
Hari ini Aishwa berangkat sendiri. Karena Rafa sudah masuk sekolah. Untuk menghilangkan rasa bosannya berjalan sendiri, dia bernyanyi sambil mengayun ayunkan tangannya. Seorang bapak dari tadi mengikuti dan memperhatikan anak itu.
Setibanya di tempat biasa, dia duduk dibangku dan meminum air yang dia bawa.
Dari kejauhan terlihat seorang bapak yang menuju ke arah Aishwa. Aishwa menoleh dan melihat wajahnya yang tidak asing. Benar.. itu wajah yang mengikutinya kemarin.
Aishwa terlihat ketakutan dan ingin secepatnya berlari pergi dari situ. Baru saja dia mau berdiri, bapak itu berteriak memanggil namanya.
"Aishwa".
Aishwa kembali terduduk, dia gemetar ketakutan.
"Iiiiyaa pak, dompetnya udah aku kembalikannnn?" Aishwa tertunduk ketakutan.
Bapak itu melongo dan kemudian tertawa lepas.
"Hahahhahahaha"
Aishwa menaikkan wajahnya melihat bapak itu tertawa.
"Nama kamu Aishwa kan?" Tanya bapak itu masih tertawa.
"Iyya pak"
"Aduh.. ntar dulu.. om capek... harus mulai dari mana yah ngomongnya" ucap bapak itu ngos ngosan.
"Ini ada air minum pak, tapi sisa ku". Aishwa memberi air minum kepada bapak itu.
Tanpa pikir panjang, Bapak itu meminumnya sampai habis.
Aishwa ternganga.
"Gini Aishwa.. bapak sebenarnya pemimpin Rumah sakit. Udah lama bapak memperhatikan kamu dan teman barumu itu. Namanya siapa?"
"Rafa"
"Yaa.. om sebenarnya mau mempekerjakan kalian di rumah sakit".
Aishwa ternganga lagi.
"Jadi gini, om sengaja mau kontrak kalian untuk membersihkan sepatu para staf dan dokter yang ada dirumah sakit. Daripada mereka semua bersihkan sepatu diluar, mending kalian yang om pekerjakan dirumah sakit. Gimana?"
" Mau banget om.. tapi aku mau tanya ke papaku dulu" Jawab Aishwa dengan senyum lebar
"Oke. Aku tunggu kabar kamu yah"
Ternyata Pak Danu orangnya ramah, dia peduli sama orang orang kecil. Padahal dia adalah orang terpenting di rumah sakit. Maunya aja dia berjalan mengikuti Aishwa selama ini. Dan dia juga tidak terlihat jijik saat meminum air bekas Aishwa.
"Istri om cantik. Aku sampe gak bisa berkedip saat melihatnya" puji Aishwa
"Oh ya.. itu diluarnya aja. Kalo dalamnya, dia garang. Trus dia ga berhenti ngomel"
__ADS_1
Aishwa tak percaya istri Pak Danu orangnya cerewet.
"Om punya anak?" Tanya Aishwa
"Om punya dua, yang pertama laki laki umurnya 27 tahun namanya Fairuz. Trus yang kedua itu seperti kamu. Cantik dan manis, matanya juga mirip denganmu. Mungkin umurnya sedikit lebih muda darimu, bahkan namanya pun mirip denganmu. Namanya Niswa. Nama itu diberi oleh ibunya."
Saat mereka tengah ngobrol, seorang pria berjanggut datang. Kelihatannya dia mau semir sepatunya.
"Eh. Pak Danu" . Ucap pria itu dengan lembut sambil menunduk ke Pak Danu.
"Silahkan" Pak Danu memberi tempat duduk untuknya.
"Aishwa, kalo gitu om permisi". Pak Danu pamit lalu pergi
"Iyya Om.. hati hati dijalan" Aishwa melambaikan tangannya ke Pak Danu
"Dek. Kamu kenal bapak itu?" Tanya pria itu
"Mmmm... dia yang kenal sama aku"
"Oh yaa...kamu tau gak dia siapa?" Tanya Pria itu lagi
"Katanya direktur di Rumah sakit" Aishwa mengartikan begitu
" Trus bapak itu mau ya duduk disini disamping kamu. Kamu kan kotor" Pria itu menyinggung
"Dia yang datang disini duluan" Ucap Aishwa tak mempedulikan singgungan pria itu.
"Gak kok, malah tadi aku mau pergi tapi dia memanggil namaku. Jadi terpaksa aku ngobrol dengannya". Aishwa dengan polosnya.
Pria itu berusaha menjatuhkan Aishwa tapi tidak bisa. Malah dia yang di skak oleh jawaban jujur Aishwa.
Setelah sepatu pria itu selesai.
"Ini berapa dek tarifnya?"
"Seikhlasnya aja om".
"Hasilnya gak bagus dek. aku gak puas sama sekali. Lihat ini.. masih ada noda disepatu" Pria itu berusaha mencari celah ke Aishwa.
"Ya udah.. om gak usah bayar".
Pria itu sangat kesal karena dikalahkan lalu dia pergi.
Tak lama kemudian, Rafa muncul dengan seragam sekolahnya.
Aishwa melihatnya kagum. Terbesit rasa iri dihatinya. Gumamnya "kapan yah aku bisa memakai seragam seperti itu?".
"Kak Rafa" Teriak Aishwa.
Rafa mendekat
__ADS_1
"Gimana pelajaran disekolah tadi?" Aishwa penasaran
"Lumayan, sama seperti waktu di Medan dulu" jawab Rafa.
" Trus bagaimana teman teman kakak"
"Sebagian banyak yang mendekat, sebagiannya juga cuek"
Aishwa menjelaskan tentang yang terjadi tadi. Tentang Pak Danu. Dia juga menjelaskan bahwa Pak Danu memanggilnya bekerja dirumah sakit.
"Kamu menerima tawaran itu?" Tanya Rafa
"Mau tanya ke papa dulu".
"Mmmmm.. aku juga mau tanya ke Ibuku dulu".
Hampir malam, mereka pulang.
Aishwa seperti biasa dia ke semak semak untuk menghitung penghasilannya hari itu.
"Dia dapat tigapuluh ribu". Kemudian dia menggali tanah tempat biasa menyimpan celengannya. Dia menggali lebih dalam tapi celengannya tak ketemu. Dia bingung, dia mencari kesana kemari disekitar semak semak. Tapi dia tidak menemukannya. Dia terduduk dan murung.
"Uangkuuuuu" batinnya menangis.
Selama setahun ini dia menabung tapi semua sia sia. Dia harus kembali dari awal. Bahkan dia tak tau isi celengan itu sudah berapa. Dia menangis dalam hatinya, ada perasaan sakit di dadanya.
Dia baru ingat, beberapa hari ini dia tidak pernah mengecek celengannya. Tidak ada yang dia curigai karena hanya dia seorang yang tau tempat menyimpan celengan itu.
Kemudian dia masuk kedalam rumahnya dengan wajah lusuhnya. Tapi dia tidak menampakkan ke ayahnya. Karena ayahnya juga tidak tau bahwa selama ini Aishwa diam diam menyimpan uang.
Terlihat ayahnya tengah memasak sesuatu yang enak. Aishwa tergoda dengan aroma masakan itu. Dia mendekati ayahnya.
"Ayah masak apa?" Tanya Aishwa
"Semur ayam"
"Oh yaa" Dia berlari menuju ke ayahnya.
Aishwa mengambil piring dan menaruhnya dilantai tempat mereka akan makan.
Mereka pun makan dengan lahap. Aishwa berpikir selama hidupnya baru kali ini dia makan enak.
Setelah makan, Aishwa menjelaskan kepada ayahnya tentang Pak Danu yang mengikutinya selama ini, tentang dompet, dan tentang tawaran pekerjaan untuknya di rumah sakit.
"Begitu" Jawaban ayahnya singkat.
"Gimana ayah?"
"Terserah kamu aja, asal disana gak boleh ada yang menghinamu. Karena dia harus berhadapan dengan ayah jika mereka menghinamu"
"Terima kasih ayah".
__ADS_1