
"Aishwa.. Aishwa.. bangun" Ayahnya menepuk pipi Aishwa.
Baru kali ini Aishwa terlambat bangun.
"Kamu sakit Aishwa? Gak usah kerja dulu kalo lagi sakit"
"Gak kok ayah. Aishwa hanya bermimpi panjang" Ucap Aishwa sembari menggosok gosok matanya menggunakan jarinya.
"Oh ya. Kamu mimpi apa?" Tanya ayahnya
"Mmmmm.. aaakuuu mimpiin ibu"
Mata ayahnya membelalak.
"Gak usah mikirin ibu mu, dia gak peduli lagi sama kamu. Seandainya dia peduli, pasti dia kesini. Selama tujuh tahun dia ninggalin kamu, dia gak pernah muncul sedetik pun".
"Tapi ayah.. aku merindukan ibu. Bahkan wajahnya pun aku tidak tau. Ayah.. izinkan aku mencari ibu." Rengek Aishwa dan dia mulai menangis.
"Gak ada tapi tapian. Mulai sekarang, jangan mengingat tentang dia. Walaupun itu dalam mimpi. Gak bolehh" ucap ayahnya meninggikan suara.
Aishwa menangis makin keras. Ayahnya membiarkannya.
Sejam kemudian, Aishwa masih dengan muka masam nya.
"Assalamu alaikum. Aishwa" teriak Rafa dari luar.
"Tuh temen kamu datang. Udah nangisnya. Kamu gak malu?" Ucap ayahnya.
Aishwa membengkokkan bibirnya kearah bawah.
__ADS_1
Dia membuka pintu.
"Aishwa. Kamu gak kerja?" Tanya Rafa
"Kakak Rafa. Hari ini Aishwa gak enak badan"
"Kalo gitu, kamu istirahat aja"
"Mmmm" Aishwa mengangguk.
Rafa berangkat sendiri.
***
Malamnya Aishwa kerumah Rafa lagi untuk belajar. Dia sudah mengenal sedikit huruf dan angka. Dia juga sudah bisa nulis sedikit demi sedikit.
"Aishwa. Kamu udah baikan?" Tanya Rafa saat membukakan Aishwa pintu.
Mereka memulai pelajarannya.
"Aishwa. Sampai kamu bisa menghafal semua huruf, baru aku ajarin kamu membaca. Oke!". Ucap Rafa.
Rafa menyuruh Aishwa menulis huruf A sampai Z tanpa mencontek.
Aishwa dengan semangatnya menulis. Walau masih agak lambat tapi tulisan hurufnya jelas.
Dan akhirnya dia berhasil menulis sampai huruf Z.
"Wahh.. ingatan kamu sangat bagus. Padahal baru empat hari loh aku ngajarin kamu"
__ADS_1
Aishwa hanya tersenyum.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Aishwa pulang.
Aishwa masuk kerumahnya dan melihat ayahnya sedang menjahit sesuatu dengan penerangan seadanya.
Dia menjahit pakaian Aishwa yang sudah lama sobek.
"Ayah lagi apa?" Tanya Aishwa.
Dia melihat ayahnya menggigit benang.
"Ini baju kesukaan kamu kan?" Itu baju Aishwa dua tahun yang lalu. Dia tidak pernah memakainya karena bagian lengannya robek.
Ayahnya lalu memakaikan gaun itu ke Aishwa.
"Lihat.. cantikkan, masih pas kok. Kan waktu ayah beliin sengaja ukurannya agak besar. Biar bisa dipake lama"
"Anggap saja ini hadiah dari ayah karena kamu sudah bekerja keras selama ini". Lanjut ayahnya
"Ayaah" Aishwa memeluk ayahnya.
Terlihat raut wajah ayah Aishwa sangat cemas dan khawatir terhadap anaknya. Dia berpikir apakah dia sanggup membahagiakan Aishwa. Hati kecilnya menangis dan merasakan sakit apabila dia melihat anak semata wayangnya itu.
"Maafkan ayah nak jika ayah harus meninggalkan mu dengan keadaan seperti ini. Ayah hanya tak ingin membuat kamu khawatir. Ayah hanya melakukan yang seharusnya dilakukan. Maafkan ayah karena tak pernah memberitahu tentang ibumu. Ayah sayang sama kamu Aishwa" . lirihnya dalam hati.
"ayah kok ngelamun" Aishwa mengagetkan ayahnya
"tidak apa apa Aishwa"
__ADS_1
Aishwa terlihat tak ingin melepas gaun itu, tak henti hentinya dia menunjukkan tubuhnya dengan memakai gaun itu didepan cerminnya yang usang. Dia sangat senang dan gembira.