
Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju taman yang menjadi saksi dimana dia menyatakan perasaannya pada Nana. Marah,kecewa saat ini semua berkecamuk menjadi satu.
"Kenapa Na,,kenapa?" Rey meraup kasar wajahnya.
"Apa salah ku Na?" lirihnya dengan suara gemetar menahan tangis.
Rey tidak pernah berfikir bahwa Nana akan menghianatinya. Dia ingin Nana menjadi yang pertama dan terahir untuknya. Tapi kenapa semua harus seperti ini?
"Ternyata lo disini" kata Dion yang tiba-tiba muncul entah darimana.
"Jangan ganggu gue!" gumam Rey yang masih bisa di dengar oleh Dion.
Dion tidak mengindahkan ucapan Rey. Dia mendudukan dirinya di samping Rey. Mencoba menenangkan sahabatnya yang tengah terluka.
"Nana pingsan setelah lo cabut dari sana" beritahu Dion pada Rey yang masih memilih untuk diam. Meskipun sebenarnya dalam hatinya terbesit rasa hawatir akan keadaan Nana, namun mengingat apa yang Nana lakukan kepadanya membuatnya menepis rasa hawatir itu.
"Gue tahu lo kecewa, tapi mungkin Nana punya alasan kenapa dia ngehianatin lo" tutur Dion.
Sebenarnya mulut netijen nya sudah terasa gatal ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi, tapi karena dia sudah berjanji untuk menjaga rahasia ini, dia memilih mengunci rapat mulutnya.
"Tidak pernah ada alasan baik dalam perselingkuhan Yon!" sarkas Rey
"Terserah lo deh! Mending sekarang gue anter lo pulang. Kalau lo yang nyetir yang ada gue berahir di Rumah Sakit bukan di rumah!" ajak Dion dengan merebut kunci mobil milik Rey
Rey yang merasa lelah hati dan fisiknya pun hanya mengangguk kan kepalanya dan mengikuti Dion yang berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir.
Sedangkan di apartement Vino jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
__ADS_1
Ceklek..!!
"Lo mau kemana Na? Badan lo masih butuh istirahat!" tanya Vino yang melihat Nana sudah rapi dengan menyeret kopernya.
Satu jam yang lalu, Nana sudah sadar dari pingsannya. Nana memutuskan untuk pergi ke Negara yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu di jenjang perkuliahan tanpa harus pulang ke Kota S.
Semua berkas yang dia butuhkan juga sudah ia bawa. Soal baju? Dia bisa membelinya nanti disana.
Sedangkan kedua orangtuanya, Nana memilih hanya berpamitan lewat telvon. Rasa kecewa kepada Papa nya membuatnya enggan untuk kembali ke Kota S.
Meskipun sempat mendapat protes dari sang Mama, ahirnya dengan segala alasan yang Nana buat, Papa dan Mama nya terpaksa membiarkan Nana berangkat sendiri ke Negara A.
Untuk Rey? Nana sudah menyiapkan sebuah pesan yang akan dia kirim sebelum ia memasuki pesawat.
"Gue mau ke bandara, pesawat gue take off jam lima" jawab Nana sembari melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air putih.
"Lo jangan gila deh Na, lo itu baru satu jam yang lalu sadar. Dan sekarang lo malah mau balik ke Kota S" omel Vino yang kini sudah berdiri di sebelah Nana yang tengah meneguk minumannya.
"Ya lo lah bego! Masa iya gue?!" dengus Vino
"Gue mau berangkat ke Negara A" kata Nana dengan santainya yang membuat Vino tersedak soda yang sedang dia minum.
"Uhuukk.. lo bercanda kan Na?!" tanya Vino memastikan apakah sepupunya ini benar-benar akan pergi meninggalkan tanah air hari ini juga? Dan anggukan yang diberikan oleh Nana membuatnya menghembuskan nafas pasrah.
"Bokap sama nyokap lo gimana?" tanya Vino lagi
"Gue udah telvon mereka tadi. Udah lah buruan anter gue ke bandara sekarang! Takut macet!" perintah Nana yang kini sudah berjalan menuju pintu apartement Vino.
__ADS_1
Vino hanya bisa pasrah, menyambar kunci mobil miliknya dan berjalan mengikuti Nana.
Setengah jam berlalu, Vino dan Nana sudah sampai di bandara. Mereka berdua segera memasuki bandara karena Nana harus segera melakukan check in.
"Thank's ya Vin atas bantuan lo hari ini" ucap Nana menghentikan langkahnya di depan pintu keberangkatan.
"No problem. Gue masih berharap kalian masih bisa bersama suatu saat nanti" ucap Vino yang hanya mendapat senyum getir dari bibir Nana.
"Gue pergi dulu ya.." pamit Nana memeluk sebentar sepupu sablengnya itu.
"Hmm..safe flight" jawab Vino
Nana melangkahkan kakinya memasuki pesawat yang akan membawanya jauh dari keluarganya, juga laki-laki yang sangat dia cintai.
Setelah mendudukan dirinya di kursi miliknya, Nana merogoh ponselnya dan mengirim pesan yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk Rey.
"Selamat tinggal CINTA"
lirih Nana dengan suara bergetar menahan isakan tangisnya saat pesawat mulai mengudara meninggalkan Kota dimana dia memulai cintanya dan Kota dimana dia juga mengahiri cintanya yang meninggalkan luka untuk Rey dan juga untuknya.
_________________________________
Nana
Rey..
Aku tahu kamu pasti sangat kecewa sama aku. Tapi mungkin ini memang yang terbaik untuk kita. Terimakasih untuk dua tahun yang begitu indah. Kamu mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Semoga di masa depan jika Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu kembali, aku bisa melihatmu bahagia dengan seseorang yang bisa sepenuhnya mencintaimu dengan tulus, melihatmu tersenyum bersamanya walau senyum itu bukan lah untuk ku lagi.
__ADS_1
Maaf harus menorehkan luka di ahir kisah kita.
❤️ Good by My Love ❤️