
Setalah kejadian itu. Aku belum sempat bilang terima kasih kepada laki-laki itu. Muka dan perawakannya seperti apa, aku pun tidak ingat. Kejadian itu sangat cepat.
Belum sempat ku amati orang yang menolong ku begitu gesitnya dia menghilang. Hmm.. apakah dia sosok hantu tak kasat mata penghuni sekolah ini. Batinku. Tapi aku masih tidak percaya dengan analisaku barusan. Mana mungkin? Jaket yang dia kasih aja masih utuh belum berubah daun atau apalah itu. Jaketnya masih ku dekap saat ini. Memikirkan, siapa lelaki itu? Badanku sebenernya sudah lelah tapi pikiranku masih melayang entah kemana.
Sampai di rumah, dari petang sampai sekarang ayah dan kakak belum pulang kerja. Aku di rumah selalu sendiri. Sebenernya aku merasa kesepian, ayah dan kakak terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka lupa kalo memiliki anak dan adik yang butuh perhatian dan kasih sayang.
Malam ini sangat kelabu. Aku rasa tidak akan ada yang bisa mengerti aku. Bunda aku ingin bertemu denganmu. Saat mata ini mulai tertutup. Terdengar suara pintu kamarku dibuka.
Itu ayah, mau apa dia? Mataku tertutup. Aku merasa ayah semakin mendekat, sekarang duduk di tepi ranjang dengan mengelus rambutku. Tidurku sangat pulas dan nyaman. Kapan terakhir kepalaku dielus ayah? Aku lupa. Terpenting adalah tidurku begitu nyenyak malam ini.
__ADS_1
POV Ayah
Tuhan. Aku merasa bersalah sekali telah mengabaikan anak perempuanku. Usianya sekarang 16 tahun. Begitu banyak momen berharga yang sudah kulewatkan.
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Lupa mengurusinya dan memperhatikannya. Malam ini aku harus pulang ke rumah dan menemuinya. Rinduku pada Putri tidak pernah ku nampakkan. Aku takut terlihat lemah. Sebelum Puspa di kuburkan aku sudah berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk Putri. Memberikan apapun yang diinginkannya. Jika dia mau akan aku belikan dunia ini untuknya. Bentuk kasih sayang yang tidak pernah orang lain tahu.
Aku bukan mencampakkan putriku tapi ingin memanjakannya dengan harta. Aku harap dia bahagia dengan semua itu. Semua keinginannya terpenuhi. Aku dan anak laki-lakiku. Kakaknya yang bernama Adam harus bekerja lebih giat untuk memenuhi semua kebahagiaannya. Aku dan Adam sangat menyayangi Putri. Terkadang Putri salah mengartikan pemberian kami. Dia selalu marah, marah dan marah. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan?
Dari bayi sampai umur 10 tahun Putri masih diurus oleh adik perempuanku yang bernama Rena. Adikku memiliki umur yang pendek karena dia mengidap kanker payudara. Rena meninggal 6 tahun yang lalu. Putri tidak menangis saat itu. Dia hanya diam dan duduk di samping ibuku, Omanya saat membaca yasin.
__ADS_1
Mungkin dia sudah mengetahui dan merasakan rasa ditinggalkan. Anak perempuanku emang kuat dan dia lah yang menjadi alasanku bertahan hidup dan semakin giat dalam bekerja. Aku ingin memenuhi semua kebutuhan yang diinginkannya.
Selama ini dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Aku ingin memberikan segalanya untuk dia. Tapi aku lupa satu hal, ternyata yang dia butuhkan hanya kasih dan sayang orangtua yang utuh.
Aku pun menyesali itu. Kenapa aku sadarnya saat usianya sudah remaja. Sekarang, dia memberontak dan tidak setuju kalo aku mau menikah lagi. Dia tidak tahu bahwa ini semua kulakukan untuk dia. Aku pun tidak mau menodai cinta putih ku kepada Puspa.
Sesampainya di rumah. Jarum jam mengarah ke pukul 21.45 WIB. Aku berharap Putri belum tidur, aku ingin sekali memeluknya dan bercerita banyak hal bersamanya. Terutama aku ingin tahu tanggapannya tentang pernikahan yang ingin aku laksanakan diakhir bulan ini.
Aku berjalan menuju kamarnya, dan kudapati dia sudah tidur. Aku masuk ke dalam dan duduk di sampingnya sambil mengusap kepalanya. Hati ini begitu bergetar saat melihat putriku yang selama ini aku tinggalkan bekerja sudah dewasa. Putri persis sekali mirip Puspa. Seketika aku merindukan Puspa. Perasaan ini tidak bisa berbohong. Aku tidak mencintai wanita yang saat ini akan ku nikahi.
__ADS_1
Apakah aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikahi wanita itu?