Rise Of The Seeker

Rise Of The Seeker
Duel #3


__ADS_3

Alzent melompat tinggi ke udara, menarik sebuah pedang berwarna hitam panjang dari ruang hampa yang diangkatnya tinggi kemudian diayunkan ke bawah menciptakan energi hitam yang sangat tajam, menghancurkan pelindung arena.


Beberapa pengawal tuan putri menembakkan Firebolt untuk menarik perhatian Alzent, lalu menciptakan sebuah barier pelindung kuat untuk bertahan dari serangan pedang hitam tersebut.


Murid-murid mulai berlarian kabur dari arena, mengingat mereka pernah melakukan hal buruk pada Alzent walau hanya sekali. Tak seorangpun ingin mati terbunuh oleh monster yang selama ini tertidur. Namun tak seorangpun tahu jika air mata Alzent mengalir turun.


"Mengapa mereka berlari menjauh?" Alzent kembali berdiri di atas tanah, menatap bagian kiri tubuhnya, kemudian melihat dinding arena yang hancur akibat tebasan pedangnya "Bukankah mereka hanya menerima orang-orang yang kuat? Tapi mengapa.. mereka justru kabur?"


Sebuah barier berwarna biru tercipta di sekitar Alzent, mengurungnya "Sekarang!" dengan aba-aba itu, setiap pengawal tuan putri menekan kedua tangan mereka ke tanah membuat barier tersebut turun mengecil, mengunci pergerakan Alzent dan juga menyakitinya.


"Aaaaarrgghh"


Mereka terus memaksa agar Alzent pingsan atau setidaknya menjadi lemah. Lisa berusaha melepaskan diri dari pegangan tuan putri, tidak tahan mendengar jeritan Alzent yang begitu menyakitkan. Lisa tahu dari dalam hatinya, Alzent meminta tolong.


"Apa yang sudah kuperbuat pada kalian semua!? Mengapa diriku diperlakukan seperti ini!? Mengapa dunia ini seakan tidak membutuhkan diriku!!?" barier terpecah, para pengawal terlempar ke belakang "Jangan salahkan aku" suaranya terdengar begitu berbeda, suara yang begitu mencekam tercampur dengan suara Alzent. Aura kehitaman mulai terkumpul semakin banyak. Setiap kali Alzent melangkah, tanah yang dipijaknya akan berubah menjadi hitam kelam.

__ADS_1


Awan gelap mulai terbentuk menutup kerajaan disertai badai petir. Tanah berguncang, angin berhembus kencang. Para pemimpin kerajaan dan orang-orang terkuat mulai berkumpul di arena termasuk raja dan ratu.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Raja Austin.


Seorang pengawal berlari dan berlutut "Dia bernama Alzent, seorang murid Akademi yang menurut informasi tiap harinya diperlakukan dengan buruk oleh setiap orang dalam Akademi termasuk para guru. Namun kami masih belum tahu penyebab dia berubah seperti ini sebab Alzent seharusnya tidak memiliki kekuatan maupun sihir sama sekali" jelasnya.


Seorang laki-laki berumur 30an, mengenakan kacamata dan tampak seperti seorang sarjana, terkejut melihat remaja tak jauh di depannya "Tampaknya dia memiliki kekuatan gelap. Bisa dikatakan kekuatan para Demon, namun seharusnya manusia biasa akan hancur menjadi abu, kenapa dia bisa menggunakannya, bahkan mengendalikan kekuatan tersebut untuk tetap tertidur"


"Lalu mengapa dia mengamuk seperti ini, Lionel?" tanya Panglima Vox, seorang perempuan cantik berumur 30an.


Tiba-tiba Yugar muncul di tengah-tengah mereka bersama Yuna "Tak perlu khawatir, biar kami yang menyelesaikan ini" katanya tenang.


Panglima Vox langsung bersiaga "Siapakah dirimu?"


Yugar menunjukkan sebuah medali berlian dengan ukiran kepala naga yang di belakangnya terdapat susunan pedang membentuk sebuah sayap. Hanya dengan melihat medali tersebut, bahkan raja dan ratu tak mampu melawan, mereka semua tahu cuma orang-orang paling penting sajalah yang memilikinya melebihi posisi raja dan ratu, yaitu anggota terakhir 'Arc Legion', para pahlawan 300 tahun yang lalu.

__ADS_1


Yuna melangkah mendekati Alzent tanpa ragu, wajahnya terlihat sangat khawatir "Alzent, Alzent" panggilnya lembut "Ini aku, Yuna"


Seketika Alzent berhenti mengamuk, ia menatap Yuna yang terus mendekat tanpa rasa takut. Dalam sekejap mata, Alzent sudah berada di hadapannya dengan tangan yang siap mencekik, namun gerakannya terhenti sampai disitu "Y-Yuna?"


"Iya, aku disini" perlahan Yuna menurunkan tangan Alzent kemudian merangkulnya erat "Shh, tenang. Aku ada disini, shh"


Aura kehitaman di sekitar Alzent mulai menghilang. Di akhir sebelum ia jatuh pingsan, Alzent tersenyum, mengucapkan "Yuna" sangat lemah.


Tak lama sesudahnya, Alzent ditahan dalam penjara bawah tanah istana yang telah disegel menggunakan sihir kuno untuk menekan kekuatan misteriusnya. Raja dan ratu beserta anggota kerajaan yang penting mendiskusikan apakah harus membunuh Alzent atau justru menggunakannya demi kepentingan politik serta mencari tahu kebenaran yang tersembunyi dibalik 'The Great War'. Karena tidak menemukan hasilnya, Alzent akan dikirim ke sebuah Akademi yang letaknya cukup jauh dari kerajaan, Akademi tersembunyi tempat berbagai macam ras bersekolah dan membangun koneksi, Akademi yang dapat membantu mereka untuk menentukan keputusan yang tepat bagi Alzent.


'The Sacred Tree' begitu mereka menyebutnya. Tentu saja kehadiran Alzent disana akan mengejutkan berbagai macam pihak mengingat kekuatannya yang begitu besar. Tapi Alzent juga tidak akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti di Akademi sebelumnya, sebab kali ini segala sesuatunya bukan ditentukan melalui kekuatan melainkan dari kepercayaan yang sulit didapatkan dari ras-ras lain, yaitu Dragonnoid Giant, Beast, Dwarf dan Elf.


Petualangan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Apakah Alzent dapat menjalani kehidupannya sebagai murid sesuai harapan raja, ratu dan petinggi kerajaan atau justru menjadi malapetaka bagi mereka dan dunia?


Hanya Alzent yang memiliki jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2