Romansa Si Bintang Sekolah

Romansa Si Bintang Sekolah
Kelvin Si Tukang Ngatur


__ADS_3

Aku tidak tahu kalau ada yang diam-diam mencuri pandang denganku maupun mengintai gerak-gerik ku selama MPLS berlangsung.


Pikiranku dipenuhi dengan masalah yang belum bisa aku terima. Rara, Arsya dan Doni selama MPLS pun sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Selama 3 hari ini kami jarang berkomunikasi maupun berinteraksi.


Sebenernya aku kangen banget sama mereka. Mereka sedang apa ya.


Tuuutttttttt...


Ponselku berbunyi. Aku lihat telepon dari ayah. Ku reject, sampai saat ini aku belum bisa ngobrol sama dia.


Tringgggg...


Ada pesan masuk.


"Ncessss, dimana? Kami lagi di kantin sekolah. Ayo sini!". Pesan dari Rara.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja aku memikirkan mereka, sekarang mereka ngajak kumpul. Hatiku senang. Langsung seketika aku beranjak, tapi belum dua langkah berjalan. Kelvin memanggilku.


"Put."


"Iya Vin". Aku menengok ke belakang.


"Mau kemana?" tanya Kelvin.


"Aku mau ke kantin. Kenapa?" Aku bertanya balik.


"Besok kita akan berkemah ke gunung salak. Ada yang mau aku omongin sama kamu. Aku boleh ikut sama kamu ke Kantin?". Aku rasa nada bicaranya sedikit memaksa.


"Mmm.. emang nggak bisa lewat grup aja, Vin. Kan kita udah buat grup WA. Dari situ aja biar temen-temen yang lain juga tahu apa yang harus dibutuhkan besok buat berkemah." Nada bicaraku sedikit tinggi tanda aku kurang berkenan.


"Aku lebih suka ngomong secara langsung. Mumpung kamu ada di depan aku. Yuk ke kantin". Dia berjalan melewatiku menuju kantin.


Whattt, apa-apaan ini. Aku masih mematung berdiri di samping ruang OSIS, yang mana aku belum percaya dengan apa yang barusan terjadi. Badanku aja belum berpindah dari posisi semula itupun sudah ada yang mengganggu, teman sekelompok pun sudah bubar untuk beristirahat. Cobaan apa lagi ini Tuhan.


Aku terpaksa mengikuti Kelvin dari belakang menuju kantin. Dari kejauhan teman-temanku tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tidak biasanya aku membawa seseorang ke dalam lingkup pertemanan kami. Aku memberikan tanda maaf dari kejauhan agar mereka tidak marah.


Kelvin dengan santainya duduk di samping Doni dan memulai perbincangan denganku. Aku yang tidak tahu harus bagaimana antara menjelaskan ke temen-temen atau menjawab pertanyaannya.


"Put." tanya Kelvin .

__ADS_1


"Oh iya Vin." jawabku.


Aku bingung harus apa dalam hatiku semoga nanti malam mereka tidak menceramahi ku.


"Fokus dong, sekarang kita mau bahas barang apa aja yang harus dibawa sama kelompok kita besok." tegas Kelvin.


Aku seperti mati kutu. Bingung mau berbuat apa. Aku hanya bisa iya iya saat Kelvin sibuk dengan apa yang sedang disampaikannya denganku.


Tatapan aneh teman-teman ku masih terpancar tapi kenapa Kelvin tidak merasa canggung atau terusik. Dia terus berbicara sampai tiba Kakak OSIS memanggil kami untuk diberikan arahan pemantapan berkemah besok. Baik dari teknis pemberangkatan maupun barang apa saja yang harus dibawa kelompok maupun perorangan.


POV Kelvin


Aku kira Putri itu perempuan yang nyebelin dan biasa aja. Mami menyuruhku untuk mendekati Putri agar perusahaan Papa bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan Ayahnya Putri. Awalnya aku merasa keberatan dengan itu. Harus mendekati Sang Putri yang terkenal keras kepala dan arogan.


Ternyata tiga hari ini aku berkenalan dan sekelompok dengannya, semua itu gugur dengan sendirinya. Pernyataan bahwa dia itu arogan, so cantik, judes, jutek, pemarah, pokoknya yang berhubungan dengan penilaian jelek tentang dia itu salah. Tapi untuk keras kepala sepertinya iya. Itu semua tidak mempengaruhi misi ku untuk mendekati dia. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.


Wo ai ni, Putri. Aku tahu bukan hanya aku saja laki-laki yang menyukai dia, ada beberapa orang yang memperhatikannya. Seberat apapun tantangannya. Aku akan terus berjuang dan bertahan sampai aku mendapatkannya.


Aku melihat Putri berjalan menuju kantin setelah melihat ponselnya. Dengan sigap aku memanggil dia dan menyuruhnya untuk membicarakan barang apa aja yang harus dibawa oleh kelompok untuk berkemah besok. Dia mengelak dengan alasan bisa dibicarakan di grup WA. Aku harus memutar otak agar terus bisa ada disampingnya.


Bersyukur keras kepalanya saat itu tidak ada. Entah apa yang sedang dia pikirkan tapi itu menguntungkan ku agar terus bisa bersamanya. Nampak banget dia merasa keberatan tapi aku memasang muka tembok untuk bisa terus disampingnya.


Aku melihat dari kejauhan teman-temannya tidak senang dengan keberadaan ku. Terutama bagi Doni, dia merasa gusar dengan kebersamaan ku dengan Putri. Aku terus berjalan dan duduk di samping Doni. Tatapan tajam sinis mereka sebenarnya terasa tapi aku memasang muka tembok agar terus bisa bersama Putri. Aku tidak mau Putri lepas dari pandanganku.


Aku akan tunjukkan sama mereka bahwa cepat atau lambat Putri akan berlabuh dalam pelukan ku. Yang harus aku lakukan sekarang adalah bersabar dan apabila ada kesempatan yang menguntungkan akan aku cepat ambil.


POV Doni


Hari ini aku merasa gusar dengan kedekatan Putri dan Kelvin. Bisa-bisanya Putri mau dekat dengan Kelvin. Apakah dia nggak bisa merasakan kalo selama ini aku suka sama dia. Rara dan Arsya mendukung sepenuhnya aku mendekatinya.


Sebulan yang lalu setelah pembagian ijazah aku menceritakan ke Rara dan Arsya tentang perasaan yang selama ini aku pendam ke Putri. Mereka mendengarkan dan mau membantuku dalam mengambil hati Sang Putri. Aku diam-diam sedang berjuang mendapatkan cinta dan perhatiannya.


Persahabatan yang kami jalani tidak melarang untuk tidak saling suka. Apabila ada yang saling suka kami akan saling mendukung. Hanya saja di persahabatan kami ini yang tidak memiliki rasa peka dengan cinta dan rasa sayang yaitu si Sang Putri. Putri Adi Wijaya Permana. Dia memiliki hati yang dingin.


Aku akan terus berjuang untuk bisa melelehkan hati bekunya. Rasanya ingin sekali bisa menjadi laki-laki satu-satunya dalam hidupnya. Laki-laki yang selalu dia cari. Bahu ini akan selalu siap menjadi senderan untuknya. Tempat dia mencurahkan keluh kesahnya dan aku siap menjadi kiblat cintanya. Harapan yang terdalam.


Tatapan ku tidak pernah lapas dari Putri. Kelvin yang tidak memiliki rasa malu dengan percaya dirinya duduk di sampingku dan memasang muka tembok. Rasanya ingin menonjok mukanya yang songong itu.


Aku belum sempat berbicara dengan Putri. Kakak OSIS sudah memanggil kami untuk kumpul di aula. Hari ini aku begitu merindukannya. Tapi dia malah datang bersama Kelvin yang nyebelin itu. Malam ini kami akan kumpul di rumah Arsya. Aku mulai tidak sabar menunggu malam.

__ADS_1


......................


Seluruh Siswa Baru dikumpulkan di aula sekolah. Kami diberikan arahan terkait pembekalan tentang teknis dan peralatan apa saja yang harus dibawa untuk berkemah besok di Bumi Perkemahan Gunung Salak Bogor.


Kepala Sekolah dan seluruh guru pun sudah duduk rapih di aula bertanda penutupan MPLS akan segera dimulai.


POV Putri


Aku tidak tahu aku melakukan kesalahan apa. Kak Meli tiba-tiba memanggilku dan menyuruhku untuk pergi ke samping aula untuk menemuinya.


Aku dan teman kelompokku saling tatap-tatapan karen kaget dan tidak percaya. Aku berjalan ke samping menemui Kak Meli.


"Iya Ka ada apa?"


"Aku boleh minta tolong?" tanya Meli


"Iya ka boleh. Mau minta tolong apa Ka?"


"Buku catatan untuk persiapan besok ketinggalan di kelas sebelah ruangan OSIS. Boleh nggak kamu ambilkan buku catatan kakak?" Nada bicaranya merayu.


"Oh iya ka sebentar saya ambilkan."


Aku pergi meninggalkan Kak Meli menuju kelas sebelah ruangan OSIS. Tuhan apa lagi ini? Aku tahu ini tidak beres pasti ada sesuatu yang mereka persiapkan untukku.


Aku kenal betul mereka ingin mengerjaiku. Aku harus terus berjalan agar tahu semua kebenarannya. Benar saja belum sempat aku melangkah untuk masuk ke koridor dari atas seperti ada yang mengguyur air. Seragam sekolahku basah. Dan aku merasa kedinginan. Aku melihat keatas tidak ada siapa-siapa.


Aku duduk mematung dan berdiam untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba ada yang memberikan jaket. Aku menengok ke arahnya.Tatapannya begitu dingin. Aku tidak mengenali siapa laki-laki ini. Setelah dia memberikan jaket kepada diriku, dia pergi begitu saja. Menghilang.


Di saat itu pula aku memutuskan untuk pergi dari sekolah. Aku menelpon Pak Awang supir rumah untuk standby di depan gerbang karena aku ingin pulang.


Aku mengirimkan message di grup bahwa nanti malam aku tidak jadi ke rumah Arsya. Aku menonaktifkan Hp. Meraka tahu apabila aku melakukan itu tandanya aku tidak ingin diganggu.


POV Doni


Aku melihat message yang masuk dari Grup Dreamers. Itu dari Putri,


"Teman-teman, maaf malam ini aku tidak bisa ikut kumpul. Aku lagi tidak enak badan."


Seketika badanku lemas. Padahal aku sedari tadi ingin sekali ngobrol dan ketemu dia. Tapi mungkin takdir belum mengizinkan.

__ADS_1


Penutupan MPLS sudah berakhir. Kami semua pulang dan aku melihat Kelvin sedang gusar. Dalam batinku, rasakan itu. Sekarang kamu tahu apa yang kurasakan tadi.


Putri bisa melakukan apapun. Dia memiliki kuasa untuk itu. Mengikuti atau tidak program-program sekolah, tidak menjadi masalah bagi dia. Dan pihak sekolah juga tidak akan mempermasalahkannya. Ayahnya adalah donatur terbesar sekolah ini. Jadi kalo bisa dikatakan dia bebas mau melakukan apapun.


__ADS_2