Rise Of The Seeker

Rise Of The Seeker
Duel #2


__ADS_3

Alzent dan kelima murid sudah bertukar jurus lebih dari 100 kali, namun Alzent masih dapat bertahan tanpa ada niat untuk melukai mereka, sedangkan mereka semakin putus asa untuk membunuh Alzent.


"Bisa tolong berhenti? Aku benar-benar tidak ingin melukai kalian" pinta Alzent sambil menghindari sambaran petir serta hembusan angin tajam.


"Kalau begitu, matilah untuk kami!"


Alzent berusaha sekuat tenaga menghindari setiap sambarannya selagi menebas sihir api yang terus melesat ke arahnya tanpa berhenti.


Arena kini telah tidak berbentuk karenanya, tentu saja akan memakan biasa yang tidak sedikit untuk memperbaiki arena, namun jika kepala Alzent dapat menjadi pajangan, setidaknya itu harga yang pantas, pikir kepala sekolah mereka.


Alzent benar-benar tidak mengerti alasan dirinya begitu dibenci di dalam Akademi, entah itu oleh murid maupun gurunya. Alzent sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan, selalu mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran teori serta tidak pernah membalas perbuatan buruk pada dirinya.


"Sebenarnya apa yang telah kulakukan sehingga kalian benar-benar membenci diriku!?" teriak Alzent tidak mampu menahan perasaannya "Aku meminta maaf jika ada"


Sang pemimpin ke-5 murid itu menjawab "Sebenarnya kau adalah murid yang rajin dan baik Alzent, sayangnya keberadaanmu itu merusak citra Akademi ini. Kami tidak membutuhkan permintaan maafmu, yang kami butuhkan adalah nyawamu"


Selama beberapa menit berikutnya, Alzent terus menghindari serangan mereka hingga seorang gadis dari kelompok mereka, jatuh kelelahan tidak mampu mengeluarkan mana lebih banyak lagi.


"Ashley! Bangkit berdiri, dia masih hidup!" perintah pemimpin mereka. Dengan susah payah gadis bernama Ashley itu bangkit berdiri, mengumpulkan mana dalam jumlah besar dan melepaskannya ke arah Alzent.


Alzent merasa kasihan tehadap gadis tersebut, jadi ia sengaja menabrakkan dirinya ke arah bola api itu dan terlempar cukup jauh ke belakang. Tentu saja Alzent melakukannya agar terlihat seperti kecelakaan sehingga tak ada yang menyadari maksud sebenarnya kecuali si gadis bernama Ashley itu yang langsung tersenyum lembut pada Alzent dan dibalas dengana anggukkan.


"Kerja bagus Ashley, kau bisa beristirahat sekarang. Yang lainnya, kita harus tetap berusaha mengambil kepala Alzent. Jika kita menang, mungkin kita akan dipromosikan menjadi anggota The Legion" sahut sang pemimpin, mengumpulkan mananya, mengarahkan kedua tangan ke atas "Violet Thunderain!"


Tepat di atas arena pertarungan, sebuah awan badai terbentuk membawa angin kencang dan petir keunguan yang terus menyambar tanpa henti.


"Flaming Burst!" sahut seorang gadis berelemen api selain Ashley yang karena sihirnya membuat Alzent kesulitan menghindari sambaran petir, sekaligus harus menghindari api yang menyembur dari bawah.


Dua anggota lainnya tak tinggal diam. Mereka mulai memunculkan jurus masing-masing yang terhitung hebat bagi manusia lainnya namun terlihat seperti sihir anak kecil di mata Alzent.

__ADS_1


"Aku mohon berhenti, kita bisa menyelesaikan ini bersama-sama, tidak perlu menggunakan kekerasan" jelas Alzent mulai kehilangan kendali.


"Tutup mulutmu Alzent. Tidak ada yang namanya jalan negosiasi, nyawamu adalah kunci agar hidup kami semua kembali damai!"


Alzent tidak bisa menghindar atau serangan sang pemimpin mengenai Ashley yang kebetulan baru saja kembali dari peristirahatan. Sebagai gantinya, Alzent terkena serangan listrik yang cukup tinggi sekaligus dihujani dengan petir dan ditambah serangan api dari gadis sebelumnya.


"Kau baik-baik saja bukan?" tanya Alzent pada Ashley.


Gadis itu mengangguk pelan "Terima kasih sudah melindungiku. Aku benar-benar minta maaf harus seperti ini, aku akan berusaha menghentikannya sebagai balas budi"


Alzent menggelengkan kepala "Tidak perlu, kita memang harus hidup saling tolong-menolong. Anggap saja balasan karena kau begitu imut"


Wajah Ashley memerah, kemudian kembali ke dalam ruang peristirahatan. Di sana, ia duduk sambil membayangkan kembali Alzent yang dengan gagah berani melindungi dirinya, dengan tatapan matanya yang indah sekaligus tajam.


Kembali ke dalam arena, Alzent kini benar-benar terpojok, tidak mampu menghindar jauh lebih banyak lagi. Seandainya membunuh itu tidak dilarang oleh hukum.


"Tolong, aku mohon kalian berhenti" pinta Alzent.


"Hentikan ini sekarang juga!" sahut suara seorang perempuan yang begitu menggelegar.


Di atas arena, seorang perempuan berumur sekitar 20an, melayang bersama beberapa orang. Di bahu mereka terdapat lambang kepala naga. Mereka turun mengelilingi Alzent dan menciptakan sebuah barier pelindung berbentuk kubah.


Kepala sekolah beserta beberapa guru dengan posisi penting turun ke arena, berlutut di hadapan perempuan tersebut "Selamat datang di Akademi, tuan putri Claire" kata kepala sekolah.


"Cukup basa-basinya, jawab pertanyaanku. Apa yang sudah dirimu lakukan pada Akademi ini?" tanya tuan putri, seketika setiap penjaganya mengeluarkan senjata mereka. Para guru sudah mengerti apa maksudnya, namun masih menolak untuk berbicara sebab jika tuan putri tahu mereka sudah melanggar aturan due suci, kepala mereka dapat terpisah dari tubuh tanpa sempat mereka sadari.


Tuan putri mengkode salah satu penjaganya yang tanpa ragu langsung menebas leher salah satu guru hingga darahnya bercipratan ke mana-mana, membuat kepala sekolah semakin panik.


"Baiklah jika itu yang dirimu inginkan" sahut tuan putri sesudah menunggu beberapa detik "Kepala sekolah Eron, kami telah mengawasi jalannya Akademi selama beberapa tahun terakhir. Yang kami harapkan ketika memberikan kepercayaan itu padamu, Akademi ini dapat menjadi jauh lebih baik dibandingkan sekarang. Namun dirimu menyalahgunakan kekuasaan tersebut, mengajari para murid kalau kekuatanlah yang pertama, sebuah pelanggaran keras untuk Akademi. Seharusnya kau sudah tahu akan hal itu, bukan?"

__ADS_1


Kepala sekolah mengepalkan tangannya "Tuan putri, kita tidak membutuhkan seseorang yang lemah seperti Alzent! Seseorang yang bahkan tidak bisa menggunakan sihir! Kehadirannya hanya akan merusak citra Akademi!" bela kepala sekolah.


Tuan putri tersenyum "Apakah kau buta? Seseorang seperti Alzent yang mampu mengalahkan Gerald hanya mengandalkan kekuatan fisik, tidak memiliki kekuatan sedikitpun?"


"Dia pasti menggunakan semacam ilmu gelap, sihir terlarang yang membuatnya menjadi semakin kuat!" papar kepala sekolah.


"Oh? Bukankah tadi kau mengatakan jika Alzent tidak dapat menggunakan sihir sedikitpun namun sekarang bisa menggunakan sihir terlarang? Apakah itu masuk akal?"


"T-tapi..


Tuan putri memerintahkan para pengawalnya untuk segera membunuh para guru serta kepala sekolah " Melanggar aturan duel suci juga termasuk pelanggaran tingkat tinggi, apa yang sebenarnya ada dalam kepala orang-orang ini?"


Lalu barier di sekitar Alzent menghilang, tuan putri melangkah mendekat, dengan tatapan mengintimidasi memerintah "Alzent, atas perintah diriku, aku memintamu untuk menunjukkan sosok aslimu"


"Apa maksudnya? Inilah diriku yang asli" jawab Alzent.


Tuan putri mengkode salah satu pengawalnya lagi. Tidak lama Lisa dibawa ke hadapan tuan putri dengan kedua tangan yang terikat di belakang "Kalian berdua sangat dekat bukan?" tuan putri melangkah memutari Lisa, meraba lehernya "Tentu saja dirimu peduli dengan dirinya bukan?" Mencengkram leher Lisa "Segera tunjukkan wujud aslimu atau" cengkraman itu semakin kuat.


"Al..zent, jan.. gan.." pinta Lisa terbata-bata.


"Tolong lepaskan dia, dia sama sekali tidak ada hubungannya" namun tuan putri justru menguatkan cengkraman membuat sesuatu di dalam diri Alzent mulai bangkit "Kumohon tuan putri"


"Lakukan atau aku bunuh dia"


Mata kiri Alzent berubah merah darah, urat-urat di setiap bagian kiri tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya oranye "Kalian semua larilah!" sahut Alzent memperingatkan sebelum akhirnya terjadi ledakan energi berwarna merah-kehitaman dan aura yang begitu mencekam tersebar ke seluruh bagian arena hingga semua orang tak mampu bergerak sedikitpun.


Angin berhembus pelan, perlahan menerbangkan debu. Alzent melangkah mendekati tuan putri, ia masih terlihat sama seperti sebelumnya, namun tatapan yang begitu tajam serta mengintimidasi membuat siapapun yang melihatnya tidak akan mampu bergerak di tempat bahkan pingsan. Aura merah-kehitaman terlihat di sekitar tubuh Alzent "Aku sudah memohon padamu, tapi tetap saja diriku selalu dihiraukan" suara Alzent terdengar begitu tidak manusiawi, seakan tercampur dengan suara dari dunia lain, suara yang begitu mengerikan.


Para pengawal tuan putri segera mengeluarkan barier pelindung mereka selagi membawa tuan putri beserta Lisa ke tempat aman. Yang tersisa akan mencoba untuk menenangkan Alzent.

__ADS_1


"Apa yang selama ini telah kulakukan pada kalian semua hingga harus menerima perlakuan buruk? Aku bahkan tidak pernah membalas perbuatan kalian, aku selalu membalasnya dengan sebuah senyuman, tapi kalian balas dengan kejahatan" kata Alzent pelan, namun setiap orang di arena dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


"Aku selalu percaya kalau kalian adalah orang-orang yang baik. Aku percaya suatu saat nanti kalian akan berubah, sayangnya hingga saat ini aku belum melihat satupun yang berubah. Aku harap kalian tidak menyesali perbuatan kalian"


__ADS_2