RINA MISTERIUS DAN HAIKAL TANGS

RINA MISTERIUS DAN HAIKAL TANGS
sambungan


__ADS_3

h h h h hhh h h h hh h h h hh h h h j☰


Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara


Raja-raja Nusantara ini melakukan kekejaman, mulai dari minta disembah oleh kaum brahmana, sampai membantai ribuan ulama.


Oleh: Rahadian Rundjan


Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara


Sultan Agung Raja Mataram. Ilustrasi: MRP.


SEJARAH kerajaan di Nusantara tidak hanya berisi catatan soal kebesaran dan jatuh bangunnya raja-raja mereka. Tidak semua raja-raja tersebut mampu berlaku adil dan bijaksana. Kekuasaan absolut menjadi ajang mempertunjukkan kelaliman. Berikut ini raja-raja dan kekejamannya yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara.


Kertajaya Memaksa Brahmana untuk Menyembahnya


Raja Kediri Kertajaya alias Dangdang Gendis (memerintah 1194-1222) menyatakan diri sebagai dewa dan memerintahkan rakyat dan para pemuka agama menyembahnya. Kelakuannya tak seperti leluhurnya, Airlangga, pendiri kerajaan Kahuripan, yang terkenal karena toleransi beragama antara Budha dan Hindu. Tak terima kelaliman Kertajaya, banyak kaum brahmana melarikan diri.


“Para brahmana yang berpengaruh lari ke timur untuk beraliansi dengan Ken Arok, perebut tahta dari Janggala,” tulis Ann R. Kinney dalam Worshipping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Perang besar terjadi pada 1222, pasukan Kertajaya kalah. Ken Arok lalu mendirikan Kerajaan Singasari sembari meneruskan tradisi toleransi beragama Kediri. (Baca: Siapa Sebenarnya Ayah Ken Arok?)


Kertanegara Mengiris Telinga Duta Mongol


Tahun 1289, datanglah rombongan utusan Kubilai Khan dari Tiongkok ke tanah Jawa untuk menemui raja Singasari, Kertanegara (memerintah 1268-1292). Utusan itu meminta upeti dari Jawa sebagai bukti tunduk. Salah satu dari mereka, Meng Khi, menghadap raja. Sebagai jawabannya kepada Kubilai Khan, Kertanegara memotong telinga dan hidung Meng Khi dan mengusir rombongan itu pulang. Tak terima, pada 1292 Kubilai Khan mengirim ekspedisi ke Jawa dengan seribu kapal dan 20.000 prajurit untuk menghukum Singasari. Namun Kertanegara keburu dibunuh oleh bawahannya dari Kediri, Jayakatwang.


La Pateddungi Memperkosa Rakyatnya


Kerajaan Wajo adalah kerajaan orang-orang Bugis yang berdiri pada pertengahan abad ke-15 di Sulawesi Selatan. Tiga kelompok besar di Wajo, Battempola, Talo’tenreng, dan Tua’ mengadakan pertemuan untuk memilih raja mereka, yang kemudian diberi gelar Batara Wajo. Batara Wajo I (La Tenribali) dan Batara Wajo II (La Mataesso) memerintah kerajaan dengan baik, tetapi tidak dengan Batara Wajo III, La Pateddungi (1466-1469). La Pateddungi terkenal suka melakukan perbuatan biadab. Dia senang berkeliling kerajaan dan mengambil istri dan anak perempuan rakyatnya untuk diperkosa.


“La Pateddungi to Samallangik, dilukiskan sebagai raja yang kejam, gemar memperkosa istri dan anak gadis rakyatnya, tidak mau mendengar nasihat, dan oleh karena itu dia dipecat, diusir keluar Wajo lalu kemudian dibunuh,” tulis Edi Sedyawati dalam Sejarah Indonesia: Penilaian Kembali Karya Utama Sejarawan Asing.


Iskandar Muda dan Hukuman Kerasnya


Augustin de Beaulieu, pelaut Prancis yang sempat menetap di Aceh pada masa Iskandar Muda (memerintah 1607-1636), mengungkapkan kekejaman Sultan Iskandar Muda.


“Sang penguasa ini memang amat kejam karena saya berani bilang bahwa sejak saya berada di sana tak sehari pun lewat tanpa dia membunuh seseorang dan terkadang beberapa orang, dan dia tidak memberitahu siapa pun mengenai rencananya dan juga tidak minta saran orang lain,” kata Augustin de Beaulieu, dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI Sampai Dengan Abad XX karya Bernard Dorleans.


Sultan Iskandar Muda menerapkan hukuman yang keras kepada para penjahat di Aceh untuk menegakkan wibawa dan kuasa raja yang di masa-masa sebelumnya kerap dikendalikan oleh kaum uleebalang (bangsawan). Mulai dari pemotongan anggota tubuh seperti telinga, bibir, hidung, kaki dan tangan; diinjak gajah sampai mati; menjepit dengan dua batang kayu yang dibelah; menumbuk kepala orang, dan lain-lain.


Beberapa dokumen dari sumber-sumber asing seperti yang tercantum di Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) karya Denys Lombard bahkan menyebutkan Iskandar Muda pernah membunuh bayi dengan cara menghantamnya ke dinding karena bayi itu tak berhenti menangis. Dan bagaimana dia senang mandi darah para terhukum mati untuk melindungi diri dari penyakit.


Meski begitu, watak kejamnya ini diimbangi dengan sistem pemerintahannya yang efektif. Aceh menjadi kekuatan dominan di Sumatera dan warisan kekuatan militer besar yang dihimpunnya menjadi penantang utama laju dominasi Portugis di Semenanjung Malaya selama abad ke-17. (Baca: Hukuman Kejam dari Sultan)


Sultan Agung Memenggal Prajuritnya


Raja Mataram, Sultan Agung (memerintah 1613-1645) memutuskan untuk menyerang Batavia pada 1628 sebagai bagian dari rencana politik ekspansionisnya di Jawa. Pasukan Jawa berkali-kali menyerang benteng dan berulang kali juga mereka gagal. Selama 30 hari ribuan prajurit Jawa juga mencoba membendung sungai Ciliwung untuk membuat pasukan Belanda kehausan, usaha ini juga gagal. Dalam sebuah pertempuran besar di dekat benteng, pasukan Belanda berhasil mengalahkan pasukan Mataram.


Pasukan Mataram akhirnya dipukul mundur, namun hanya setelah Sultan Agung mengirimkan sepasukan algojonya untuk memenggal kepala kedua panglima pemimpin penyerbuan, Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, beserta prajuritnya karena telah gagal merebut Batavia.


“VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.


Serangan kedua terjadi pada 1629, kali ini dipimpin Dipati Ukur. Sekali lagi, pasukan Mataram dipukul mundur. Belajar dari pengalaman kegagalan panglima sebelumnya, Dipati Ukur akhirnya memutuskan untuk memberontak karena tahu hukuman penggal dari sang sultan tengah menantinya. (Baca: Jakarta Kota Tinja)


Amangkurat I Membantai Ulama


Tahta Mataram kembali mengalirkan darah pada masa Amangkurat I (1646-1676). Dia memindahkan pusat pemerintahan Mataram ke Plered dari Karta. Dia kerap terlibat perselisihan tahta, dimulai dengan saudaranya sendiri, Pangeran Alit, yang akhirnya dia bunuh untuk memuluskan jalan menaiki tahta Mataram. Namun tindakannya yang paling kejam adalah ketika dia membantai kaum ulama karena dianggap berkonspirasi dengan mendiang saudaranya untuk merebut tahta.


Dia membuat daftar para ulama beserta keluarga mereka untuk dikumpulkan, lalu dibantai di alun-alun Plered. Pembantaian ini terjadi tahun 1647. “Dan dalam waktu setengah jam, tidak kurang dari lima sampai enam ribu orang dibantai. Van Goens (utusan VOC untuk Mataram) yang waktu itu berada di Plered, melihat dengan mata sendiri mayat-mayat yang bergeletakan di jalanan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II.


Masa pemerintahan Amangkurat I memang penuh huru-hara. Pada 1677, Plered diduduki oleh pasukan Trunojoyo dari Madura yang memberontak, yang akhirnya memberikan celah masuk bagi VOC ke dalam politik istana Mataram. Berkat VOC, pemberontakan berhasil ditumpas namun kedaulatan Mataram kian lama jadi kian terkikis.


ARTIKLE TERKAIT


Keluar dari Bayang-Bayang Liem Swie King


Hatta Bikin Pengusaha Hasjim Ning Pening


Teman Lama Ternyata CIA


Habibie, Menhankam dan Tank Korea


Kisah Garda Bahari di Awal Revolusi


Mencari Sriwijaya di Jambi


Gelegar Senjata Biologis Cacar


Langsa Diancam, Gubernur Hasan Bertindak Cepat


Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara


Warisan Habibie untuk Indonesia

__ADS_1


Copyright © 2019 Historia.id


PT. Global Visi Media. All rights reserved.


HOME » DUH!


03 Februari 2018 02:254 Kisah kekejaman penguasa di zaman kerajaan ini bikin merindingKisah ini dilatarbelakangi perebutan kekuasaan.hery jatmiko


4 Kisah kekejaman penguasa di zaman kerajaan ini bikin merinding


Pada zaman dahulu seorang raja mempunyai kekuasaan yang absolut sehingga tidak ada yang bisa melawannya. Hal ini terjadi karena saat itu belum ada sistem demokrasi di mana rakyat bisa mengoreksi secara langsung perbuatan seorang raja. Bahkan saat seorang raja bertindak kejam rakyat hanya bisa melihat karena bagi yang berani melawab tidak jarang hukuman berat akan menanti.Di bawah ini disajikan contoh beberapa kekejaman raja-raja di Indonesia yang dijamin bikin merinding. Simak ulasannya satu per satu.1. Perintah pemenggalan kepala karena gagal mengusir penjajah Belanda


foto: beritasuprihardjo.blogspot.comPada tahun 1629 Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusumo menyerang kedudukan penjajah Belanda di Batavia (sekarang Jakarta ). Dalam serangan ini kedudukan penjajah Belanda diserang habis–habisan hingga banyak korban yang jatuh.Serangan pertama terjadi pada Agustus namun mengalami kegagalan. Kemudian serangan kedua terjadi pada Oktober dengan dipimpin oleh Pangeran Mandureja dengan cara menyerang ke Benteng Holandia. Kedua serangan ini mengalami kegagalan sebab prajurit Mataram mengalami kekurangan bekal makanan.Sebagai bentuk hukuman karena tidak bisa mengalahkan penjajah Belanda maka Sultan Agung Hanyakrakusumo mengirim algojo untuk membunuh Pangeran Mandureja dan wakilnya Tumenggung Bahurekso. Hasilnya sesuai laporan penjajah Belanda mereka menemukan 744 prajurit Mataram berserakan tanpa kepala.2. Eksekusi terhadap Raden Trunojoyo


foto: forumsejarah.blogspot.co.idRaden Trunojoyo adalah bangsawan dari Madura yang melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat 1. Dalam pemberontakan ini dia berhasil mengusir Amangkurat 1 yang merupakan raja Kerajaan Mataram. Hal ini membuat Amangkurat 1 meminta bantuan kepada Penjajah Belanda di Batavia yang sebelumnya merupakan musuh bebuyutan ayahnya Sultan Agung Hanyakrakusumo.Dampak dari bantuan ini penjajah Belanda diberi kekuasan banyak wilayah di tanah Jawa yang merupakan cikal bakal penjajahan Belanda. Setelah mendapat bantuan penjajah Belanda posisi pasukan Raden Trunojoyo menjadi terjepit dan akhirnya dapat dikalahkan. Eksekusi terhadap Raden Trunojoyo sangat sadis yakni dengan cara ditusuk dengan keris kemudian hatinya dibagikan kepada seluruh bupati yang hadir, di mana setiap bupati wajib memakannya setiap bagian. Hal ini merupakan simbol kesetiaan mereka terhadap Amangkurat 13. Kematian Sultan Ageng Tirtayasa di tangan anaknya sendiriSultan Ageng Tirtayasa adalah raja dari Kerajaan Banten di mana harus berperang dengan anak sendiri Sultan Haji. Perang ini terjadi karena masalah tahta di mana dalam perang ini dimenangkan oleh pihak Sultan Haji. Dalam perang ini Sultan Ageng Tirtayasa dibantu Inggris sedangkan Sultan Haji dibantu oleh Belanda. Pada tahun 1683 Sultan Ageng tertangkap oleh penjajah Belanda kemudian atas perintah Sultan Haji dipenjara di penjara Batavia sampai menjelang akhir hayatnya.4. Pembunuhan terhadap ayahnya sendiriÂ


foto: antaranews.comPada saat terjadi pemberontakan Raden Trunojoyo pasukan Madura berhasil membobol Kerajaan Mataram. Hal ini membuat Sunan Amangkurat 1 melarikan diri ke Batavia untuk meminta bantuan kepada penjajah Belanda. Di perjalanan akibat tekananan batin yang kuat karena kalah perang membuat Amangkurat 1 mengalami sakit. Hal ini diperparah dengan pemberian air kelapa yang memang sudah diberi racun oleh anaknya Amangkurat 2 sehingga membuat Amangkurat 1 segera meninggal dunia.(brl/red)


kisha kerjaaan


kekejaman raja


kisah miris


SHARE NOW


RELATED


Anti mainstream, 4 kreasi bento ini justru bikin mau muntah


15 Kejadian ini tunjukkan keahlian memarkir itu sangat penting lho!


Wajah wanita ini punya 4 benjolan besar, penyebabnya bikin terkejut


MOST POPULAR


1


Salah ejaan, 5 poster demonstran ini dikoreksi oleh Kemendikbud


2


Lego gunakan 35.000 kepingnya untuk membuat patung Iron Man 3D


3


4


9 Hal ini harus kamu hindari saat mengikuti maraton


5


Festival Nusa Penida 2019 bakal digelar awal Oktober mendatang


6


5 Inspirasi tempat unik dan romantis untuk melamar si dia


7


Penerbangan ini tertunda 11 jam akibat sang pilot kehilangan paspor


8


Terjebak 35 tahun di basement, mobil langka ini terjual 9 miliar


9


Komik kocak ini tunjukkan 9 kelakuan pengendara ketika ada razia


10


Beda banget, 8 meme foto profil vs video call ini bikin ngakak


11


8 Poster kocak tolak RUU KUHP ini malah bikin baper


12


6 Urutan pemakaian skin care sehari-hari yang benar dan tepat

__ADS_1


13


Selain Indonesia, 5 negara ini juga pernah dijajah Belanda


14


9 Jenis lovebird tercantik di dunia yang perlu kamu tahu


15


10 Ide dekorasi ini membuat pernikahanmu terlihat unik dan berbeda


16


7 Rekomendasi film tentang ketegangan aksi dan demo besar-besaran


17


6 Fakta menarik Kodi Lee, juara America's Got Talent musim ke-14


18


Muncul penampakan 'lubang hitam' di Planet Jupiter, ini faktanya


19


Selain atasi obesitas pada anak, ini 4 manfaat lain mengonsumsi yogurt


20


Cocok untuk sarapan, ini 6 manfaat mengonsumsi pisang rebus


21


4 Alasan memilih roti gandum sebagai menu sarapan saat diet


22


4 Lukisan hewan ini menyimpan bentuk wajah di dalamnya, unik banget


23


YouTuber dan selebgram ini ikut turun ke jalan bantu aksi mahasiswa


24


Awas, luka batin saat hamil bisa sebabkan masalah emosional pada anak


25


10 Rekomendasi channel YouTube buat pencinta web drama Korea


26


10 Pekerjaan bergaji tinggi ini bisa dilakukan di mana saja


27


Parkir sembarangan di supermarket, mobil ini dikelilingi troli belanja


28


10 Etiket ini penting diperhatikan saat berada di Jepang


29


Sering dibuat sayur atau lalapan, ini 4 manfaat kesehatan petai cina


30


Disadari atau tidak, ini 6 tipe seseorang dalam menghafal


NEWS LIFE DAILY WEEKLY TODAY TAGSUC Browser Adu KocakMeme LucuSonya DepariLiputan KhususHewan LucuIndonesianaInspirasiKisah UnikUsaha KreatifWisata Indonesia


BACK TO TOP


Tentang Brilio Iklan Hak Cipta Kode Etik


Kontak Privasi Karir Site Map


Copyright © 2019 brilio.net KLY KapanLagi Youniverse

__ADS_1


All Rights Reserved


h dh


__ADS_2