jika serangan ini mengenainya habislah sudah.


" aku tidak akan mati, aku.. tida..k aka..n matiii!!." teriaknya sambil menarik pedang yang tersarung di punggungnya.


Tepat saat tangan raksasa itu datang. ia menebaskan pedangnya secara horizontal ke arah tangan itu. zraaash tangan itu terbelah menjadi dua bagian.


tapi monster itu adalah Monster rumput. dan ia berada di daerahnya. dengan mudah monster itu menyatukan kembali tangannya yang baru saja terbelah.


Altan sudah terlalu lelah. ia langsung ambruk setelah mengibaskan satu serangannya tadi.ia meratapi tangan monster yang berusaha membuatnya menjadi keripik dalam satu serangan.


Keajaiban. itulah yang sedang diharapkannya. Dan sepertinya keajaiban itu datang di saat yang tepat. dimana telapak tangan raksasa hampir menyentuh seluruh tubuhnya.


Tangan itu tiba tiba berhenti. dan raungan tadi juga sama hilangnya dengan gelapnya malam. Monster itu beku seperti ada yang menikamnya dari belakang. Altan melihat ke belakang mahluk itu dan ia tau apa penyebabnya.


Matahari telah muncul. itulah yang menyebabkan berhentinya pergerakan Monster rumput itu. seketika rumput yang saling balut membalut menjadi monster itu rubuh menimpa Altan.


Dengan segera ia menghampiri X yang masih pingsan sedari tadi.


"hey, hey, bangun." "ayolah. aku tau kau mendengarkanku."


"huh, menyevalkan."


Mau tidak mau Altan menggendong X melewati Padang rumput itu.


Mentari bersinar terang menyinari pagi. membuat embun sejuk yang mendinginkan hari. Altan telah berjalan kira kira 5 menit sampai dia melihat siluet moncong kapal yang seperti terbang dari balik embun.


"akhirnya sampai juga." Ia menaruh X di kasur tempat X menaruhnya saat pingsan.


......|-|......


"mm... mm... pergilah!!. menjauh dariku. tidaa...k!!." X akhirnya membuka matanya setelah sekian lama terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


" oh, akhirnya kau bangun juga."


"di.. dimana aku?." "hey, apakah kau lupa dengan kapal pohonmu sendiri."


"kapal pohonku?. oh syukurlah.." katanya sembari menghela nafas lega. namun raut wajahnya seketika berubah menjadi kebingungan.


"apa yang terjadi dengan monster itu?. bagaimana kita bisa selamat?. dan bagaimana-"


"wo.. wo... santai bung. jangan langsung melontarkan seribu pertanyaan begitu."


"hehehe maaf." " baiklah aku akan menjawab pertanyaan pertamamu dulu. apa yang terjadi dengan monster itu."


"Monster itu hancur kembali menjadi rumput rumput mati."


"dan yang kedua. bagaimana kita bisa selamat."


"kita beruntung kita berhasil bertahan sampai matahari terbit. kalau tidak kita akan menjadi tulang belulang yang berserakan di Padang itu." X mengangguk-angguk mencoba mencerna penjelasan Altan dengan baik.


"apa kau sudah selesai bertanya?."


"ya mungkin cukup untuk sementara."


"kalau begitu izinkan aku bertanya beberapa hal padamu." "silahkan."


Altan mengambil posisi duduk yang lebih nyaman karena ia tau jawaban yang ia dapat seharusnya bukanlah jawaban yang dapat dijawab dengan sepatah dua patah kata.


"sebenarnya.. ada berapa banyak makhluk yang masih hidup setelah pembantaian itu."


"jika kau bertanya tentang makhluk yang tinggal di planet ini mungkin hanya tinggal beberapa kelompok seperti kelompokmu. namun jika kau bertanya tentang yang ada di dunia ini. entahlah bung. mungkin ada milyaran."


" ja.. jadi maksudmu ada makhluk lain di luar angkasa sana."


"ya."

__ADS_1


__ADS_2