RINDU AISHWA

RINDU AISHWA
Ayah Berubah


__ADS_3

Seperti biasa Aishwa bangun di pagi hari. Tapi kali ini, ayahnya yang lebih dulu terbangun.


"Ayah" Aishwa melongo melihat ayahnya yang menyisir rambutnya dan berpakaian rapi.


"Mmmmmm" jawab ayahnya.


"Ayah mau kemana?"


"Ayah mau pergi, ada urusan"


Aishwa heran karena baru kali ini ayahnya berpakaian rapi. Dan semalam Aishwa juga tidak melihat botol minuman didalam rumah.


"Ayah pergi dulu. jangan lupa kunci pintu. Kuncinya taruh aja dipot bunga" pesan ayahnya sembari membuka pintu dan berlalu pergi.


"Baik ayah".


Aishwa pun bersiap untuk berangkat kerja. Dia tidak sarapan, dia hanya mengisi botol air minumnya. Lalu dia mengunci pintu seperti pesan ayahnya tadi.


Lalu dia kerumah Rafa dan terlihat Rafa juga bersiap untuk berangkat.


"Ma... aku berangkat. Assalamu alaikum" Rafa mencium tangan ibunya.


"Hati hati nak dijalan, tengok kiri kanan kalo mau nyebrang" ucap ibu Rafa dengan lembut.


"Iyya ma". Jawab Rafa


Aishwa berjalan kearah mereka.


"Eh. Nak Aishwa. Ada bekal makan siang yang dibawa Rafa. Nanti makan sama sama ya"


"Terima kasih tante. Maaf sudah merepotkan tante".


Mereka pun berangkat. Di jalan mereka ngobrol banyak hal.


"Aku udah tanya ke mama ku. kamu bisa belajar dirumahku. Mama katanya gak masalah. Dia malah seneng karena kamu mau belajar"


Ucap Rafa.


"Oh ya.. aku senang banget". Aishwa  tersenyum. Akhir akhir ini dia selalu tersenyum. Mungkin karena dia akhirnya punya teman cerita.


Tanpa disadari, mereka akhirnya sampai di tempat mangkal.


Mereka membuka kotak bekal yang dibawah Rafa dan makan bersama.


Beberapa jam setelahnya terlihat banyak yang antri untuk menyemir.


"Dek.. ini sepatu aku bisa disemir gak?" Seorang Bapak berbadan gemuk yang antrinya paling belakang memperlihatkan sepatunya kepada mereka. Terlihat sepatu itu bukan terbuat dari kulit sintetis, hanya bisa dibersihkan soalnya kalo di semir akan membuat bahannya cepat lusuh.


"Maaf pak,, ini gak bisa disemir, soalnya nanti sepatunya rusak" Jelas Aishwa


"Aduh .. aku udah sejam loh menunggu. Masa gak bisa disemir?" Bapak itu mulai meninggikan nada suaranya.


"Maaf pak, kami takut sepatunya nanti bukan bersih, malah jadi kotor". Ucap Rafa.


"Alaaaah, sudaaaah..... kalian hanya membuang waktuku dari tadi" Bapak itu emosi dan melemparkan kotak semir Aishwa.

__ADS_1


Kotak semirnya sedikit retak, ada bagian baut dan kayu yang terlepas.


Aishwa mengambil kotak itu dan air matanya berlinang.


Bapak itu pergi begitu saja


"Tunggu pak, bapak harus bertanggung jawab. Lihat itu" Rafa mengejar dan menunjuk kotak semir Aishwa.


" Justru kalian yang harus bertanggung jawab, kalian membuang waktuku" tegas bapak itu.


"Gak bisa gitu dong. Bapak gak bisa bicara baik baik?"


"Kamu ini, dasar anak kecil" baru saja bapak itu ingin menampar Rafa, seorang lelaki muda datang mencengkram tangannya.


"Ho.. berani yah sama anak kecil?" Ucap lelaki itu dengan nada tertekan


"Siapa kamu, gak usah ikut campur"


" Bapak mau aku laporin ke polisi atas kekerasan terhadap anak, aku udah buat rekaman video yang bapak lakukan dari tadi".


Pria itu terlihat ketakutan dan pergi dari situ.


"Kamu gak apa apa dek?" Tanyanya ke Rafa.


"Aku gak apa apa, tapi dia" sambil menunjuk ke Aishwa.


Aishwa duduk termenung. Entah apa yang dia akan lakukan pada kotak itu.


"Pulang aja dulu.. nanti dirumah diperbaiki. Ini gampang kok dibaikin." Ucap lelaki itu melihat kotak semir itu.


"Rumah kalian dimana? Aku anterin" tanya lelaki muda itu.


Mereka diantar pulang menggunakan mobil lelaki itu.


Aishwa masih menunjukkan ekspresi sedih. Dia masih memikirkan kotak semirnya.


Mereka pun sampai. Hanya Rafa dan laki laki itu yang ngobrol banyak, Aishwa hanya diam.


Ibu Rafa menyambut mereka dan Rafa menjelaskan yang terjadi.


Lelaki itu kemudian pamit dan pergi.


"Nak Aishwa, sabar ya" ucap ibu Rafa sambil memeluk Aishwa. Baru kali ini Aishwa merasakan kehangatan di dalam dirinya. Baru kali ini ada seseorang yang memeluknya dan sepertinya merasakan kesedihannya.


"Iyya tante. Aku mau pamit kerumah dulu" ucap Aishwa dengan nada senada.


Aishwa pulang. Terlihat pintu rumahnya terbuka. Didalam terlihat ayahnya memasak sesuatu.


"Ayah.." teriak Aishwa


"Aishwa. Kenapa pulangnya cepat?"


Aishwa tanpa berkata apa apa, dia hanya memperlihatkan kotak semir itu dengan ragu ragu.


"Nanti ayah perbaiki, kamu makan aja dulu baru istirahat".

__ADS_1


Aishwa heran, diam dan terpaku. Karena biasanya ayahnya akan marah jika terjadi sesuatu.


***


Malamnya Aishwa dengan ragu ragu dia minta izin ke ayahnya untuk kerumah Rafa.


"Ayah...mmmmm boleh gak Aishwa kerumah tetangga?"


"Mau ngapain?" Tanya ayahnya sembari memperbaiki kotak semir itu dengan pencahayaan seadanya.


"Ituuu.....mmmmm"


"Pergi sana, pulangnya jangan kemaleman". Jawab Ayahnya.


"Makasih Ayah" Aishwa pun dengan sigap pergi kerumah Rafa.


"Assalamu alaikum, Rafa".


"Wa alaikum salam, eh nak Aishwa. Silahkan masuk" Ibu Rafa membuka pintu dan menyuruhnya masuk.


Rumah Rafa tidak terlalu sempit. Perabotnya juga masih bagus. Tidak ada kamar, tapi kasurnya tebal. Muat untuk mereka bertiga. Ada meja belajar, ada meja dan kursi tamu yang terbuat dari kayu. Mungkin pemilik rumah ini merawatnya dengan baik.


Aishwa kemudian duduk dilantai. Lantainya acian dan dilapisi dengan plastik.


Terlihat Rafa sedang sholat di balik lemari.


"Kakak" Adik Rafa datang menghampiri.


"Mau main boneka?" Dia memberi Aishwa boneka teddy kepunyaan Mr. Bean. Aishwa tau boneka itu kepunyaan Mr. Bean karena dirumah dia juga punya boneka itu. Waktu seumuran adik Rafa, ayahnya juga beli boneka. Dan menjelaskan ke Aishwa bahwa itu kepunyaan Mr. Bean.


"Nama kamu siapa?" Tanya Aishwa


"La...iii...naaa..." jawabnya dengan nada masih terbata bata dan nada panjang.


"Raina?"


"Mmm"


"Kamu tau gak boneka ini punya siapa?" Tanya Aishwa.


"Punya mistel bin. Tapi kata mama boneka mistel bin dikasi ke aku"


"Oh.. gitu. Lalu kenapa Raina kasi aku bonekanya"


"Kalna kaka gak punya mainan. Ihik ihik" Raina tertawa lucu.


Tak lama kemudian Rafa muncul dengan berbagai macam alat tulisnya.


Mereka mulai belajar.


Aishwa diberikan sebuah pensil dan buku.


Dia diajari untuk mengenal huruf dan angka lebih dulu.


Rafa menuliskan huruf dan Aishwa mengikuti tulisan itu. Terlihat Aishwa begitu semangat.

__ADS_1


"Yang ini Huruf A dan yang ini a kecil".


Ucap Rafa.


__ADS_2