
Beberapa hari kemudian, mereka pergi ke rumah Sakit yang ditunjukkan oleh Pak Danu.
Sesampainya disana, mereka melihat gedung itu sangat luas dan tinggi. Didepan rumah sakit ada papan keramik lebar bertuliskan "RS. CIPTA PERSADA".
Lalu mereka masuk dihalaman Rumah sakit. disana ada bundaran kolam yang dikeliling oleh bunga bunga disampingnya. Ditengah kolam itu ada air pancuran.
Aishwa tertegun melihat semuanya.
"Kamu yakin mau kerja disini?". Tanya Rafa.
yang kebetulan itu hari minggu jadi dia tidak bersekolah.
"Kakak sendiri?".
"Mmmmm.. aku tak yakin. Tapi coba aja dulu. Mungkin ini jalan untuk kita mendapatkan rejeki"
Mereka pun masuk ke Lobby utama. Terlihat pintu kaca rumah sakitĀ terbuka dengan sendirinya. Aishwa heran dengan pintu itu yang terbuka secara otomatis.
"Waahh.. luasnya" seru Aishwa saat memasuki Lobby.
Terlihat disana ada papan yang tertulis
"Kami akan melayani anda tanpa melihat status", terlihat juga ada banyak orang lalu lalang ditempat itu, sebagiannya staf dan sebagiannya lagi pasien. Disudut Lobby terlihat ada ruang UGD.
Rafa menuju meja Resepsionis.
"Selamat siang bu, maaf mengganggu. Pak Danu ada?" Sepertinya Rafa sudah berpengalaman. Dia sangat mempunyai mental dan penuh percaya diri.
"Selamat siang. Apa adik sudah ada janji sama beliau sebelum nya?"
"Sudah bu. Dia memberi kami ini"
Rafa menunjukkan kartu nama yang sudah diberi oleh pak Danu beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Lalu resepsionis itu menelpon seseorang.
"Baik.. baik.. akan kusampaikan padanya. Terima kasih". Terdengar akhir pembicaraan mereka ditelpon.
"Dek.. silahkan menuju ke Lantai 12. Di ujung sebelah kanan ada Lift" Resepsionist menunjukkan arah menuju lift.
Mereka pun kedepan lift. Rafa menekan tombol panah keatas. Selang beberapa menit, pintu lift terbuka.
Mereka masuk, dan Rafa menekan tombol lift angka 12.
"Kakak sering kerumah sakit?" Tanya Aishwa
"Mmmm.. dulu Raina sering sakit, dia selalu dirawat dirumah sakit"
"Oh.. pantas aja kakak tau cara naik lift dan juga kakak tidak ragu saat berbicara dengan ibu tadi" Kata Aishwa.
Pintu lift terbuka dan terlihat disana juga ada resepsionist.
"Selamat siang bu, Pak Danu ada?" Tanya Rafa
"Iyya".
"Silahkan ikut saya"
Mereka mengikuti resepsionist itu. Mereka memasuki lorong koridor. Disana ada banyak ruangan. Tapi tak seorangpun ada disitu. Hanya mereka bertiga.
Mereka melewati lorong demi lorong koridor. Sampai tiba diujung koridor. Disana bertuliskan "Ruang CEO".
Resepsionis mengetuk lalu membuka pintu. Mereka pun masuk dan resepsionis itu membungkuk kepada pak Danu lalu pergi tanpa sepatah kata. Mungkin sudah peraturan rumah sakit.
"Selamat datang Rafa, Aishwa" Pak Danu terlihat senang menyambut mereka.
"Silahkan duduk".
__ADS_1
Rafa dan Aishwa duduk disofa yang begitu empuk. Aishwa terlihat kaku. Dia baru kali ini masuk diruangan seperti ini.
Tak lama kemudian, seorang ibu yang sudah kelihatan tua datang membawa minuman 2 gelas lalu pergi.
"Minum dulu nak" pinta pak Danu.
Tanpa berbasa basi mereka meminum jus itu.
Pak Danu terlihat sangat senang.
Mereka membahas tentang apa tujuan mereka dipanggil ditempat itu.
Pak Danu menjelaskan secara mendetail.
"Begini. Selama ini aku telah mengamati kalian, aku melihat cara kalian membersihkan dan menyemir sepatu itu sangat bersih dan mengkilap. Kebetulan disini ada ruangan khusus untuk membersihkan sepatu para staf. Ada juga khusus tempat semir setelah dibersihkan. Tergantung sepatu itu bisa disemir atau tidak. Nanti om yang antar keruangan itu".
Tak lama kemudian, Pak danu mengantar mereka keruangan itu yang berada dilantai 5.
Mereka pun masuk.
Aishwa tertegun, disana peralatannya sangat lengkap. Ada mesin khusus untuk membersihkan sepatu, ada juga alat untuk menyemir. Beda dengan kepunyaan mereka.
Semua serba canggih.
"Tapi kami tidak tau menggunakan alat ini pak" kata Rafa
"Tenang aja, nanti diajarin"
Mereka akhirnya setuju.
****
Besoknya, hari pertama mereka bekerja. Mereka diajari oleh teknisi yang ada disitu. Awalnya mereka tidak tau cara menggunakan mesin itu. Tapi lama kelamaan akhirnya mereka bisa. Meski Aishwa masih sangat ragu, tapi dia akhirnya bisa.
__ADS_1
Sesuai dengan permintaan mereka, mereka kerja hanya tiga jam. Mulai dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Pak Danu juga khawatir jika mereka bekerja terlalu berat, karena mereka masih anak anak.