
Pagi pagi sekali Aishwa bangun, dia melihat ayahnya masih tertidur. Diapun berkemas dan bersiap menjalani rutinitasnya. Tanpa sarapan dan hanya meminum seteguk air. Saat dia hendak membuka pintu untuk keluar, ayahnya bangun.
"Aishwaaa". Panggil ayahnya yang nadanya masih agak tertekan karena baru bangun.
"Ya ayah?"
"Mana uang yang kamu dapatkan kemarin?" Tanya ayahnya
"Ada di laci lemari ayah". Jawab Aishwa dengan jantung berdegup. Karena dia hanya membawa pulang uang limabelas ribu.
"Sana, pergi. Cari yang banyak" ayahnya menyuruhnya pergi. Aishwa pun dengan cepat membuka pintu dan berlari keluar. Dia takut ayahnya akan memarahinya.
Diapun berjalan menuju ketempat mangkalnya ditepi jalan dibawah pohon. Disitu adalah area kantor dan sekolah. Banyak orang yang lalu lalang ditempat itu. Jarak tempuh dari rumahnya ketempat itu sekitar 3 sampai 4 kilometer. Lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi untuk anak seumuran dia.
Setibanya disana, terlihat ada seorang anak lelaki yang sepertinya dua tahun lebih tua darinya. Anak lelaki itu juga terlihat membawa kotak semir seperti dirinya.
Aishwa mendekati anak itu dan menyapanya.
"Kakak namanya siapa?" Itulah Aishwa, terlalu ramah walau dia tidak kenal orang itu.
"Aku Rafa" dia bersalaman dengan Aishwa.
"Kamu tinggal dekat sini?" Tanya Aishwa.
"Tidak.. rumahku dibelakang bukit sana, mungkin sekitar 3 kiloan dari sini" Jawab Rafa sambil menunjuk ke arah bukit yang jauh dibalik gedung tinggi.
"Sama. Aku juga tinggal dibelakang bukit itu".
"Kamu baru disini?" Tanya Aishwa
"Iyya, aku baru pindah beberapa hari. Aku dari Medan. Tapi ketika orang tuaku bercerai, aku pindah kesini karena ikut ibu" ucapnya dengan nada agak lirih.
Ada perasaan iba terhadap Rafa. Dia merasa menemukan teman yang seperti dirinya.
Aishwa sebenarnya sudah tau apa arti cerai. Seperti ayah dan ibunya yang terpisah. Dia mengartikannya begitu.
"Kamu sekolah?" Tanya Aishwa
"Iyya, udah kelas tiga SD. Aku juga rencananya akan lanjut sekolah disini. Tapi untuk sementara waktu, aku kerja dulu. Mungkin minggu depan ibu daftarin aku di sekolah baru"
"Berarti kamu bisa baca dong?" Tanya Aishwa.
"Iyya. Emang kamu gak tau membaca?"
Aishwa menunduk mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
"Aishwa. Sekolah itu tidak memberimu uang. Sekolah hanya menghabiskan uang. Kamu mengerti?" ucap Aishwa sambil memanyunkan bibirnya seolah mengejek kata kata ayahnya.
"Itu kata papaku" lanjut Aishwa
"Bisa gak kakak ajarin aku membaca dan menulis? Tapi diam diam. Jangan sampai ketahuan papaku." Ucap Aishwa dengan polosnya.
"Bisa aja. Kamu kerumahku aja kalo malam. Disana ada ibu dan adikku"
"Oh ya.. makasih!"
"Yang sabar yah. Semoga papamu pikirannya terbuka dan bisa menyekolahkan kamu. Harusnya sih tahun ini kamu sekolah karena umur kamu udah seharusnya untuk masuk sekolah" Rafa menepuk pelan pundak Aishwa.
Aishwa sangat senang. Ada secercah harapan dihatinya untuk bisa membaca, menulis dan berhitung.
Tak lama setelah percakapan mereka, seorang pria berkacamata hitam dengan kumis panjang datang dengan memakai sepatu kusam. Dan sepertinya sepatu itu lama tak pernah dibersihkan.
"Dek.. tolong dibersihin ya, sekalian dikasi mengkilap". Pintanya kepada Aishwa sembari melepas sepatunya.
Terlihat kaos kaki pria itu bolong dan jempol kakinya dua duanya keliatan.
Aishwa dan Rafa tertawa cengingisan melihat kaos kaki itu.
"Kenapa kalian tertawa?" Tanya pria itu sembari melepas kacamata nya. Terlihat sorot matanya yang tajam membuat Aishwa sedikit takut.
"Kaos kaki om lucu, tidak ada duanya" jawab Aishwa sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Sambil menyemir sepatu, Aishwa dan Rafa mendengar cerita bapak itu. Rafa juga turut membantu Aishwa.
"Ini om sepatunya sudah selesai" Aishwa memberikan sepatu kepada pria itu.
"Makasih ya.. wah sepatunya berubah" Pria itu kemudian memakai sepatunya dan memberikan uang limapuluh ribu kepada Aishwa dan Rafa.
"Om. Gak ada uang kecil?" Tanya Aishwa
"Ambil aja kembaliannya, itu karena kalian sudah membuat om tertawa"
Bukannya terbalik, justru pria itu yang membuat mereka tertawa.
"Terima kasih om" seperti biasa, Aishwa membungkuk mengucapkan terima kasih.
"Sama sama, kerja yang bener ya. Biar kalian bisa sukses" ucap pria itu sembari memasang kacamatanya dan berlalu pergi.
Dua jam kemudian. Tidak ada lagi orang yang datang. Perut Aishwa terasa lapar. Dia melihat Rafa yang juga terduduk lesu. Sepertinya dia juga kelaparan.
"Rafa. Kamu nggak lapar?" Tanya Aishwa
__ADS_1
"Sebenarnya aku lapar tapi gak enak ninggalin kamu sendirian". Jawab Rafa
"Kalo gitu, kita beli makan yuk. Kan kita dapat rejeki hari ini".
"Iyya tapi yang murah aja yah"
"Okay".
Mereka masuk ke warung yang ada dekat situ dan melihat menu dan harga yang tertera didinding. Harga paling murah 15 ribuan. Dan sepertinya bagi mereka itu agak mahal. Diapun mencari tempat lain. Diujung jalan terlihat ada nasi uduk. Terpasang harga dibaliho "nasi Uduk cuma 5000".
Mereka pun akhirnya makan. Aishwa merasa baru kali ini dia makan enak walau harga cuma limaribu. Dan baru kali ini dia juga mendapat pelanggan yang membayarnya limapuluh ribu.
Sungguh rejeki tak terduga. Dan baru kali ini juga dia tersenyum hanya karena perihal kaos kaki.
***
Hari menjelang malam, mereka pulang bersama karena rumah mereka searah.
Dijalan mereka banyak ngobrol dan tanpa terasa mereka masuk di lorong rumah mereka. Ternyata rumah Rafa dekat dengan rumah Aishwa. Hanya sekitaran 20meter.
"Itu rumahku? Tapi hanya ngontrak" Rafa menunjuk rumah kontrakannya.
"Kalo aku yang disudut, pas samping taman kecil. Aishwa menunjuk kearah rumah kecilnya.
"Gak mau masuk dulu?" Tanya Rafa sembari membuka pintu rumahnya.
"Assalamu alaikum?" Rafa memberi salam masuk kerumahnya.
"Waalaikum salam" terdengar suara wanita dari dalam rumah. Wanita itu keluar dan Rafa mencium tangan ibu nya. Ibu Mia, mama Rafa masih sedikit terlihat muda. Dia memakai jilbab.
"Kakakkk" seorang anak kecil yang mungkin umurnya sekitar tiga tahun juga menyusul keluar menghampiri Rafa. Terlihat anak kecil itu menggendong boneka beruang milik Mr Bean. Hati hati loh nanti Mr Bean ngamuk.
"Ibu. itu teman ku. Aishwa"
"Oh ya.. Namanya cantik seperti orangnya" puji Ibunya Rafa.
"Gak masuk dulu nak Aishwa?" Tanyanya dengan lembut. Ibu Rafa orangnya sangat lembut dan penyayang. Tak sedikit pun dia pernah meninggikan suara kepada anaknya.
"Gak usah tante, rumahku diujung. Takutnya nanti ayah khawatir".
"Ya udah.. hati hati yah.".
Aishwa lalu pulang. Ada perasaan iri dan cemburu didalam hatinya melihat keluarga mereka begitu sempurna. Walau orang tua mereka cerai tapi mereka tetap masih bisa bahagia.
Seperti biasa, sebelum masuk rumah, Aishwa menghitung pendapatannya hari ini.
__ADS_1
"Lumayan hari ini dapat bersih enam puluh ribu"
Dia memasukkan uang sepuluh ribuan kedalam celengannya.