RINDU AISHWA

RINDU AISHWA
Aishwa dan Rumah


__ADS_3

Ditengah teriknya panas matahari dibawah pohon dipinggir jalan, seorang anak sedang duduk dibangku panjang. Dia terlihat sedang menyikat sepatu hitam pentofel milik seorang bapak.


Namanya Aishwa, umurnya saat ini tujuh tahun. Rambutnya lurus dan terurai sampai bahunya. Matanya bulat, hidung mancung dan bibirnya kecil. Saat tersenyum, dia begitu manis. Dia punya tanda lahir berwarna merah muda seperti ruam. Letaknya dibagian lehernya yang sebelah kanan.


"Pak.. sepatunya sudah selesai". Anak itu memberikan sepatu kepada bapak Paruh baya yang sudah dia bersihkan dan dia semir. Sepatu itu terlihat begitu mengkilap.


"Makasih yah dek. Ini uangnya" Bapak itu memberikan uang lima ribuan kepada Aishwa. Aishwa tidak memasang harga untuk menyemir sepatu. Pelanggan memberi mereka seikhlasnya. Terkadang ada orang yang baik hati memberinya duapuluh ribu. Bahkan terkadang juga dia tidak dibayar sama sekali. Tapi Aishwa hanya bisa sabar. Dia tak bisa apa apa. Bahkan ketika ada orang yang menggertaknya, dia menangis.


"Terima kasih pak" dia mengambil uang itu dan


bapak itu berlalu pergi.


Aishwa lalu mengemasi barang barang dan memasukkan kedalam kotak. Didalam kotak itu ada tiga lap, sikat gigi, sikat semir, semir basah dan kering, ada kanebo, semprotan berisi cairan. Entah itu isinya air atau apa. Hanya Aishwa yang tau. Dan juga dia selalu membawa botol air minum untuk dia minum saat haus.


Kemudian setelah mengemasi peralatannya, dia berjalan menelusuri pinggiran jalan raya dengan membawa kotak semirnya. Sepertinya beban yang dia bawa itu terlalu berat untuknya. Tapi tidak seberat hidupnya yang dia jalani sekarang.


Dia melihat pedagang es keliling dan merasa sangat haus. Dia ingin membeli es itu tapi Aishwa melihat uangnya masih tetap lima ribuan yang diberi oleh bapak tadi.


Lalu dia berjalan lagi melewati warung yang ada dekat situ, Aishwa hanya bisa mencium aromanya dan hanya bisa membayangkan memakan makanan enak.


Hari pun menjelang malam, dia berjalan pulang.


Aishwa tinggal dipinggiran kota di belakang bukit. Disana ada banyak rumah yang terabaikan dan kebanyakan rumah terbuat dari kayu. Semua pemiliknya sudah tidak menempatinya lagi. Mungkin mereka punya rumah baru. Terkadang juga ada beberapa pemilik rumah datang melihat rumahnya sesekali. Terkadang ada mahasiswa yang mengontrak salah satu rumah saat mereka Studi lapangan.

__ADS_1


Disana tidak ada lampu jalan yang menerangi saat malam, jalannya gelap. Disamping rumah Aishwa ada taman tapi tak terawat. Ditaman itu ada pohon, ayunan, tempat duduk, dan cahaya lampu. Dulunya tempat ini ramai tapi satu persatu orang pergi karena tidak ada harapan untuk hidup ditempat terpencil itu.


Hanya Aishwa dan ayahnya yang bertahan disitu karena mereka tak punya dana untuk mencari rumah layak.


Aishwa pun sampai dirumahnya.


Sebelum masuk kerumahnya, dia sembunyi di balik semak semak yang ada dekat rumahnya untuk menghitung uang yang dia dapatkan hari itu.


"Lumayan. Hari ini dapat duapuluh ribu". Ucapnya dalam hati.


Terlihat dia menggali tanah dan mengambil sebuah kaleng yang terkubur disitu. Diapun memasukkan uang lima ribuan kedalam kaleng susu yang dulu dia dapatkan dipinggir jalan. Setelah itu, dia memasukkan kaleng itu kedalam tanah lalu menguburkan kembali. Hampir tiap minggu dia selalu begitu. Tergantung hari itu pendapatannya berapa. Karena ayahnya selalu mengambil semua uang yang dia dapatkan tanpa memberinya sepeser pun.


Kemudian dia membuka pintu rumahnya secara pelan dan mengendap endap masuk. Dia takut ayahnya bangun.


Tidak ada perabot yang bagus dalam rumah itu, Hanya lemari usang yang cerminnya sudah retak dan Rak meja tempat kompor yang sepertinya jika ditiup angin, akan roboh.


Ada satu kursi kayu dan meja kayu yang semua kayunya sudah dimakan rayap.


Lantai rumahnya masih tanah yang beralaskan plastik. Dindingnya kayu, atapnya seng tapi banyak yang bocor. Jika hujan, air akan merembes.


Beruntungnya karena itu bukan rumah sewa. Itu adalah rumah peninggalan nenek dari ayahnya. Neneknya meninggal sebelum dia lahir. Hanya satu harta yang ditinggalkan yang masih layak pakai, itu kotak semir yang dipakai Aishwa bekerja selama setahun ini. Neneknya dulu juga sebagai tukang semir untuk menyambung hidupnya.


Seperti biasa, rumahnya bau alkohol. Di lantai sangat berantakan, banyak botol minuman. Dan terlihat seorang pria berkumis tertidur pulas diatas kasur tipis. Mungkin pria itu mabuk berat.

__ADS_1


Itu Ayahnya. Namanya Sutomo. Umurnya sekitar 45 tahun, badannya proporsional tapi perutnya seperti ibu yang hamil 5 bulan. kulitnya agak kecoklatan, rambutnya kucal tak terurus.


Aishwa pun membersihkan lantai dan membuang semua sampah botol botol di tempat sampah. Aishwa kemudian menyelimuti ayahnya yang tertidur. Tak terasa perutnya bunyi keroncongan. Terdengar cacing cacingnya minta tolong untuk diberi makan.


Dia membuka panci dan hanya ada nasi sekepal tangannya. Itu nasi sisa tadi pagi dan mungkin itu sudah basi. Dia melihat dibawah meja tempat kompor dan menemukan sebungkus mie. Diapun menyalakan kompor, berkali kali dia nyalakan tapi tak berhasil. Ternyata gasnya habis. Diapun menyiram mie itu dengan air kran dan mencampurnya dengan nasi basi lalu memakannya dengan sangat lahap. Tak peduli apakah itu sehat atau tidak.


Sejak kecil hidupnya sangat kekurangan, dan Aishwa juga selalu dipukuli ayahnya jika tidak membawa uang pada saat pulang dari bekerja. Tapi Aishwa hanya diam dan pasrah saja saat dipukuli. Dia juga tidak pernah melaporkan ayahnya. Karena baginya ayahnya adalah segalanya, dia yang membesarkan nya sehingga Aishwa masih bisa hidup.


Setelah Itu, dia kemudian membersihkan diri, dia masuk ke kamar kecil. Namanya kamar kecil, ukurannya betul sangat kecil. Hanya 1meter persegi dan tidak ada pencahayaan didalamnya.


Setelah mandi, dia membuka lemari untuk mengganti bajunya. Terlihat didalam lemari hanya ada baju usang dan semuanya sempit jika dipakai. Selama dua tahun, dia tak pernah membeli pakaian. Ayahnya juga tidak pernah memberi Aishwa pakaian.


***


Jam menunjukkan pukul sembilan malam,  ayahnya sudah tertidur pulas. Dia diam diam mengeluarkan sesuatu dari sudut bawah meja kompor. Itu sebuah buku dan pensil, buku yang dia dapatkan ditempat sampah. Terlihat buku itu banyak coretan dan pensilnya juga sudah sangat pendek. Mungkin pemiliknya dulu sudah tidak memakainya. Makanya ia membuangnya di tempat sampah dan Aishwa memungutnya.


Diapun keluar ditaman yang ada disamping rumahnya.


Dia takut ketahuan oleh ayahnya. Karena Aishwa di larang bersekolah, dilarang menyentuh apapun yang berhubungan dengan alat tulis. Karena bagi ayahnya, sekolah tidak memberinya uang malah hanya akan menghabiskan uang.


Dia mencoret coret buku itu dan menggambar sebuah pohon yang dibawahnya ada seseorang lagi duduk dibangku. Dia terlihat menggambar dirinya sendiri.


Padahal, dia tidak mengenal huruf, tidak mengenal angka. Tapi dia bisa menggambar.

__ADS_1


__ADS_2