Rise Of The Seeker

Rise Of The Seeker
Happy Birthday


__ADS_3

Bulan purnama bulat sempurna di langit malam berhiaskan bintang-bintang gemerlapan.


Angin berhembus pelan menerbangkan rambut panjangnya, membuat Alzent terpana untuk sesaat terlebih ketika sinar rembulan menyinari warna mata hijaunya yang sangat indah.


Deg!


Jantung Alzent berdegup sangat kencang, ia meraba dadanya merasakan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan dan mencoba untuk tidak percaya jika dirinya benar-benar menemukannya.


"Ada apa?" tanya Yuna khawatir.


"Oh, tidak ada apa-apa" jawab Alzent cepat "Um, mau ikut denganku? Aku tahu sebuah tempat indah untuk beristirahat jika kau mau" ajaknya tanpa mengetahui bahwa Yuna adalah serigala kecil yang selalu menemaninya.


'Tampaknya dia benar-benar tidak tahu, biarkan waktu yang memberi tahu' Yuna menghela napas panjang, merasa sedikit kecewa namun karena perasaannya pada Alzent sejak dulu, ia akan menunggu tidak perduli seberapa lama "Ya, tunjukkan padaku"


Malam itu, angin terus berhembus pelan. Alzent masih memikirkan kemana serigala itu pergi dan niat mencarinya, karena hanya dialah satu-satunya teman bagi Alzent.


"Kau tampak murung, ada apa?" tanya Yuna.


Alzent mengambil sebuah batu dan melemparkannya menelusuri sungai "Sebenarnya aku menunggu seekor serigala putih yang selalu menemaniku disini, hanya dia teman yang aku miliki, sedangkan di Akademi aku bukanlah siapa-siapa, cuma seorang murid tanpa kekuatan sihir yang tiap harinya ditindas tanpa bisa melawan" Alzent melempar sebuah batu lagi yang kini berhasil terpantul cukup jauh "Nice"


"Apa maksudmu kau tidak memiliki kekuatan sihir?"


"Aku memang tidak memilikinya, entah sejak kapan. Ketika umurku masih 7 tahun, aku bisa menggunakan sihir yang bahkan terlalu besar bagi bocah seumuranku. Aku mengira aku bakalan memiliki banyak teman serta menjadi yang paling kuat di Akademi, tapi lihat aku sekarang, seorang remaja yang baru saja berulang tahun, sebuah usia dewasa namun aku masih saja mengeluh akan hal ini"


Yuna bangkit berdiri, mengambil sebuah batu dan ikut melempar "Tak ada salahnya dirimu mengeluh, bukan karena dirimu adalah orang dewasa kau tidak bisa mengeluh" berhasil melampaui batu lemparan Alzent "Yess... Justru karena dirimu sudah mencapai usia dewasa, keluhan itu diperlukan untuk membuat dirimu semakin matang dan pintar mencerna situasi. Hanya saja, jangan terlalu sering melakukannya dan lebih baik keluhan itu disimpan untuk dirimu sendiri"


Alzent berhenti melempar batu, duduk di atas batu besar favoritnya, melihat bintang bertaburan di angkasa "Kau tahu, aku ingin menjadi seperti salah satu bintang itu, bersinar terang menghiasi langit malam yang gelap"

__ADS_1


Yuna ikut duduk di sampingnya "Kenapa harus menjadi bintang ketika bisa menjadi bulan? Mungkin hilangnya kekuatan sihirmu saat ini sama ketika bulan sedang memasuki fase pertama dan secara perlahan bangkit menunjukkan keindahannnya, sama seperti dirimu"


"Aku sangat ingin mempercayai hal tersebut, namun aku juga takut untuk menerima sesuatu yang memiliki tanggung jawab sebesar itu"


"Mengapa tidak berharap saja?"


Alzent tersentak kaget "Eh?"


"Karena jika percaya itu berat, mengapa tidak berharap? Harapan itu mudah untuk diterima dan membuatmu mendapatkan tujuan hidup baru, meskipun nantinya harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan, kau cukup menjalani hidup selagi mencari harapan yang baru hingga dirimu benar-benar mendapatkan sesuatu yang dapat kau percaya, sebab kepercayaan itu mahal dan akan sulit diperbaiki jika telah rusak"


Alzent terdiam mendengarnya, tak disangka seorang gadis yang kelihatan masih lebih muda ini memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya. Ia mengepalkan tangan dengan kuat "Baiklah, sesuai kata-katamu, aku akan menjalani hidup sebagai seorang pahlawan"


"Pfft" Yuna tak mampu menahan tawanya hingga akhirnya lepas "Apa? Pahlawan? Kau boleh saja berharap, tapi itu terlalu tinggi"


Alzent menarik pedangnya, melompat ke belakang Yuna dan menebas leher seekor serigala hitam besar "Ya, aku tau menjadi seorang pahlawan itu adalah peran yang cukup besar, tapi.." menatap Yuna "Dalam hidup ini, kita harus menerima segala sesuatu yang telah diberikan pada kita bukan?"


Yuna tersenyum "Baiklah, aku mengerti. Sebuah tanggung jawab besar dibutuhkan untuk menggenggam pedang tersebut bukan?"


"Bukan hanya tahu, kakekku lah yang menempa senjata tersebut dan kini aku benar-benar tau siapa dirimu yang sebenarnya" Yuna melangkah pelan mendekati remaja di depannya "Alzent Zenorya, aku baru ingat kalau nama belakang paman Arthur itu Zenorya. Kau adalah anak dari Arthur Zenorya"


Alzent menjadi panik mengingat pamannya melarang Alzent memberitahukan identitas aslinya kepada orang lain "Umm, aku harus segera pulang ke rumah"


"Ah, kebetulan. Aku juga harus menemui paman Yugar untuk membicarakan sesuatu"


Mau tidak mau, Alzent mengiyakan Yuna untuk ikut bersamanya, mendengar ia ternyata mengenal paman Yugar, mungkin saja Yuna adalah orang penting atau salah satu dari murid yang disembunyikannya?


Begitu sampai di dalam rumah, Yugar terkejut menatap sosok di belakang Alzent dan segera menarik Alzent menjauh, berbisik "Mengapa kau membawanya kemari?"

__ADS_1


"Dia yg memintanya" bales Alzent bingung.


"Paman tahu kau berusaha mencari seorang gadis, tapi kenapa harus dia? Kenapa harus Heart of The Forest?"


"Sebenarnya Heart of The Forest itu apa?"


"Ehem"


"Ahh, maafkan ketidaksopanan ku putri Yuna" dengan cepat Yugar berlutut di hadapan Yuna sambil mengutuk Alzent secara pelan "Kau akan lihat pembalasannya Alzent"


Meskipun masih bingung dengan situasinya, Alzent juga ikut berlutut, membalas "Ini termasuk salahmu karena tidak pernah memberitahu diirinya itu siapa"


Mereka berdua bangkit berdiri "Apa maksudmu? Kau selalu menemuinya setiap malam, bahkan dialah yang menyelamatkan nyawamu ketika dirimu masih seorang bocah"


Alzent semakin bingung, lalu memerhatikan Yuna 'aku pernah bertemu dengan dia?' seketika ia tersentak dan terdiam "Jangan-jangan... kau adalah serigala kecil yang selalu menemaniku?!"


Yuna tersenyum lembut, senyuman yang sejak tadi ingin ditunjukkannya "Aku senang kau mengetahuinya"


Selama Yuna dan Yugar berbicara mengenai sesuatu yang sangat rahasia, Alzent sempat mendengar dari balik pintu kata-kata yang paling disebut adalah 'The Legion dan The Seeker' sesudahnya Alzent tidak mampu mendengar apa-apa lagi dan memilih untuk berbaring di sebuah bangku, tak lama jatuh tidur.


Ketika Yuna keluar, mereka melihat si remaja tampan yang memiliki takdir begitu besar, tidur dengan nyaman tanpa memedulikan dunia, membuat mereka tersenyum, berharap Alzent dapat memiliki kedamaian itu sedikit lebih lama.


Yuna melangkah mendekat, menundukkan kepalanya, mencium Alzent di bibir cukup lama. Yugar sedikit tidak nyaman serta iri melihat Alzent mendapatkan hati seorang tuan putri yang seperti malaikat.


"Happy birthday Alzent" ia menciumnya lagi hingga sebuah tanda di pundak Alzent muncul, sebuah lambang kupu-kupu berwarna biru indah.


"T-tuan putri, itu adalah...

__ADS_1


Yuna tersenyum " Aku tahu dan aku sudah siap menerima konsekuensinya" tatapannya melembut "Tolong jaga dirinya untukku, aku benar-benar sayang padanya" pinta Yuna, kemudian berubah menjadi sosok serigala dengan ukuran besar dan menghilang ke dalam hutan.


Yugar menatap remaja di hadapannya "Kau selalu saja mendatangkan masalah, kini kau menjadi tunangan sekaligus pemilik Heart of The Forest, apalagi yang akan dirimu dapatkan dengan wajahmu itu" ceramahnya sambil mengangkat Alzent di pundak masuk ke dalam rumah.


__ADS_2