
"Jangan berlarian Alzent" sahut orang tua itu, seorang laki-laki berbadan kekar, salah satu pahlawan yang masih hidup hingga sekarang dan masih terlihat berumur 40an.
"Paman Yugar, lihat aku berhasil menemukan sebuah kristal" kata Alzent, bocah tampan dengan rambut berwarna putih serta mata ungu terang yang tajam namun indah.
"Bolehkah paman melihatnya?"
Alzent mengangguk ceria, mengacungkan sebuah kristal berwarna merah gelap yang mengeluarkan aura hitam-kemerahan "Ini dia"
Dengan cepat, Yugar merebut kristal tersebut, menghancurkannya. Wajahnya terlihat tidak senang "Dimana kau menemukannya, Alzent?"
"D-disana" tunjuk Alzent ke balik semak belukar dengan duri-duri tajam yang tampak tidak lazim "A-apakah aku bakal dihukum?" tanyanya, berusaha menahan tangis.
Wajah Yugar melunak, lalu tersenyum "Tentu saja tidak. Namun, jangan pernah menyentuh kristal merah itu lagi, janji pada paman" sambil mengacak-acak rambut Alzent
"Baik!" sahutnya, kembali ceria "Ouch" desis si bocah tampan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yugar.
"Tidak apa-apa" jawab Alzent cepat, menyunggingkan senyum lebar dan kembali berlarian dalam hutan, mencoba mencari serigala putih cantik yang tanpa sengaja ditemuinya semalam ketika kabur dari pengawasan Yugar.
Dan Yugar tidak sadar jika jari telunjuk Alzent tanpa sengaja terluka akibat tergores ujung kristal merah tersebut dan sedikit aura gelap masuk melaluinya, membuat salah satu warna mata Zent berubah sedikit kemerahan.
Malam harinya, Alzent kembali melakukan hal yang sama, kabur dari dalam rumah, duduk di sebuah batu dekat air terjun, menunggu datangnya serigala kecil cantik dengan bulu putih bersih yang selalu muncul di tempat ia duduk skrg.
Tidak lama terdengar grasak grusuk dari semak-semak, Alzent tersenyum lebar, tapi senyumannya menghilang begitu melihat sosok serigala besar berbulu hitam pekat serta warna mata merah terang seakan serigala itu bukankah mahluk hidup.
"Ahhh!" jeritnya, terjatuh dan berbalik melihat serigala yang kini siap menerkam "T-tolong aku.. siapapun, paman... Tolong aku!"
Begitu serigala hitam melompat, seekor serigala kecil menggigit lehernya, mendorongnya hingga jatuh menghantam bebatuan tajam di pinggir sungai, darah kehitaman mengalir mengikuti arus sungai.
Alzent segera berdiri, berlari ingin melihat serigala kecil tersebut, tapi kesadarannya menghilang dengan darah yang sudah mengalir banyak dari lukanya.
__ADS_1
"Ahhh!"
"Alzent, ada apa?" tanya Yugar khawatir, langsung meninggalkan kegiatannya, berlari mendekat.
"Ha? Umm, paman sejak kapan aku berada di tempat tidur?" tanyanya bingung.
"Kau menjerit karena tempat tidur?" Yugar berusaha menahan tawanya, namun terlepas.
"Bukan begitu paman, ah sudahlah. Aku ingin berlatih lalu kembali ke dalam hutan"
Yugar melihat bocah kecil yang kini melangkah keluar ruangan, senyumannya tergantikan dengan kekhawatiran "Tampaknya tidak lama lagi bocah itu harus menjalani takdirnya, pertemuannya dengan The Heart of Forest..." menghela napas panjang "Arthur, anakmu benar-benar mirip denganmu"
"Bukannya semalam aku diserang serigala hitam besar yah? Mimpi?" Alzent meraba bagian belakang tubuhnya, mencoba menemukan luka bekas cakaran tersebut "Ahh, ada bekasnya, kok tidak sakit? Apakah aku.. manusia super?" Alzent langsung melompat-lompat kegirangan dan semakin bersemangat untuk berlatih menggunakan pedang kayu.
Bagaimana kalau dia tahu dirinya adalah pahlawan di masa depan? Mungkin Alzent akan mencoba melawan monster tanpa rasa takut.
__ADS_1