
"Ayah.. Aishwa berangkat" Aishwa mengambil kotak semir yang sudah diperbaiki ayahnya semalam. Dia membuka pintu, lalu keluar. Langkahnya terhenti saat hendak memakai sendal. Aishwa melihat sendal warna pink yang masih baru disamping sendalnya.
"Ayah. Sendal pink ini punya siapa?" Teriak Aishwa dari luar.
"Itu punya kamu. Kemarin ayah beliin"
Aishwa kegirangan dan berlari masuk lalu memeluk ayahnya.
"Makasih ayah"
Ayahnya membalas pelukannya.
Aishwa dengan senangnya memakai sendal itu. Selama ini sendal jepit yang dia pakai, karetnya sudah putus, dan dia menyambungnya dengan tali dan jarum peniti.
Aishwa tidak sulit lagi untuk berjalan karena sendal barunya sangat empuk dan nyaman dikakinya.
"Wajah kamu kelihatannya seneng banget?" Ucap Rafa sembari mereka berjalan menuju tempat mangkal mereka.
"Aku senang ayah beliin sendal baru. Dia juga memperbaiki kotak ini" sambil menunjuk kotak semirnya.
"Oh ya. Aku ikutan senang". Ucap Rafa.
"Oh ya. Mulai senin aku akan masuk kesekolah baru. Sekolahnya dekat dari tempat kita selalu mangkal". Ucap Rafa lagi.
"Bagus dong, punya teman baru. Berarti kakak gak kerja lagi?"
" Siang setelah pulang dari sekolah, aku langsung kerja. Kan deket. Asal kamu gak pindah tempat"
"Wah.. ternyata kakak kuat juga. Udah capek dari sekolah, lalu lanjut kerja" seru Aishwa sangat kagum.
"Itulah hidup Aishwa. Kita tidak bisa bergantung sama orang lain. Itu kata mama ku. Sebenarnya mama melarang aku kerja. Tapi aku maksa. Aku harus bantuin mama dan adikku". Ucap Rafa penuh semangat.
"Sabar yah kakak". Ucap Aishwa
Tanpa mereka sadari, ternyata dari tadi ada seorang bapak yang mendengar pembicaraan dan mengikuti mereka.
Rafa menyadari ada seseorang dibelakang. Rafa menoleh. Lalu bapak itu menyembunyikan wajahnya dan kemudian berlari pergi dari situ.
Aishwa melihat wajahnya tapi samar.
Terlihat dari kejauhan dompet bapak itu terjatuh.
__ADS_1
Aishwa dan Rafa mengejar tapi si bapak langsung menghilang bagai ditelan bumi.
Rafa pergi mengambil dompet itu. Didalamnya ada banyak uang limapuluh ribuan, ada beberapa kartu ATM dan juga KTP.
"Kita harus mengembalikan dompet ini" Ucap Rafa
"Iyya, aku sangat takut" Ucap Aishwa ketakutan.
"Kenapa?"
"Takut bapak itu laporin kita ke polisi. Nanti dia kira kita yang mencurinya".
"Tenang Aishwa, selama kita masih berniat baik, gak ada yang perlu di takuti".
Mereka kemudian berjalan mencari alamat yang ada di KTP. Perjalanan yang melelahkan karena alamatnya cukup jauh. Sudah hampir se jam mereka berjalan.
Mereka bertanya kepada tukang ojek yang ada dekat situ.
"Bang.. lihat alamat ini gak?"
Rafa menunjukkan KTP kepada tukang ojek.
"Emang kenapa dik?" Tanya balik tukang ojek.
"Lah.. gak mungkin kalian nanya kalo gak ada urusan" tukang ojek ngeles.
"Makasih yah bang" Rafa pamit. Dia tak ingin bermasalah dengan tukang ojek.
Tak jauh dari situ, dia sedikit berjalan dan menemukan tiang papan yang tertulis "jl. KH. Anwar". Sesuai dengan yang ada di KTP. Mereka kemudian mencari Blok nomor rumahnya.
Sekitar seratus meter kedepan, akhirnya mereka menemukan rumah sesuai yang ada di KTP.
"Assalamu alaikum" mereka membunyikan bel yang ada disamping pagar. Rumah itu kelihatan begitu besar. Pekarangannya sangat luas dan dihiasi pohon palem yang berjejeran. Terlihat banyak jenis bunga yang tertata rapi didalam pot besar di samping teras rumah. Dan juga disana ada dua mobil terparkir di bagasi.
Dan sepertinya Rafa mengenal mobil yang satunya.
Rafa terkaget ketika seseorang membuka pagar. Seorang ibu memakai jilbab, aura wajahnya memancarkan cahaya. Bagaikan sosok malaikat yang tak punya sayap. Aishwa ternganga melihat kecantikan itu. Dia bagaikan disilau.
"Waalaikum salam" Ibu itu membuka pagar.
"Maaf.. cari siapa nak?" Tanya ibu itu.
__ADS_1
"Maaf bu, bener ini rumah Pak Danu Kusuma?"
Tanya Rafa. Sebelumnya dia melihat nama itu di KTP. Dia hanya ingin memastikan apakah benar ini rumah bapak itu.
"Bener nak. Tapi pak Danu lagi keluar".
"Ibu istrinya pak Danu?" Tanya Rafa
"Iyya sayang" jawabnya dengan lembut.
Rafa menyerahkan dompet kepada wanita itu.
"Ini dompetnya Pak Danu, tadi terjatuh dijalan"
"Ya Alloh.. terima kasih nak. Hatimu sangat jujur" Ucap ibu itu terkagum.
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberi ke Rafa.
Rafa menolak
"Ga usah bu, kami ikhlas. Terima kasih banyak"
"Ambil aja nak, ini ongkos kalian pulang. Pasti rumah kalian jauh kan?" Tebak ibu itu. Jika mereka pulang berjalan kaki, bisa bisa kaki mereka akan patah. Karena perjalanan sudah tiga kali lipat dari rumah mereka.
Rafa mengambil uang itu. Tapi dia hanya mengambil selembar uang duapuluh ribuan.
"Ini udah cukup bu untuk kami naik angkot pulang kerumah". Ucap Rafa.
Ibu itu mengkerutkan alisnya. Dan dia menoleh ke Aishwa yang dari tadi pandangannya tak pernah terlepas.
"Nama kamu siapa nak?" Ucap ibu itu memegang pipi Aishwa.
"Aishwa tante" Seketika ibu itu kaget. Tapi wajah kagetnya tidak nampak.
Batinnya "tidak.. tidak mungkin".
Kemudian ibu itu melihat leher Aishwa sebelah kanan. Dia melihat tanda yang ada dileher Aishwa. Dia terkulai lemas perasaannya dingin. Dompet yang dia pegang pun jatuh.
"Tante. Ada apa?" Tanya Rafa membantu ibu itu mengambil dompet yang terjatuh.
"Tidak apa apa nak, mungkin kecapean"
__ADS_1
"Kalo gitu, kami pamit dulu. Assalamu alaikum" ucap Rafa.
Mereka berdua lalu pergi. Sampai keluar dari lorong, mereka menunggu angkot. Mereka akan langsung pulang karena mereka sangat kelelahan mencari alamat bapak itu.