Romansa Si Bintang Sekolah

Romansa Si Bintang Sekolah
MPLS


__ADS_3

"Nceeessss..." Rara dan Arsya kompak berteriak menyebut namaku.


Teriakan mereka membuyarkan lamunan dan pikiran skeptisku. Malam ini kami mau mempersiapkan peralatan apa yang akan kami pakai dan bawa besok.


Aku sama sekali tidak antusias dari dulu yang namanya MOS atau sekarang dibilang nya MPLS. Hal itu berbanding terbalik dengan para sahabatku, entahlah apa yang Rara dan Arsya sukai dari masa orientasi itu. Bagiku flat aja, malah terkadang aku yang menjadi korban dari kakak-kakak kelas yang suka mencari-cari alasan untuk menyerangku. Rata-rata mereka tidak suka dengan keberadaanku yang bisa mengancam eksistensi mereka di depan laki-laki yang mereka taksir. Itu pengalaman ku masa SMP dulu. Entahlah apa yang akan aku hadapi besok..


Sekarang aku harus ke kamar Rara kalau tidak, mereka akan terus berteriak memanggil namaku.


Di Kamar.


"Aku males banget pake kostum itu. Udah aku pakai kaos aja."


Apa-apaan mereka memaksa aku untuk pakai kostum kucing. Ogah banget..


"Ncess.. harus kah kami yang pakaikan?". Rara dan Arsya sambil mendekat dan menyodorkan kostum bertema kucing yang mana setiap jadwal menginap akan selalu ada ide-ide aneh yang kurasa mereka sudah persiapkan sebelumnya.


Aku tidak pernah tahu dan lebih tepatnya tidak mau tahu apa yang akan mereka persiapkan di jadwal menginap.


Dulu zaman SD. Doni masih ikut menginap dan biasanya kami bisa bercerita banyak hal tentang apa yang ingin kami capai kelak kalau sudah dewasa.


Kami selalu bercerita sampai semalaman suntuk. Tiba masuk sekolah di hari senin wali kelas kami biasanya cerewet dan suka banget memarahi kami apabila datang jadwal menginap.


Bu Linda kenapa bisa tahu waktu itu karena miss keceplosan Arsya. Dia nggak tahu harus apa saat ketahuan guru mabal (bolos) dari jam mata pelajaran MTK dan lebih memilih makan bakso di kantin sekolah. Paniknya dia saat itu tanpa sengaja dia menceritakan itu ke Bu Linda. Saat itu kami di hukum di lapangan bendera hormat selama jam pelajaran Bu Linda selesai.


Walaupun Bu Linda selalu geram dengan ulah-ulah kami. Tapi dia guru yang paling sayang dan percaya sama kemampuan kami. Dia satu-satunya guru yang sampai saat ini rumahnya sering kami datangi.


Malam ini adalah malam yang melelahkan. Bukan karena kostum kucing yang sedang ku pakai saat ini. Itu semua terpaksa ku pakai agar Rara dan Arsya berhenti merengek meminta aku untuk memakai kostum yang sama dengan mereka. Nyebelin dari mereka adalah memposting kostum yang kami pakai ke instagram. Sumpah malu banget, seperti anak-anak. Mereka sadar atau pura-pura (sengaja) begitu. Entahlah, aku berharap mata ini terpejam dan selamat malam dunia.


......................


MOS adalah masa dimana kita akan dikenalkan dengan cara yang unik agar kita betah dengan lingkungan baru yang ada di sekolah.


MOS populer digunakan sebagai kegiatan yang ditujukan bagi siswa baru. MOS memiliki sejarah panjang yang bahkan sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Kini MOS sudah dihapus dan digantikan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Jauh sebelum adanya MPLS aku sempat merasakan MOS, zaman SMP.


Namun kegiatan ini sudah dihapus dan di ganti dengan MPLS karena sering dilakukan perpeloncoan di lingkungan sekolah.

__ADS_1


Hal yang paling membuatku tidak tertarik adalah selama tiga hari dikerjain oleh kakak-kakak OSIS seperti di suruh pakai topi bola, tas plastik, kalung permen, gelang cabe, dan ikat pinggang daun.


Selain dikerjain, syukurnya kami diberikan materi tentang PBB (Pasukan Baris Berbaris) meskipun hanya sebatas dasar-dasar.


Cara mengajarkannya kami dibuat beberapa pasukan kemudian diajarkan bergantian sesuai dengan pasukannya masing-masing oleh kakak OSIS. Aku, Rara, Arsya dan Doni berbeda pasukan yang mana semuanya terdiri dari 5 pasukan. Entahlah sepertinya panitia OSIS sudah merencanakannya dari awal agar kami terpisah.


Overall. Meskipun belajar PBB sangat melelahkan, tapi aku sangat senang karena aku bisa belajar menjalin kekompakan dalam kerjasama antar pasukan. Pada hari terakhir MOS, kami diberi tugas untuk meminta tanda tangan dan keliling sekolah, agar kami lebih mengenal apa yang ada di sekolah ini.


......................


POV Meli


(Wakil Ketua OSIS dan Panitia MOS)


Ruangan OSIS.


"Sumpah aku paling tidak suka sama cewek yang ada di kelompok Cempaka."


"Yang mana? Banyak woi cewek di kelompok cempaka." sahut Bela yang sibuk main games di Hp nya.


Sejak hari pertama MPLS, sebenernya aku jengkel banget sama anak itu. Namanya Putri. Andai saja ini MOS sudah ku kerjai dia habis-habisan.


Bela kaget langsung refleks menengok ke kelompok cempaka.


"Yang rambut panjang, pendek atau yang berkerudung, Mel?"


"Bukan yang itu, tapi yang disana. Noh.. yang itu." Aku sambil menunjuk ke arah si Putri itu.


"Mel, loe yakin mau berurusan sama dia?" Bela berusaha memvalidasi.


Aku lihat ekspresi Bela berubah dan bertanya seperti tidak yakin.


"Emang kenapa? Dia siapa?"


"Asli loe nggak tahu dia itu siapa? Dia itu anak konglomerat nomor wahid di Indonesia. Sekarang bapaknya memegang banyak proyek dan bekerjasama dengan banyak vendor juga." Bela seperti menggebu-gebu menjelaskannya.

__ADS_1


Aku sebel sih ngedengernya dan juga merasa iri dengan apa yang dia miliki.


"Mampus Mel, dia ngelihat ke arah kita sekarang." ucap Bela berbisik-bisik sambil berpura-pura melihat Hpnya.


Aku masuk ke dalam ruang OSIS diikuti Bela.


POV Putri


Bangunan ekskul.


Hati dan pikiran ku masih tertuju dengan pernikahan ayah. Aku belum bisa terima kenapa ayah memutuskan untuk menikah. Lamunanku terhenti saat aku tidak sengaja melihat kakak-kakak OSIS sedang melihat ke arahku.


Aku menatap mereka dan mencoba mentelaah apa yang ingin mereka inginkan dariku.


"Put?" tanya Kiya membuyarkan pandangan ku ke arah mereka.


"Oh iya ada apa, Kiy?"


"Kita udah selesai minta tanda tangan ketua pengurus ekskul. Sekarang yang terakhir adalah minta tanda tangan ketua OSIS. Yuk, Put."


Aku mengikuti teman-teman kelompok ku dari belakang untuk meminta tanda tangan. Dari beberapa orang yang harus kita mintai tanda tangannya hari ini.


Kami sedang menuju ruangan OSIS. Sebenernya aku males banget karena ada kakak kelas tadi yang sepertinya sedang mengintai diriku tiga hari belakangan ini.


Sesampainya, aku dan beberapa teman menunggu diluar dan yang masuk ke dalam hanya ketua kelompok, kertas kami kolektifkan semua.


Aku melirik ke arah kanan ruang OSIS dan aku melihat kelompok Tulip kelompoknya Doni menuju ke arah sini juga untuk meminta tanda tangan yang terakhir.


Aku beradu pandangan dengan Doni. Kejadian kemarin malam masih terpatri dalam ingatan ini. Ku goyangkan kepalaku agar imajinasi kejadian semalam hilang. Tidak disangka dia memegang bahuku dan mengatakan,


"Put, kamu kenapa?"


Sontak aku kaget. Refleks menjawab, "aku baik." Setelah itu kulihat wajahnya. OMG kenapa jantungku berdetak lebih kencang. Aku baru sadar kalo Doni memiliki mata yang indah. Mataku dan matanya beradu pandang dan doaarrr teman dari kelompok kami membubarkan saling tatap itu.


Menghilangkan kecanggungan itu, Doni izin ke toilet. Tidak berselang lama Kelvin keluar.

__ADS_1


__ADS_2