
Sesudah menghabiskan waktu selama seminggu bersama Yugar, Alzent kembali ke Akademi. Namun semenjak malam itu, Yuna tidak pernah menunjukkan dirinya, seakan dia menghilang dari dunia.
Alzent merasa sedikit kecewa tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, tapi entah mengapa sesuatu di dalam dirinya mengatakan kalau mereka akan bertemu tidak lama lagi.
Gerbang besar yang terbentuk dari patung berbentuk sepasang ksatria yang sedang berlutut sambil menggenggam pedangnya ke tanah. Alzent cukup lama berdiri di depan gerbang Akademi, menarik napas panjang bersiap untuk menjalani hari sebagai murid, lagipula tersisa setahun lagi baginya untuk lulus dan masuk dalam pelatihan menghadapi monster yang sesungguhnya, walaupun sebenarnya ia sudah menghadapi monster asli ketika masih kecil.
"Hei bos lihat, si pecundang telah kembali membawa sebuah pedang yang sangat bagus" bisik salah seorang dari beberapa murid di depan sebuah Tavern (kedai minuman).
Seorang murid yang memiliki rambut merah berduri serta badan kekar menatap Alzent, tersenyum lebar dan melangkah mendekatinya "Yo Alzent"
"Hahh, datang juga si biang masalah" keluh Alzent, berhenti melangkah "Hai Gerald, ada urusan apa denganku?" tanyanya sambil tersenyum ramah.
"Tentu saja menemui temanku, kita ini teman bukan?" Gerald tertawa lantang, merangkul pundak Alzent "Aku lihat kau membawa sebuah pedang yang sangat menarik"
Alzent melepaskan rangkulan murid itu, kembali melangkahkan kaki "Maaf, tapi aku sedang sibuk. Tolong jangan ganggu diriku" pintanya.
Senyuman ramah Gerald menghilang, ia berlari dan menendang Alzent cukup keras "Jangan berlagak seenaknya hanya karena kau tidak bertemu denganku selama seminggu!"
Ia menyeka mulutnya, membersihkan tubuh sesudah terlempar lumayan jauh "Apa hubungannya diriku yang pergi dengan sifatku? Aku hanya tidak ingin diganggu untuk saat ini, lain kali saja"
Gerald merasa dirinya telah dipermalukan oleh sosok lemah seperti Alzent, lalu mengeluarkan mana berwarna oranye "Kau akan membayar ini Alzent! Firebolt!" sebuah bola api besar terbentuk dari telapak tangannya dan melesat cepat.
Karena suasana hatinya sedang buruk, Alzent menggunakan sedikit dari kemampuan yang selama ini diasahnya melalui latihan keras Yugar. Ia melompat ke belakang menghindari bola api tersebut, sekaligus menebasnya menjadi dua "Aku sudah bilang, aku tidak ingin diganggu" katanya sedikit mengancam.
Kerumunan murid mulai tercipta, banyak yang terkejut melihat kemampuan tidak biasa Alzent, terlebih tanpa menggunakan mana sedikitpun.
__ADS_1
Gerald merasa harga dirinya dipertaruhkan disini, sehingga mengeluarkan beberapa bola api lagi yang tanpa ampun diluncurkan untuk melukai Alzent, namun jauh lebih menakjubkan dari sebelumnya, Alzent menebas semua bola api itu, dalam sekejap mata sudah berada di hadapan Gerald dengan sisi tajam pedang siap mengiris lehernya "Aku sudah katakan padamu, aku tidak ingin diganggu. Apakah sesulit itu untuk tidak merindukan diriku?"
Gerald tidak mampu membalas, ia terdiam di tempat melihat tatapan yang begitu tajam seakan bukan milik manusia dan terjatuh di tanah menatap pundak Alzent yang semakin lama semakin menjauh dari kerumunan yang membukakan jalan untuknya. Tak seorangpun mengira Alzent selama ini menyembunyikan kemampuannya yang hanya 1% keluar.
Kabar mengenai Alzent yang mempermalukan Gerald telah menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Akademi, bahkan hingga ke telinga para guru yang selalu menatap Alzent sebelah mata, tak pernah menganggapnya sekalipun sehingga merencanakan sesuatu yang buruk agar Alzent tidak bisa berkembang di Akademi.
Begitu mencapai kamar di asrama, Alzent segera berbaring di atas kasur, mencoba menenangkan diri "Aku tidak boleh lepas kendali" kata Alzent mengingatkan dirinya.
Alzent kembali mengingat latihannya 3 hari yang lalu ketika berhadapan dengan paman Yugar, ia sempat kehilangan kendali pada emosinya. Kekuatannya memang meningkat drastis, tapi sisi kemanusiaan Alzent menghilang, ia terlihat menjadi sosok yang berbeda dengan salah satu pupil mata berwarna merah darah. Untungnya Yugar berhasil membuat Alzent pingsan, sejak itu Yugar meminta Alzent untuk mengendalikan emosinya atau akan ada banyak korban berjatuhan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?" tanya Alzent, menatap telapak tangan kirinya, ia tersentak kaget begitu melihat cahaya kemerahan mengalir di setiap uratnya "Apa-apaan?" ia bergegas mencari sebuah cermin "Hah!?" warna mata kirinya berubah menjadi merah darah dan setiap urat di sekitarnya ikut berubah oranye kemerahan.
Alzent meletakkan kembali cermin tersebut, duduk di pinggir kasur, menenangkan diri "Oke, tenang Alzent. Semua ini pasti ada penjelasannya, aku hanya harus tenang" menarik napas dalam, menghembuskannya.
"Suara itu.." dengan cepat Alzent membuka pintu tapi tidak melepas rantainya, menyembunyikan bagian kiri tubuhnya di balik pintu "Ohh Lisa, ada apa?"
Seorang gadis cantik dengan rambut pirang serta mata sebiru samudra berdiri di depan pintu, melipat kedua lengannya di belakang, sedikit cemberut melihat Alzent tidak membuka rantainya "Mengapa kau tidak membukanya? Ada yang harus kubicarakan denganmu"
"Haha, bisa nanti saja? Ada yang harus kulakukan sekarang" balas Alzent, mencoba sebaik mungkin memasang senyuman ramah.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Lisa curiga.
"T-tidak ada. Sudah dulu yah, ini benar-benar penting" Alzent menutup pintu, menguncinya tanpa memedulikan sahutan Lisa dan kembali berbaring di atas kasur "Apa yang harus kulakukan untuk menutupi ini?"
"Alzent! Kau tega mengunci-
__ADS_1
" Lisa! Aku sudah mengatakan untuk tidak menggunakan sihir teleportasimu di kamarku" bentak Alzent.
"M-maafkan aku. A-apa yang terjadi padamu?" tanya Lisa khawatir.
Alzent menghela napas panjang, menjelaskan jika dirinya juga tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi mungkin ada hubungannya dengan ia yang mampu mengalahkan Gerald begitu mudah.
"Kau harus menyembunyikan ini atau para guru akan memaksamu menjadi bahan penelitian. Skenario terburuknya kau mungkin akan dibunuh jika dianggap berbahaya, apalagi kau dikenal sebagai murid tidak berguna" jelas Lisa dengan lantang.
"Terima kasih sudah mengingatkanku" balas Alzent, bangkit berdiri, melihat lengan kirinya. Seketika sebuah bola api berwarna hitam muncul, api itu terasa dingin, namun sangat panas bagi Lisa "Aku bisa menggunakan sihir?"
"Alzent, ini keajaiban!" sahut Lisa gembira.
"Sebegitu menyedihkannya diriku hingga dirimu bahagia begitu?" Alzent tertawa pelan "Tapi ini belum tentu keajaiban, kita tidak tahu ini sihir apa dan bisa saja ini membawa bencana. Sebelum kita tahu sihir ini berbahaya atau tidak, aku tidak akan menggunakannya kecuali terpaksa"
"Alzent keluarlah!"
"Sepertinya Gerald kembali membawa masalah padamu"
"Segera kembali ke kamarmu Lisa, aku tidak ingin dirimu terlibat masalah karena diriku" Alzent segera lompat dari jendela ke bawah, menghadap Gerald yang tersentak kaget "Ada apa?" tanyanya.
Gerald menunjuk Alzent "Aku menantangmu untuk berduel di arena"
Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah mereka berdua dan kabar mengenai duel itu seketika menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Dengan kata lain, Gerald menantang Alzent untuk berduel hingga mati, sebuah duel yang berbahaya dan tentu saja akan disaksikan oleh semuanya termasuk para guru.
Beberapa guru yang mendengar berita ini, tersenyum lebar mengetahui rencana mereka untuk menghancurkan Alzent semakin mudah.
__ADS_1