RINA MISTERIUS DAN HAIKAL TANGS

RINA MISTERIUS DAN HAIKAL TANGS
sambungan 3


__ADS_3

Apakah HIV pasti mengarah ke AIDS?


Rata-rata periode laten dilaporkan ke dalam 8 tahun menjadi orang dewasa dan 2 tahun pada anak-anak dari waktu HIV memasuki tubuh untuk ditiupkan AIDS. Tetapi ada sekolah pemikiran yang mengorbankan galaksi yang menonjol immunologists, molecular biologists, virologists, biochemists, microbiologists mengatakan bahwa HIV merupakan retrovirus biasa dan tidak ada apa-apa yang unik mengenai virus ini. Mereka berkata HIV tidak menyebabkan AIDS dan bahwa AIDS adalah penyakit perilaku daripada yang terlambat mulai menyebabkan HIV! AIDS mereka pada orang-orang yang dibawa oleh beberapa jenis bersamaan pada sistem kekebalan - obat-obatan (farmasi dan rekreasi), penyakit seksual, beberapa infeksi virus dll dan BUKAN HIV.


In any case, apapun yang kontroversi, bagian bawah baris adalah orang yang terinfeksi HIV / AIDS-nya memiliki sistem kekebalan sangat dikompromi exposing dia ke infeksi oportunistik seperti pneumo-cystis pneumonia, kaposi sarcoma, tipis penyakit, diare persisten dll yang dapat membunuh.


Bagaimana Anda mendiagnosa AIDS di orang yang terinfeksi?


Penyalahgunaan menjadi jelas ketika seseorang sangat rendah hitungan CD4. HIV antibodi faktor dalam sistem menunjukkan dikompromi sistem kekebalan. Ketika HIV pada latches ke sel CD4 dan replicates, orang yang sehat yang biasanya memiliki CD4 hitungan 500-1500 cells/mm3 darah akan kehilangan sel CD4 sekitar 50-100 per tahun bila terinfeksi. Setelah bertahun-tahun yang CD4 count di dalam tubuh menjadi sangat rendah dan mulai menunjukkan gejala penuh ditiupkan AIDS.


Menurut teori Anda, bagaimana Anda akan meningkatkan sistem kekebalan roboh dari HIV / AIDS pasien, untuk 'energise' ketika tubuh telah kehilangan tenaga ke counter virus dari debilitating mempengaruhi?


Untuk meningkatkan sistem kekebalan yang roboh, maka prevalensi homoeostasis - yang fisiologis keseimbangan dalam tubuh - yang utama adalah harus. Akupunktur misalnya adalah alat yang sangat baik untuk membantu membentuk homeostasis. Setelah suatu pantas homeostasis didirikan bersama-sama dengan konversi dari tubuh dari Asam-genic lindi ke negara-negara genic menggunakan metode naturopathic, immuno-potentiation akan hasil alam - tubuh akhirnya menemukan kekuatan untuk melawan alam SETIAP invading pathogen oleh menghapuskan dari kerusakan terhadap perekonomian di internal toto dan menjaga di teluk dalam bentuk dibatasi latency.


Kita hidup dengan banyak bervariasi berbahaya dan merusak pathogens dalam tubuh kita. Hal ini diperkirakan bahwa kita bernafas di 14 miliar pathogens di ruang satu jam! Tetapi kita sistem kekebalan neutralises ini pathogens setiap detik dalam sehari. Ianya sama ini sistem kekebalan yang harus revitalised untuk memerangi off the ravages HIV / AIDS.


lainnya dapat jenis metode pengobatan alternatif seperti homoeopati, teknik diagnosa sawit, magnetotherapy, ayurveda etc juga membantu terhadap obat dari HIV / AIDS pasien?


melengkapi dengan akupunktur pengobatan alternatif lainnya / naturopathic metode akan tetap virus di teluk oleh sangat meningkatkan immuno-potentiation. It is immuno-kekurangan yang ada pada orang yg salah dan awal dari semua masalah - bukan virus per se.


Jika daerah fisiologis dalam diri membebankan fisiologis penghalang virus tidak dapat menjawab, ia tidak bisa mengambil formulir sengit. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian dari mereka yang terinfeksi HIV tinggal biasa hidup tanpa pernah menunjukkan gejala AIDS.


Jadi singkatnya ada obat dalam pikiran Anda untuk HIV / AIDS?


Satu-satunya obat yang HIV / AIDS adalah kebutuhan pasien sendiri kuat sistem kekebalan. Ortodoks obat cenderung tumpul dalam sistem kekebalan yang mencoba untuk tetap virus pada lengan panjang. An HIV / AIDS kemudian pasien akan pernah mendapatkan lebih dari masalah sebagai sistem kekebalan dikompromi tidak hanya oleh virus tetapi oleh narkoba juga! J paradox memang!


Berikan pasien kembali ke sistem kekebalan yang kuat ia hilang dan pasien akan di jalan ke pemulihan sans gejala. Memperdiarkan yang sudah debilitated sistem kekebalan dan ia pergi tak mungkin menunggu kecuali untuk infeksi oportunistik mercifully untuk mengakhiri hidup-nya.


Mengambil jalan lain untuk pengobatan alternatif, yang bekerja sama dengan bio-energi (life force) di tingkat dinamis halus, dibandingkan dengan minyak mentah peringanan oleh terapi ortodoks, tentunya akan membantu dalam sistem kekebalan yang boosting.

__ADS_1


Apakah perbedaan antara ortodoks dan obat alternatif therapies?


Alternatif terapi bekerja dengan cara yang berbeda dari obat-obatan ortodoks. Mantan, daripada suppressing penyakit (yang tidak ortodoks perawatan) penetrates sampai ke akar penyebab masalah ini dan memenuhi kepala pada tingkat dinamis yang halus. Pengobatan yang benar melibatkan semua derangements mengatasi kekacauan di tingkat halus dinamis, bukan hanya kotor peringanan.


Tubuh kita diatur oleh bio-energi yang beroperasi di tingkat halus dinamis (hidup memaksa, Prana, Elan vital, dynamis, chi) di manifesting kotor fenomena fisiologis. Derangements adalah akibat dari ketimpangan dalam bio-energi. Pengobatan alternatif membantu meningkatkan keseimbangan dan bio-energi ini, yang akan menetapkan hak setiap negara patogen yang dibawa oleh bio-ketimpangan.


Ortodoks obat yang tidak benar dari kekacauan internal ekonomi di tingkat dinamis karena bruto (obat kimia) pertemuan bruto (gejala). Homoeopati misalnya bekerja berdasarkan dinamis (potentised narkoba) pertemuan dinamis (jantung dari kekacauan).


Dapatkah anda menjelaskan perkembangan penyakit ini kepada saya ...??


penyakit, penyakit apa pun sebenarnya, perkembangan dari halus ke kasar dan gejala nyata di tingkat kotor. Untuk memusnahkan yang kotor adalah gejala mere peringanan dan bukan benar obat - obat dicapai oleh ortodoks - tetapi untuk membawa tentang pemberantasan di tingkat halus pergi ke luar kotor, untuk mundur - dan itu adalah tempat pengobatan alternatif unggul.


· Berbagai Venomena AIDS


Dengan skala dan impact-nya yang luas, HIV/AIDS telah menjadi epidemi global yang menyerang setiap tingkat kehidupan masyarakat sekaligus salah satu ancaman paling serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini, karena tidak ada satu negara pun yang dapat mengklaim wilayahnya bebas dari HIV/AIDS.


Kondisi itu semakin memprihatinkan karena persentase tertinggi terdapat pada usia produktif (54,12% kelompok usia 20-29 tahun dan sekitar 26,41% pada kelompok usia 30-39 tahun disusul kelompok umur 40-49 tahun sebesar 8,42%).


Meskipun data ini merupakan data resmi dari pemerintah, namun data sesungguhnya tidak ada yang tahu berapa persisnya, karena HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, apa yang terlihat hanyalah puncak yang menyembul di permukaan tanpa diketahui seberapa dalam dan besar kasus yang sebenarnya terjadi.


Masalah Kemanusiaan


Isu HIV/AIDS menjadi unik karena memiliki kekhasan, yaitu aspek klinis atau yang biasa disebut aspek medis dan aspek fenomena sosial atau kemanusiaan. Secara medis, AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) dinyatakan sebagai kumpulan gejala penyakit yang membuat tubuh sulit mencegah terjadinya infeksi penyakit. Berkurangnya kekebalan tubuh itu sendiri disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga menyebabkan turunnya kekebalan tubuh.


Kerusakan pada sistem kekebalan tubuh itulah yang mengakibatkan pengidapnya sangat mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun, lama-kelamaan dapat mengakibatkan pengidap AIDS sakit parah, bahkan meninggal dunia.


Sejak lama, berbagai solusi telah dikeluarkan untuk mengatasi gerak laju HIV/AIDS. Dan saat ini sejarah pengobatan HIV/AIDS telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dengan ditemukannya obat antiretroviral (AZT). Akan tetapi, selain terbilang mahal, obat ini hanya sebatas memperlambat pembelahan (reproduksi) virus dan mencegah atau mengurangi beberapa efek yang diakibatkannya. Dengan kata lain, sampai sekarang sesungguhnya belum ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS.


Dari aspek medis, persoalan HIV/AIDS kemudian meluas kepada fenomena kemanusiaan. Hal ini karena penularan HIV/AIDS acapkali dikaitkan dengan perilaku sosial, seperti freesex, penggunaan narkoba, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.

__ADS_1


Akibat keterkaitannya dengan perilaku yang mungkin dianggap tidak layak itulah, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) rentan mendapat perlakuan diskriminatif, karena stigma bahwa mereka tidak bermoral. Akibatnya, mereka sering mendapat perlakukan yang tidak manusiawi; banyak di antara mereka yang dikeluarkan dari pekerjaannya, diusir dari rumahnya, maupun ditolak oleh keluarga dan kawan-kawannya, serta sejumlah perlakuan diskriminatif lainnya.


Diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS juga dituntun oleh mitos. Orang enggan berdekatan dengan penderita HIV/AIDS karena menyangka bisa tertular oleh keringat atau hembusan nafasnya. Dalam suasana kesalahpahaman, ketakutan, dan bahkan kebencian seperti itulah, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus menjalani sisa hidupnya dengan hak-hak asasi yang terampas.


Mengingat begitu kompleksnya fenomena sosial-kemanusiaan tersebut, kasus HIV/AIDS menjadi sarat dengan muatan-muatan hak asasi manusia. Oleh karena itu, kita tidak bisa seenaknya mengekspos secara lengkap identitas dari pengidap HIV/AIDS. Sebaliknya, kita juga tidak bisa membenarkan seorang pengidap - yang karena perasaan dendam misalnya -secara bebas melakukan aktivitas yang berpotensi menularkan kepada orang lain.


Pertimbangan lainnya adalah cara penularan. Dalam beberapa kasus memang bukan semata-mata kesalahan pengidap, seperti kasus transplantasi, donor darah, dan janin dari ibunya.


Atas dasar hal ini, maka menerima apa adanya pengidap HIV/AIDS (ODHA), menjadi lebih penting ketimbang mempersoalkan dari mana ia mendapatkannya, dari siapa, kapan, mengapa ia bisa tertular, yang justru akan lebih membawa luka baru bagi para pengidap HIV/AIDS. Atas dasar kemanusiaanlah, maka dia harus mendapatkan hak-haknya sebagai manusia sebagaimana layaknya. Di sinilah fungsi pendamping, utamanya keluarga, dapat lebih berperan sehingga sisa-sisa hidupnya dapat lebih berguna terutama bagi dirinya dan juga masyarakat.


Musibah


Setiap penyakit merupakan musibah yang bisa menimpa siapa pun. Ketika AIDS diposisikan sebagai musibah dan ujian maka semua orang harus berpikir positif, baik ODHA maupun yang bukan ODHA. Sebagai ODHA yang tertular karena free sex misalnya, penyakit yang diderita harus dipandang sebagai cambuk kasih sayang Tuhan. Dengan pemikiran positif ini, diharapkan seorang ODHA akan tegar menerima kenyataan, mau menjaga diri, mengisi sisa-sisa hidup dengan melakukan segala sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan dan berperilaku aman sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.


Bagi mereka yang bukan ODHA, AIDS bisa dijadikan peringatan keras untuk tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang memungkinkan terjangkit AIDS, seperti perilaku seks yang tidak baik (sah dan aman) dan mengkonsumsi narkotika. Pada saat yang sama, AIDS juga merupakan tantangan untuk menguji sejauh mana komitmen mereka untuk tetap berperilaku manusiawi terhadap para ODHA.


Resosialisasi para ODHA


Diskriminasi, dan pengucilan terhadap ODHA harus diubah dan ditinggalkan. Beban yang dialami penderita ODHA sudah sangat besar. Bila stigma masyarakat di sekitarnya negatif, beban penderitaan mereka akan semakin besar dan terakumulasi. Mereka harus mendapatkan perhatian yang serius dan dihindarkan dari kemungkinan untuk berputus asa dengan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, bukan dijadikan bahan cercaan. Seharusnya, para ODHA dikembalikan pada kehidupan sosial yang sesungguhnya karena interaksi sosial tidak akan menimbulkan penularan HIV/AIDS.


Sesungguhnya, diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS bukan saja melanggar hak-hak asasi manusia, melainkan juga sama sekali tidak membantu usaha mencegah epidemi ini. Mengucilkan penderita HIV/AIDS tidak akan mengecilkan bahaya penularan HIV/AIDS.


Stigma dan diskriminasi keduanya menjelma menjadi penghalang terbesar bagi penanganan efektif epidemi ini. Dalam hal ini, pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin dan melindungi hak-hak penderita HIV/AIDS sama seperti terhadap warga negara lainnya. Diskriminasi terhadap mereka harus dikikis dengan cara memastikan bahwa hak-hak mereka terhadap layanan dan fasilitas kesehatan diakui dan dilindungi, untuk diperlakukan sebagai orang yang sedang sakit dan bukan orang yang membawa penyakit.


Penyuluhan tentang AIDS


Setiap orang yang terinfeksi maupun yang terkena dampak dari HIV/AIDS membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Di pihak lain, upaya terpenting dalam memerangi AIDS sesungguhnya adalah pendidikan dan penerangan kepada masyarakat. Selain memberi bimbingan dari sisi moral dan akhlak, yaitu mendorong masyarakat untuk menjalani kehidupan yang sehat, penerangan mengenai apa sebenarnya penyakit AIDS juga harus disebarluaskan kepada masyarakat. Sebagian besar dari mereka terjangkit penyakit AIDS karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi.


· Sejarah Penyakit Aids

__ADS_1


__ADS_2