
Hidup yang sesungguhnya itu adalah hidup yang sederhana dan biasa-biasa aja.
Banyak yang mengira, kehidupan seorang putri yang bergelimang harta dan merangkap juga sebagai pelajar teladan itu menyenangkan dan seru. Itu salah besar! Aku bisa dikatakan hampir tidak pernah ada di rumah. Aku selalu menginap di rumah sahabat-sahabatku. Disana aku bisa merasakan kehangatan keluarga, walau aku belum pernah merasakan itu di rumahku sendiri. Aku selalu berharap semoga ada miracle di keluargaku. Aku bertanya pada bintang dan bulan setiap malam. Kenapa aku tidak memiliki keluarga yang lengkap. Aku sangat merindukanmu, Bunda.
Dari aku lahir sampai aku sebesar ini aku belum merasakan dekapan, sentuhan kasih sayang seorang Ibu. Ayah sudah 15 tahun menduda dan tidak ingin menikah lagi. Cukup bundamulah yang menjadi cinta pertama dan terakhir. Kata ayah.
......................
Hari ini aku sudah janjian sama Rara, Arsya dan Doni untuk pergi ke bioskop. Kami mau nonton Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) karena kami terinspirasi dengan cara persahabatan Cinta dan Sahabatnya. Semoga kami pun bisa seperti itu. Kami menua pun masih bisa terus bersama.
Seperti biasa yang paling lama datang adalah Dondon. Film sudah dimulai. Doni datang merunduk menuju kursinya.
"Kebiasaan," kritik Rara.
Kami mulai fokus menonton filmnya dan sesekali menikmati servis yang diberikan 21 untuk kami. Penonton VVIP.
Tidak terasa dua jam berlalu. Kami keluar dari bioskop menuju tempat makan yang sudah kami booking semalam.
"Semalam kenapa di chat kamu tidak aktif Put," tanya Dondon memecah keheningan saat perjalanan menuju tempat makan.
"Oh itu gue udah tidur," Aku jawab cuek.
"Kenapa Don?" tanya Arsya.
"Nggak, gue cuman nanya aja. Emang nggak boleh?" jawab ketus Doni. Dia mulai kesal.
"Udah.. kita udah sampe nih," lerai Rara.
Meja makan restoran.
"Kenapa sih kalian? Kita baru aja selesai nonton dan udah dua minggu nggak ketemu. Harusnya itu kita saling kangen-kangenan. Suasananya nggak jadi awkward gini," Rara mencoba mencairkan suasana.
Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan ataupun yang mereka lakukan. Aku masih kepikiran dengan kejadian dua minggu yang lalu. Sampe detik ini aku masih menyangkal dan bertanya-tanya, kenapa. Ayah dan kakakku sudah nggak sayang lagi sama aku.. (raut muka Putri yang sedang memikirkan sesuatu terlihat oleh sahabat-sahabatnya)
"Put, kenapa sih? Kalo loe sebel sama Doni yang datang terlambat. Gue bakal nasehatin dia supaya dia nggak mengulangi kebiasaan terlambatnya itu lagi," samber Arsya.
__ADS_1
Tetap aku masih tidak bergeming.
"Put kami butuh penjelasan. Kami rasa kamu mulai berubah semenjak pulang dari New York. Apa yang terjadi disana? Dan nggak biasanya juga kamu nggak ada kabar selama di NY," pertegas Rara untuk mencari solusi dari ke awkward an suasana makan malam itu.
Air mataku mulai menetes dan tangisan di restoran itu pun tidak bisa dihindari. Para sahabatku mulai panik atas apa yang terjadi di depan mata mereka.
Arsya memelukku selanjutnya diikuti oleh Rara dan Doni. Kami saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Saat itu aku masih belum mau untuk bercerita dengan mereka. Aku rasa butuh waktu untuk benar-benar siap bercerita ke mereka.
Setelah acara drama termehek-mehek itu di restoran. Kami melanjutkan agenda yang sudah disusun kemarin malam yaitu makan di restoran dan setelah itu menginap di rumah Rara.
......................
Rumah Rara.
Turun dari mobil kami disambut oleh ibunya Rara. Aku sangat suka dengan keramahan dan sapaan lemah lembutnya kepada kami. Terasa hangat dan membuat nyaman. Suasana yang seperti ini yang selalu aku rindukan. Jika saja bunda masih hidup, hatiku tidak akan merasakan sesepi ini. Bun, aku merindukanmu.
"Ncess, kenapa berdiri disitu. Ayo masuk? Yang lain udah masuk".
"Oh iya, Ra".
Tiba-tiba Doni menghampiriku dan mengajak aku ngobrol serius. Katanya.
Aku mengikutinya dari belakang. Dia berhenti di tepi kolam renang.
"Ra, gue mau loe jujur?"
"Jujur??? Aku bohong apa?"
"Hari ini loe beda banget. Bukan Putri yang gue kenal. Ada apa?"
"Aku nggak kenapa-napa Don dan berhenti bilang gue-loe. Aku nggak suka"
Aku pergi menjauh dan Doni memegang tanganku untuk menghentikanku pergi.
"Put, gue belum selesai ngomong".
__ADS_1
"Lepasin tangan aku, Don"
Doni melepaskan tanganku dan mulai sangat dekat denganku. Dia berbicara pelan dekat sekali dengan telinga kiriku. Mengatakan,
"Put camkan ini, aku akan selalu ada untuk kamu. Dan jangan pernah mengabaikan dan mendiamkanku seperti ini. Kapanpun dan seberapa jauhnya jarak diantara kita, aku akan datang untukmu. Paham!"
Doni pergi meninggalkanku tanpa menoleh ke belakang. Mataku sampai tidak berkedip melihat kejadian yang barusan terjadi.
Rara dan Arsya mengintip dari balik jendela. Doni melewati mereka dan pergi mengambil tasnya.
Rara seketika menghampiri Doni yang ingin pergi.
"Don, mau kemana?"
"Ra, gue balik ya. Nanti kalo ada apa-apa kasih tahu gue. Gue datang."
Rara yang tidak tahu harus melakukan apa. Diam saja ketika Doni melangkah keluar untuk pulang.
Arsya yang melihat dari kejauhan juga tidak tahu harus melakukan apa. Doni pulang, Aku masih menyendiri di pinggir kolam renang. Rara dan Arsya saling tatap-tatapan sekarang dan bingung harus melakukan apa. Mereka memilih untuk ke kamar untuk skincare an daripada pusing memikirkan apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka.
Di tepi kolam renang.
Aku masih memikirkan kejadian di NY. Apakah benar ayah akan menikah lagi? Ayah pernah bilang tidak mau menikah lagi dan tidak mungkin menggantikan Bunda di hati maupun di kehidupannya dengan wanita manapun. Aku benci sekali sama ayah. Apapun alasan ayah untuk menikah lagi tetap aku tidak terima. Kenapa ayah harus menikah di umurku yang sekarang? Kenapa tidak disaat aku masih kecil saja dimana aku tidak tahu apa-apa. Sekarang aku memprotes dan menolak ayah menikah lagi.
Hp ku bergetar, ada pesan masuk.
Inbox wa:
Ayah : "Sayang kamu dimana? Ayah
ke kamarmu, kamu tidak
ada. Ada yang mau ayah
bicarakan."
__ADS_1
Saat aku melihat notifikasi itu. Aku makin kesal dan ingin teriak. Kenapa ayah sekeras kepala itu ingin menikah dengan wanita itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapa wanita itu sehingga bisa membuat ayah berubah prinsipnya dan dengan cepatnya dia membuat ayah melupakan bunda.