Romansa Si Bintang Sekolah

Romansa Si Bintang Sekolah
Kesedihan Ayah ditinggal Bunda


__ADS_3

Apakah kita bisa melihat udara? Tidak. Sama halnya dengan keluargaku, aku seperti tidak bisa merasakan kehadirannya. Ingatanku terbang membawaku ke masa kecil dulu. Momen yang berkesan samar-samar lewat di ingatanku sekarang. Seperti kabut yang bisa melintas dan hilang pada waktu-waktu tertentu.


Kembali ke masa Bunda sedang mengandungku. Bunda terjatuh saat mengandungku. Aku tahu cerita itu dari Mbah yang bekerja di rumah kami selama 25 tahun. Mbah bekerja bersamaan dengan bunda dan ayah saat pertama kali memasuki rumah. Bunda jatuh di kamar mandi dan darah banyak mengalir dari kaki. Ketuban pecah dan saat itu bunda tak sadarkan diri. Mbah yang ingin mengantarkan minuman hangat ke kamar ternyata tidak menemukan bunda. Karena tidak seperti biasanya Mbah mulai gelisah dan mencari bunda di sekitar kamar. Mbah kaget dengan apa yang sedang dia lihat saat itu. Bunda terpeleset di kamar mandi dalam posisi terlentang diselimuti darah yang mengalir dari arah kaki maupun kepala. Mbah sigap dan berlari ke arah telpon kamar untuk meminta pertolongan.


POV Ayah


Kantor, 14.15 WIB


Tuuutttttttt...tttuuuuuttttt....tuuutttttt


Hp terus bergetar sebanyak 23 x tanpa henti ..


Dalam pikiran. Harusnya tuh tadi Hp ku nonaktifkan. Biar nggak ganggu saat meeting begini. Kesal.


Waktu Ashar. Meeting dilanjut besok.


"Oke teman-teman meeting kita hari ini kita lanjut besok. Oh iya untuk Santi tolong saya minta salinan hasil rapat hari ini ya. Kirim ke meja saya hari ini juga."


Santi mengangguk tanda menyanggupi dan ketika itu pula semua peserta rapat meninggalkan ruang meeting.


Aku sangat penasaran siapa yang menelepon terus menerus itu. Jantungku waktu itu seperti nya sejenak berhenti memompa darah karena aku baru saja melihat message yang ku lihat di notifikasi. Istri yang paling aku cinta dan sayangi di dunia ini sudah tidak ada lagi. Dia pergi untuk selama-lamanya meninggalkan ku. Dia pergi dan sekarang sudah tertutup kain kafan. Tiba-tiba aku merasa, braakkk.. (jatuh)


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Anakku Adam tidur di sebelahku, aku kaget kenapa bisa berada dalam kamarku sendiri. Kemana istri yang kucintai? Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Tangisku mulai tidak bisa ku bendung. Aku tidak bisa menyangkal apabila istri yang teramat ku cintai sekarang sudah tiada. Tangisan ku pecah dan membuat orang yang diluar kamar bisa mendengar lirihan tangisanku itu.


Adam terbangun dan berkata lirih kepadaku, "Bunda, bunddaa.."


Semakin dalam kurasa hancurnya hidupku saat istriku dengan tega nya meninggalkan ku dan Adam.


Oe..oee...oeee suara tangisan bayi.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah suara tangisan bayi itu. Bayi?


Aku lupa Puspa dalam keadaan mengandung anak keduaku. Aku berlari menuju bayi itu dan melihatnya. Persis seperti Puspa, apakah Puspa sengaja meninggalkan bayi perempuan ini untuk menutupi kesalahannya. Dia tahu aku tidak bisa hidup tanpanya.


Wajah bayi ini 100% mirip Puspa. Tuhan apa yang Kau rencanakan untukku. Aku tidak bisa hidup tanpa Puspa. Aku rapuh. Aku rapuh Tuhan.. apabila tidak ada dia disisiku aku seperti kehilangan arah.


Kesedihan ini semakin menusuk hati.


Pintu kamar terbuka, ternyata ibu datang. Aku menghampiri dan memeluknya.


"Ibu.. apakah Adi sedang mimpi?"


Semakin keras aku memeluk ibuku.


"Sayang, kamu harus tabah ya. Kamu harus bisa menerima kenyataan kalau Puspa sudah meninggalkan kita". Ibu menabahkanku.


"Ibu yakin Adi kuat dan Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya". Ibu lebih meyakinkan lagi dan melepaskan pelukanku.


"Cucu Omah.. cantik sekali". Menggendong bayi itu dan mengajak nya berinteraksi.


Aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang aku sudah tidak bisa bersama Puspa lagi untuk selama-lamanya. Adam yang tidak bisa berhenti menangis diurus oleh tantenya, adikku.


Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi dan Tuhan cabutlah nyawa ini agar aku bisa bertemu Puspa.. braakkk (jatuh) untuk yang kedua kalinya.


Sayup-sayup suara orang yang yasinan dari luar semakin jelas ku dengar setelah aku terbangun dari pingsan. Aku berusaha menenangkan diriku dan terus-menerus meyakinkan diriku untuk tidak seperti ini. Aku tidak boleh lemah. Aku ayah dari dua anak yang harus aku jaga dan besarkan.


Penyesalan ku semakin bertambah karena sudah melewatkan detik-detik kepergian dan penghantaranya ke tempat terakhirnya. Maafkan aku Puspa. Kau tidak tahu betapa aku sulit merelakan mu pergi untuk selama-lamanya.


Beberapa menit berlalu, aku bergegas ke kamar mandi dan bersih-bersih setelah itu mengambil wudhu. Aku tidak mau melewatkan membawa keranda istriku ke tempat terakhirnya. Aku juga ingin ikut serta menghantarkannya.

__ADS_1


Semua mata tertuju padaku. Aku bersikap dingin dan berjalan ke arah Puspa di baringkan. Hatiku sangat hancur saat itu. Aku tidak bisa melihat Puspa berbaring kaku dan diselimuti kain kafan seperti itu. Pucat dan kaku.


Ingin sekali aku berlari dan memeluk Puspa barangkali dia mau bangun setelah aku memeluknya dan meminta maaf.


Akal waras ku masih ada saat itu. Akhirnya aku bisa dengan mulus duduk dengan tenang di samping adiknya Puspa. Dia pun pasti sangat terpuruk sama sepertiku.


Pepi namanya. Dia adiknya istriku, Puspa. Dia kaget melihatku saat itu dan dengan spontan memeluk. Aku sambut pelukan itu dan dengan tegar bilang, "Sudah ya Pep, kita harus rela dan ikhlas melepas kepergian Puspa agar perginya tenang dan tidak bersedih."


Sebenernya hatiku berjuta-juta hancur dan sedih saat itu tapi semua harus aku tutupi karena aku tidak mau terlihat terpuruk di depan mayatnya.


Aku mulai mengikuti bacaan yasin yang ingin aku persembahkan untuk istriku tercinta.


Tiba waktunya dimana Puspa harus dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Puspa dimakamkan di Makam Keluarga Besar Wijaya sesuai dengan kesepakatan. Persis di samping nya ada satu lahan yang sudah disiapkan untuk ku nanti. Dan beberapa lahan lainnya yang kami beli untuk penguburan keluarga kami.


Dalam hati. "Sayang, semoga amal dan kebaikan mu selama di dunia di terima Allah. Dan cepat atau lambat aku akan menyusul mu. Aku akan selalu bersamamu."


Aku masuk ke liang lahat untuk meletakkannya. Selamat jalan sayang. Dalam batinku. Prosesi berjalan lancar dan pemakaman istriku saat itu sangat hikmat. Banyak orang yang datang dan mendoakannya. Semasa hidup Puspa orang yang baik dan dermawan karena itu banyak orang yang datang melayat dan mendoakannya.


Karangan bunga silih berganti berdatangan. Entah berapa meter karangan bunga itu berderet. Aku dan keluarga sudah selesai berdoa dan menabur bunga. Kami bersiap pulang ke rumah. Masih banyak rangkaian pengajian yang akan di adakan di rumah.


Malam itu aku mencoba menutup mata karena kelelahan batin menjerit dan menangis. Harapan ku saat itu, semoga ini hanya mimpi buruk.


......................


POV Putri


Di tepi kolam renang.


Terasa dingin banget malam itu. Lamunanku mengenang Bunda dan Ayah pun sudah selesai. Aku harus masuk ke dalam rumah, Arsy dan Rara pasti mengkhawatirkan ku, sebenarnya sih aku sudah merasa dingin banget. Hmm.. dalam benakku. Enaknya menyantap sup hangat atau segelas susu coklat hangat ya. Pikiranku mulai normal kembali.

__ADS_1


Saat masuk ke dalam, tanpa sengaja pandangan ku melihat orangtuanya Rara sedang duduk bersama dan romantisnya menikmati secangkir kopi berdua sambil berbincang-bincang. Seketika itu aku teringat ayah dan bunda. Dalam hatiku mulai tumbuh bersalah, apakah aku penyebab ayah dan bunda tidak bisa bersama lagi?


__ADS_2