
kemenangan lagi yang Forst bawa dari medan perang.namun berbeda dengan sebelumnya,banyak bidak Forst yang mati di medan perang oleh taktik yang di gunakan pangeran Albert hingga hanya tersisa delapan orang yang Forst bawa langsung dari perang pertama.
saat kepulangan Forst ke kota bursta,banyak mata yang tertuju kearah Forst dengan tatapan penuh kebencian.namun seperti biasa Forst tak menghiraukan kebencian para warga terhadap Forst.
"sepertinya tuanmu sangat di benci di kota ini.ah bagaimana tidak di benci,hampir seluruh lelaki dewasa sepanjang jalan aku tak melihatnya"
"sebaiknya kau diam saja,walaupun yang mulia tanku memerintahkan untuk tak membunuh mu,aku bisa saja membawa mu mati bersamaku" ucap Abigel kesal.
"hahaha,toh aku akan tetap mati kan?jadi tak ada beda nya mati bersamamu atau mati di bawah tangan tuanmu" balas pangeran Albert tertawa.
"abigel,bawa pangeran itu ke penjara bawah tanah" perintah Forst yang melangkah masuk menuju mansion nya.
"baik yang mulia tuanku"
"yang mulia tuanku!" tiba tiba seorang monster beruang setengah manusia berlari mendekati Forst.
..."hmmm" "Rafiel,apa kau tahu konsekuensinya karena telah menghentikan ku?" ucap Forst mengeluarkan aura membunuhnya....
"hamba akan menerima hukuman apapun untuk dosa yang telah saya lakukan,tapi yang mulia tuanku,boleh kah hamba meminta sesuatu untuk orang yang telah bertarung bersama yang mulia tuanku di medan perang ini?" ucap monster itu bersujud
"Rafiel lancang pun ada batasannya" ucap Abigel dengan aura membunuh
"hmmm" "apa yang kau minta?"
"apakah hamba diizinankan untuk menyiksa ras kotor itu yang mulia tuanku?banyak teman seperjuangan hamba mati karena cara berperang ras kotor itu" ucap Rafiel menatap tajam ke arah pangeran Albert.
"lakukan sesukamu" ucap Forst memasuki mansionnya.
..."tapi ingat,jangan membunuhnya.bila kau membunuhnya,selanjutnya yang akan mati adalah suku mu" ucap Forst dengan tatapan membunuh....
"terima kasih banyak yang mulia tuanku" ucap Rafiel kembali bersujud.
setelah mendengar keluhan dari Rafiel,Forst menuju ke ruangannya untuk beristirahat.rasa lelah dan bahagia saling menyatu karena ia semakin dekat dengan apa yang ia ingin tuju.
"tok tok tok" tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu.
"permisi yang mulia tuanku,saya milia membawakan makanan untuk anda" jawab milia di balik pintu luar.
"hmmm masuklah"
"maaf karena telah mengganggu waktu istirahat anda,yang mulia tuanku" ucap milia yang sedang membawa nampan di tangannya.
"aku sedang tak bernafsu untuk makan,jadi simpanlah di meja sana" balas Forst melirik ke arah meja kosong sebelah kursinya.
"baik yang mulia tuanku"
"apa kau juga mau secangkir teh?" tanya milia
__ADS_1
"aku ingin beristirahat,jadi keluarlah"
"t-tapi..."
Forst mulai menyadari dari maksud yang membawa milia datang ke ruangannya.
"bawakan aku secangkir teh"
"ah...baiklah yang mulia tuanku" balas milia tersenyum
setelah menunggu beberapa menit,milia datang dengan membawa nampan yang berisikan cemilan dan juga secangkir teh.
"kenapa kau tetap berdiri?"
"itu...."
"duduklah" ucap Forst melihat kearah kursi di depannya
"tapi..."
"ini perintah"
"baiklah yang mulia tuanku" milia pun langsung duduk di kursi seperti yang Forst suruh.
milia terus memandangi wajah Forst yang sedang meminum tehnya,rambut putih yang panjang,mata merah yang begitu mengintimidasi,menurut pandangan milia ia layaknya seorang pangeran yang milia damba dambakan.dalam pikirnya kenapa orang yang terlihat sangat sempurna itu bisa membunuh orang lain seperti tak terjadi apapun.
"apa kau sudah puas memandangi wajahku,milia?"
"baiklah baiklah aku mengerti,tak perlu di lanjutkan"
"tapi aku sungguh merasa wajah yang mulia tuanku sempurna kok" ucap milia berdiri dari duduknya
"baiklah baiklah aku mengerti,jadi cepat duduklah" ucap Forst sedikit kesal.
walaupun ia kesal,ia tak tahu kenapa Forst tak bisa memarahi atau menyuruh milia untuk menghukum dirinya sendiri.
"jadi...kau menungguku pulang dari medan perang untuk menanyakan penyucian dunia,benar?" ucap Forst yang sedang memegang cangkir teh nya
"seperti itulah,yang mulia tuanku"
"apa kau tahu dunia ini sudah sangat busuk?"
"tentu saja yang mulia tuanku"
"busuk,sangat busuk!ribuan tahun berlalu peperangan antara tiga ras tak pernah berhenti.ras manusia,ras yang selalu menyalahkan kesalahan apapun kepada ras iblis dan melakukan apapun yang mereka suka atas nama 'tuhan' mereka,termasuk memperbudak ras setengah manusia"
"ras setengah manusia,ras yang berpura pura baik menjunjung keadilan.namun di balik semua itu mereka memburu monster yang tak pernah menyentuh wilayah kerajaan setengah manusia layaknya monster tak pantas hidup di dunia ini"
__ADS_1
"t-tapi tidak semua ras setengah manusa memburu monster kan"
"maka saat 'beberapa' monster membunuh banyak bayi dan juga wanita tak bersalah juga itu tak masalah" tanya Forst dengan wajah dinginnya
"itu..." Milia kebingungan menjawabnya,karena semua yang dikatakan Forst memang benar adanya.
"selanjutnya ras iblis,ras yang selalu meperkeruh keadaan.ras yang merasa diri mereka paling tinggi,ras manusia dan ras setengah hewan,wanita atau laki laki,tua atau muda,mereka di perlakukan layaknya sebuah mainan.maka dari itu,dunia ini perlu untuk di daur ulang"
"akan ku binasakan seluruh ras manusia,ras setengah manusia,ras iblis.akan ku ciptakan dunia tanpa perang.untuk mewujudkan itu,aku memerlukan ketiadaannya alat perang,yaitu lelaki.setelah para lelaki dewasa binasa dan anak anak mulai tumbuh dewasa untuk meciptakan peradaban baru dan aku akan mengawasinya sampai generasi baru itu mencapai ketiadaan perang"
"bukankah saat yang mulia tuanku meyisakkan anak laki laki mereka akan membencimu dan mengincar nyawamu?lalu apa untungnya untukmu?" tanya Milia heran
"justru itulah yang aku tuju.buat peradaban baru membenciku semuanya dan melupakan permusuhan antar tiga ras,dan melampiaskan semua amarah mereka padaku,dan aku yakin,saat aku mati seluruh ras akan bergandengan tangan"
"lalu apa untungnya untuk yang mulia tuanku bila kau tak bisa melihat peradaban yang damai?"
"hmmm" "entahlah,mungkin keuntungan yang akan ku terima adalah kepuasan saat balas dendam" gumam Forst.
milia menatap serius kearah Forst,entah apa yang telah Forst lalui hingga menjadi seperti itu,tapi milia yakin walaupun jalan yang Forst tempuh salah tapi ia memiliki hati yang lebih lembut dari siapapun.
"sudah kuputuskan" teriak milia berdiri dari duduk nya
"apa yang kau putuskan?" tanya Forst kaget
"aku akan terus melayani yang mulia tuanku,dan memperlihatkan peradaban tanpa perang" jawab Milia dengan wajah serius
"kau?menunjukkan peradaban tanpa perang?"
"hahaha,akan kunantikan itu,milia" jawab Forst tersenyum
"wa...ini pertama kalinya aku melihat yang mulia tuanku tersenyum" ucap Milia kaget
"aku?tersenyum?" Forst pun ikut terkejut akan apa yang telah ia lakukan
"benar yang mulia tuanku!coba kau tersenyum lagi!sekali~saja?" ucap Milia
"j-jangan bercanda!kembalilah bekerja!aku lelah ingin beristirahat" ucap Forst canggung
"ah..aku lupa...aku akan kembali bekerja lagi" Milia bergegas mengambil nampannya keluar dari ruangan Forst.
"ah iya....yang mulia tuanku,saat kau tersenyum wajah anda sungguh mempesona" ucap Milia tersenyum
"kembalilah bekerja!" bentak Arsta.
Milia pun keluar dari ruangan Arsta.
"aku tersenyum?"
__ADS_1
"ibu singa,entah sudah berapa tahun aku tak bisa tersenyum seperti ini" gumam Forst tersenyum.
untuk pertama kalinya Forst menceritakan tujuan hidupnya,entah apa yang akan terjadi di masa depan namun dia akan terus maju sampai mencapai tujuannya.