
Kalian kira seorang Putri itu harus jaim alias jaga image? Salah tuh! Biarpun nama ku Putri dan di rumah juga aku selalu di treatment bak seorang "Putri" tapi aku tidak pernah menginginkan itu semua. Di sekolah aku menjadi bintang kelas. Itu aku dapatkan bukan karena ayahku donatur terbesar untuk sekolah. Salah besar. Aku mendapatkan predikat itu karena kemampuan ku sendiri. Besok adalah hari perpisahan sekaligus pembagian hasil ujian.
Aku tidak akan menaruh harapan banyak kepada ayah dan kakakku. Mereka pasti sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka pasti lagi dan lagi akan lupa dengan hari-hari penting dalam hidupku. Dalam hati kecilku masih berharap mereka bisa meluangkan waktu untuk datang ke acara perpisahan sekolah besok.
Tiba saatnya hari itu.
Prok..prokk...prokkk.... tepuk tangan yang meriah begitu menggema di aula perpisahan sekolah setelah aku menyelesaikan pidato. Aku ditunjuk sebagai perwakilan kelas tiga untuk berpidato. Aku sudah yakin ayah dan kakak laki-laki tidak datang lagi untuk kesekian kalinya di hari-hari penting hidupku. Setelah aku melepas pandangan ke arah audience untuk memastikan. Aku turun stage dengan kaki gontai. Batinku menjerit. Kesedihan menyelimuti diriku sekarang.
"Hei Ncess, kamu hebat banget tadi. Ko aku bisa bangga banget ya punya sahabat yang bisa berdiri di podium itu," Rara Dira, sahabatku sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Hanya dia yang bisa menjadi penyegar dari gersangnya hidupku. Ibarat seperti padang pasir dan dia oase nya dalam kehidupanku. Oh iya ada dua lagi sahabatku yaitu ada Doni Mahendra dan Arsya Gumilang. Entahlah aku belum melihat batang hidung mereka berdua. Nanti kalo aku ketemu mereka aku akan memencet hidup mereka sampai merah. Biar malam ini mereka jadi badut untukku. Kesal sekali kurasa.
Tiba-tiba Rara menarik tangan ku ke kelas untuk cap jempol dan tanda tangan ijazah.
"Ra bentar-bentar, Dondon dan Syasya kemana? Kok aku nggak lihat mereka dari pagi", tanyaku.
"Udah nanti juga ketemu, sekarang yang penting itu kita ke kelas untuk cap jempol dan tanda tangan ijazah. Aku mau ngajak Ncessku ini ke tempat spesial", sambil cekikikan menutup mulutnya.
Sesampainya di kelas dan saat menunggu giliran itu aku teringat kejadian kemarin yang membuat aku bangga pada diriku sendiri bahwa aku bisa berhasil dengan mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Mendekati sempurna.
......................
Kemarin. Saat pembagian hasil ujian. Di dalam kelas 9A SMP Tunas Cendekia. Pak Kholid, wali kelas kami membawa segepok kertas.
Setelah berpidato kira-kira lima menit tapi rasanya seperti berjam-jam, Pak Kholid berkata, "Kita patut berbangga bahwa kelas kita ini ada yang nilai UN nya 29,01. Nilai sepuluh untuk Bahasa Inggris dan Matematika".
Seluruh mata tertuju padaku.
"Bukan, bukan aku," aku melambaikan tangan. Aku merasa tidak begitu yakin dengan jawabanku untuk Bahasa Indonesia. Begitu juga dengan Matematika dan Bahasa Inggris aku merasa ragu-ragu dengan jawaban yang ku isi.
"Putri Adi Wijaya Permana, selamat!" tiba-tiba Pak Kholid tersenyum. Seluruh penghuni kelas 9A langsung bertepuk tangan dengan meriah dan memulai konser dengan ala kelas 9A (nge-band memukul meja, bertepuk tangan dan accapella pada saat yang bersamaan). Kali ini aku merasa diatas awan bak terbang melayang. Terima kasih Tuhan. Aku bisa sukses dengan caraku sendiri bukan karena bantuan kekuasaan ayah.
Saat ini Pak Kholid berceramah di depan kelas sebagai nasehat terakhir untuk kami.
......................
Cafe Black 'n' White
__ADS_1
Dondon dan Syasya hampir menyelesaikan hiasan untuk kejutan Putri. Makanan dan minuman sudah selesai tinggal hadiah yang ingin mereka berikan kepada Putri belum datang juga. Mereka mulai gelisah karena hadiah itu paling penting diantara rangkaian acara hari ini yang mana sudah mereka siapkan matang dari jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Putri. Kado itu sebagai tanda terima kasih mereka dimana Putri sudah mau mengajari mereka sehingga mereka lulus dengan hasil yang bagus.
Tutttt..tuutttt...tuuutttttt
"Don, hp mu bergetar", teriak Syasya yang asyik menata kue dan minuman untuk pesta mereka berempat nanti.
Dondon yang fokus menempel beberapa hiasan dengan tulisan "Selamat Atas Pencapaian Menjadi Lulusan Terbaik SMP Tunas Cendekia" "Putri Adi Wijaya Permana".
Dondon mengangkat Hp nya dan menjawab panggilan tersebut. Akhirnya pesanan mereka datang juga.
Sekarang yang mereka harus pastikan adalah Rara dan Putri sudah sampai mana.
"Sya, wa Rara posisi mereka udah sampe mana!", perintah Dondon.
......................
Dalam Mobil
Tringggg...
Messages :
Syasya : Ra, udah sampe mana?
Rara : 5 menit lagi nyampe.
Oh iya udah sampe mana
persiapan kejutan buat si
Putri?
Syasya : Udah beres semua. Dondon
sekarang lagi nge briefing
__ADS_1
pihak cafe untuk
menjalankan rencana yang
udah kita susun.
Rara : Mantap.
"Ra lagi wa an sama siapa?", tanya Putri.
"Oh ini lagi wa an sama Mama. Izin kalo malam ini mau nginep di rumah Syasya. Ncess jangan bilang kalo loe belum izin sama Om?," dengan cerdiknya Rara mengalihkan pembicaraan agar tidak ketahuan.
Putri hanya bisa terdiam karena izin atau tidak ke ayah dan kakaknya mereka tidak peduli. Mereka itu workaholic. Mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada dia.
"Put sorry ya gue nggak maksud buat loe sedih dan jadi diem gini," Rara memeluk Putri untuk menenangkannya. Dan Putri pun menyambutnya.
"Put jangan pernah merasa sendiri ya ada gue, Syasya dan Dondon. So, kalo ada apa-apa, cari kami ya."
Mobil terus melaju.
......................
Akhirnya mereka sampai juga di Cafe. Rara sengaja membiarkan Putri yang masuk duluan. Dondon sudah siap juga di depan pintu untuk memberikan kejutan terompet dan perintilan lainnya. Disusul Syasya di belakangnya membawa gaun dan crown yang akan dipakai Putri untuk malam ini.
Duuuaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrr..........🎉🎊
"Suuuurrrrppriiiiisssseeeeeee," sahut Dondon dan Syasya. Diikuti oleh staf cafe dengan malu-malu.
Putri sangat terkejut dan happy, dia bersyukur karena memiliki sahabat yang selalu ada buat dia.
Syasya menyodorkan gaun dan crown yang harus Putri gunakan untuk bisa melanjutkan pesta mereka malam ini. Putri diantar oleh staf cafe untuk berganti pakaian.
Mereka memesan ruangan khusus untuk pesta malam ini. Pesta seperti ini dan bahkan lebih mewah dari ini sering mereka lakukan. Maklum saja mereka terlahir dari orangtua konglomerat. Hal seperti itu biasa saja bagi mereka. Mudah saja minta ini dan lakukan itu. Masing-masing mereka memegang credit cards. Sungguh kehidupan yang luar biasa. Sebaliknya hal itu yang tidak diharapkan oleh si Putri.
Putri masuk ke ruangan pesta yang sudah disediakan oleh sahabatnya dan malam itu dia di treatment bak seorang putri.
__ADS_1
Malam itu adalah malam yang luar biasa bagi keempat anak manusia yang memiliki mimpi ingin sukses tanpa iming-iming nama besar orangtua dibelakang nama mereka. Pesta itu mereka buat juga untuk saling memberikan reward ke masing-masing dengan mengucapkan terima kasih, maaf dan berjanji untuk terus berjuang bersama. Penutup dari pesta itu adalah masing-masing mereka mengambil kado yang sudah disiapkan dan kado yang paling spesial itu adalah milik sang Putri.