Rise Of The Seeker

Rise Of The Seeker
The Sacred Wolf


__ADS_3

Beberapa tahun telah terlewati dan kini Alzent menginjak 17 tahun, sebuah usia dimana ia akhirnya dapat dikatakan dewasa, meskipun belum dalam mental dan pikiran.


Selama beberapa tahun terakhir ia menjalani pendidikan di Akademi Aria Light, akademi besar tempat remaja-remaja berbakat berkumpul dan saling bertarung untuk memperebutkan tingkat pertama atau sekadar belajar serta mencari teman.


Sayangnya Alzent tidak mendapatkan semua itu, ia mesti menjalani hari di Akademi dengan keras, menerima segala macam perlakuan yang begitu buruk hanya karena sihir dalam tubuhnya tak mau keluar. Begitu banyak tabib merawatnya, namun tak satupun berhasil, bahkan pamannya sendiri tidak tahu alasannya.


Setiap harinya Alzent harus dibully di tengah-tengah keramaian, di hadapan para murid, menjadi samsak tinju atau sekedar menjadi babu bagi para anak bangsawan tidak tahu diri yang merasa dirinya begitu berkuasa.


Alzent sama sekali tidak pernah menunjukkan kesedihan atau emosi, ia hanya akan terus tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa. Tak seorangpun tahu jika dirinya selalu menangis di sebuah bukit tak jauh dari akademi sambil menatap bintang.


"Mengapa semua orang membenciku?"


Itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam kepalanya dan hingga saat ini tak mampu hilang, bahkan semakin menjadi dan Alzent mulai menerima hal tersebut.


Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-17, kebetulan adalah hari akademi libur, jadi Alzent kembali menemui pamannya serta sudah tidak sabar untuk menemui seekor serigala putih yang selalu menemaninya.


"Selamat ulang tahun Alzent" sahut paman, merangkul Alzent dengan kuat.


"P-paman... "


"Oh, maaf. Paman terlalu bahagia melihatmu kini sudah beranjak dewasa, bahkan dirimu makin tampan" senyuman khas paman muncul "Jadi bagaimana? Sudah menemukan seorang gadis disana?"


Alzent menghela napas "Paman tahu sendiri bagaimana kehidupanku di sekolah. Seandainya aku bisa menggunakan sihir, mungkin aku mudah mendapatkan seorang gadis. Sayangnya di akademi wajah adalah faktor kedua, kekuatan selalu pertama"


Melipat lengannya "Yahh, itu memang benar. Namun, benarkah tidak seorangpun gadis jatuh hati pada tampangmu? Jujur saja, kau adalah remaja tertampan yang paman pernah temukan"


Alzent hanya bisa tertawa pasrah "Aku berharap seorang gadis yang mengucapkannya dan bukanlah paman yang seorang laki-laki"


Paman hanya tertawa mendengarnya, lalu mengambil sebuah pedang panjang serta tipis dari dalam sebuah lemari yang sejak Alzent masih kecil, selalu dikunci rapat.


"Ini adalah pedang milik Arthur, sang pahlawan yang menyelamatkan dunia ini dari ancaman bangsa Demon. Ini untukmu"

__ADS_1


Alzent menggenggam pedang yang terasa ringan namun indah itu. Ia terlihat bahagia sekaligus bingung "I-ini sangat bagus, tapi kenapa aku? Aku merasa tidak pantas menggunakannya, bahkan menggenggamnya seperti ini aku merasa-


Paman memegang kedua pundak Alzent, tatapannya berubah serius "Paman ingin menceritakan sesuatu yang sejujurnya sudah sejak lama ingin paman ceritakan, namun ayahmu meminta paman untuk menceritakannya ketika kau telah berumur 17 tahun"


"A-ayahku?" Alzent seketika sadar "Jangan bilang.."


Paman mengangguk pelan "Ya, itu benar. Arthur Zenorya adalah ayahmu, sang pahlawan dan kau Alzent Zenorya adalah anaknya"


Selama beberapa jam ke depan, paman menceritakan awal ketika Arthur meminta tolong untuk menjaga serta merawat Alzent, seandainya hal buruk terjadi padanya, tapi paman tak pernah tau alasan dirinya mesti dibekukan selama 500 tahun, waktu yang begitu lama sehingga nama Arthur Zenorya hanyalah sebuah legenda saja.


Yang paman tahu dari Arthur adalah segel pada portal akan melemah 500 tahun kemudian dan sudah menjadi takdir Alzent untuk menghentikannya, bagaimanapun caranya, Alzent harus berhasil menyegel kembali portal tersebut.


Tentu saja sesudah mendengar semua hal itu, Alzent masih tidak percaya bahwa dirinya adalah anak kandung dari seorang pahlawan legendaris yang dibekukan. Tapi, karena Alzent adalah anak yang pintar, ia tahu ada yang sedikit janggal dengan cerita paman, mungkin ada beberapa hal yang sengaja disembunyikan karena masih terlalu berat bagi dia, jadi Alzent sengaja berpura-pura tidak tahu.


Malamnya, si remaja tampan itu duduk di atas sebuah batu yang dulunya sering menjadi tempat peristirahatan atau sekedar untuk menenangkan diri.


Ia ingin memikirkan peran yang baru saja di berikan olehnya, tapi sesuai dugaan, ia masih belum bisa menerima segalanya dengan mudah. Bahkan Alzent sempat mengira pamannya hanya ngeprank dia karena ini hari ulang tahun, namun melihat pedang indah di pinggangnya, Alzent mengerti ini bukanlah sebuah candaan.


Alzent bangkit berdiri dan bergegas menuju ke asal suara.


"T-tolong!"


Seekor serigala hitam berukuran seekor sapi dengan warna mata kemerahan berlari mengejar seorang gadis dengan rambut seputih salju yang di beberapa bagian tubuhnya terdapat bekas luka cakaran besar.


Begitu serigala sudah sangat dekat dengannya, Alzent melompat dan menendang serigala tersebut hingga terlempar cukup jauh, mengangkat gadis tersebut dengan lembut "Tolong tunggu aku, aku akan segera menyembuhkan lukamu itu" katanya.


Gadis itu terdiam mendengar Alzent, di satu sisi ia merasa remaja tampan tersebut sedang menyombongkan diri dan di lain pihak ia merasa Alzent begitu keren.


Tanpa butuh waktu lama maupun sihir, Alzent membunuh binatang Demon itu dengan mudah seakan memburu serigala biasa.


Alzent benar-benar kaget merasa pedang ayahnya ternyata begitu tajam. Ia merasa seperti sedang memotong mentega.

__ADS_1


"Umm terima kasih"


Remaja tampan menggelengkan kepala, mengambil beberapa daun di sekitar yang kemudian diikat ke luka "Dengan begini, lukanya tidak akan infeksi dan tentu saja menekan pendarahan"


'Tampaknya dia tidak mengingatku' pikir si gadis cantik.


"Oh iya, maaf lupa mengenalkan diri, namaku Alzent Zenorya" kata Alzent bersemangat mengetahui dirinya baru saja menyelamatkan seorang gadis cantik.


"Namaku Yuna Elforiant, terima kasih tuan Alzent sudah berniat untuk menyelamatkanku. Aku akan melakukan apa saja untuk membalas jasamu"


"Umm, tolong panggil saja aku Alzent dan tidak perlu berbicara terlalu formal padaku" pintanya sambil tertawa gugup.


"Bukannya bangsawan mesti diperlakukan dengan hormat?"


"Aku bukanlah bangsawan"


Yuna memiringkan kepalanya "Tapi bagiku kau terlihat seperti seorang bangsawan, bangsawan yang sangat besar. Terlebih aku melihat warna matamu adalah Ungu, hanya para bangsawan tertentu di masa lalu yang memilikinya" melihat Alzent terkejut, Yuna tersenyum senang.


"Benarkah? Aku bukanlah siapa-siapa, sepertinya kau sudah salah paham tentang diriku" jelas Alzent cepat, mengingat paman meminta Alzent untuk merahasiakannya.


'Aku sudah tahu siapa dirimu Alzent, tapi kau lucu juga kalau panik' Yuna tertawa sendiri memikirkan itu, menatap Alzent cukup lama dan melangkah mendekat 'Mengapa dia masih belum juga menyadari siapa diriku? Aku yang selalu menemanimu setiap malam'


Alzent semakin bingung melihat sikap Yuna, melangkah mundur hingga menabrak batang pohon. Begitu akan kabur, Yuna meletakkan kedua tangannya di kiri-kanan "Kenapa kau terlihat takut padaku? Apakah bagimu aku mengerikan? "


Alzent teringat sesuatu 'Kenapa kalian membenciku? Apakah bagi kalian aku hanya bayangan?' "Bukan seperti itu, hanya saja kau memiliki mata hijau yang sangat indah, aku sedikit gugup melihatnya"


Yuna tersipu mendengarnya, melangkah mundur "Ohh, maaf sudah mencurigaimu. Aku hanya terlalu senang menemukan manusia di dalam hutan ini, aku suka banget mendengarkan cerita mengenai kalian"


"Tunggu, kau berbicara seakan-akan dirimu bukanlah manusia" potong Alzent, bersiap meraih gagang pedangnya.


"Aku adalah Heart of The Forest"

__ADS_1


,


__ADS_2