
Tahun 2006
Dian senang dan merasa sangat bersyukur sekali. Perjuangannya untuk menjadi pegawai negeri akhirnya terwujud juga. Dia bertemu dengan sesama cpns yang berasal dari kota yang sama dengannya, Palembang. Wita, gadis berpostur pendek dengan rambut panjangnya, ditugaskan di SMA negeri di ujung kota Prabumulih. Begitupun dengan Dian, dia mendapatkan tugas di SMP negeri yang tidak jauh dari sekolah Wita.
"Ya Allah, aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," ucap Yanita, guru matematika yang mengajar di SMP negeri di ujung selatan kota Prabumulih.
"Iya, ya. Erna senang sekali bisa bertemu dengan ayuk-ayuk semua," timpal Erna yang ditugaskan di SMA bertaraf internasional itu. Sungguh beruntung dia ditempatkan di sekolah yang masih berada di kota. Erna merupakan guru PPKn di sekolah tersebut dan dia yang paling muda di antara kami berlima.
"Alhamdulillah. Kita jadi bisa pulang bersama kalau mau ke Palembang" ujar Novi, guru bahasa Inggris di salah satu SMA negeri unggulan yang ada di kota itu.
Setelah menjalankan tugas di tempatnya masing-masing. Mereka pun jarang bertemu. Kalau pun bertemu lagi ketika mereka ada urusan sesama cpns di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) atau Dinas Pendidikan Nasional (Diknas).
Dian masih bekerja pulang pergi dari Palembang ke Prabumulih naik bis kota jurusan Tanjung Enim. Selesai sholat subuh, dia baru keluar dari rumah diantar oleh papanya menuju ke tempat di mana bis tersebut mangkal. Kalau harus menunggu di tepi jalan raya semua bis sudah penuh oleh pegawai lainnya, akibatnya dia tidak akan mendapatkan tempat duduk. Banyak pegawai dari Palembang yang bekerja di kota Prabumulih maupun Muara Enim yang naik bis jurusan Tanjung Enim.
Wita dan empat orang gadis lainnya ternyata sudah mendapatkan kontrakan. Mereka mencari kontrakan bersama-sama sebelum pulang ke Palembang. Sementara Dian harus meminta izin dulu dengan orang tuanya. Karena mamanya masih berat untuk melepaskan anaknya itu untuk ngekost. Akhirnya Dian tetap pulang pergi mengajar dari Palembang-Prabumulih.
"Aduh, Ma. Aku tidak tahan pulang pergi terus begini. Capek, Ma," keluh Dian setelah membersihkan diri.
Dia tiba di rumah sekitar jam 5 sore. Dari sekolahnya, dia harus menunggu angkot yang hampir satu jam. Belum lagi harus menunggu bis ke Palembang yang juga hampir satu jam. Benar-benar melelahkan.
"Sudahlah, Ma. Biarkan Dian ngekost saja. Kalau kesiangan dari Palembang, otomatis sampai di Prabu juga kesiangan" ujar papa Dian membela anaknya.
"Ya, sudah. Kamu cari kostan. Jangan sendirian, ikut nebeng teman kamu saja supaya kamu ada temannya" akhirnya Mama Dian mengeluarkan izin kepada putri semata wayangnya itu.
"Terima kasih, Ma. Aku akan tanya dengan teman sesama cpns dulu. Siapa tahu ada lowongan kamar" Dian tersenyum bahagia. Paling tidak badannya tidak terasa capek begini kalau sudah ngekost nanti.
Sudah berapa hari, Dian masih mencari-cari informasi kepada teman-temannya sesama cpns. Ternyata tempat mereka sudah pas semua, tidak bisa menambah orang lagi.
Di sekolah
Dian yang baru mengenal guru-guru lain di tempatnya mengajar masih bertanya-tanya. Adakah guru yang mengontrak di pasar, sebutan untuk area kota. Kalau tempat dia mengajar sudah masuk daerah dusun karena jalan menuju ke sekolahnya merupakan jalan lintas Sumatera.
"Kalau guru yang ngontrak di Prabu hanya Yuk Emma, Di" ujar Vivi salah satu guru yang sudah lama mengajar di sana.
__ADS_1
Tak lama Emma berjalan memasuki kantor. "Nah, itu Yuk Emma" tunjuk Andini.
"Ada apa?" tanya Emma karena merasa sedang diperhatikan ketika dia masuk ke dalam kantor.
"Ini Yuk, Dian mau tanya soal kontrakan. Ayuk kan ngontrak, masih ada kamar tidak di rumah kontrakan, Ayuk?" tanya Vivi memberitahu Emma.
"Oh, iya. Kebetulan masih ada satu kamar yang masih kosong" jawab Emma.
Dian tersenyum sumringah. Bagus sekali kalau dia bisa satu rumah dengan Emma karena nanti bisa pergi bersama kalau mau ke sekolah.
"Serius, Yuk?" tanya Dian belum percaya.
"Iya, tapi tadi ada guru SMA yang mau ikut juga. Kalau kamu mau ikut juga, kamu nanti sekamar dengan dia. Karena kamar yang lain sudah ditempati dua orang" jawab Emma.
Rumah kontrakan Emma memiliki tiga kamar. Lokasinya juga dekat dengan jalan raya. Pas sekali sehingga tidak perlu jauh berjalan kaki ketika mau menunggu angkot nanti.
Akhirnya setelah bernegosiasi dengan Emma masalah uang kontrakan, Dian akan memberitahu kedua orang tuanya. Pulang dari sekolah Dian diajak Emma untuk melihat rumah kontrakannya. Jangan sampai nanti Dian tidak sreg.
Angkot yang mereka tumpangi berhenti di depan Bank BRI, Emma mengajak Dian menyeberang jalan. Mereka memasuki jalan yang agar besar di samping gedung Pemerintah Kota (Pemkot).
"Iya, Di. Lokasi rumahnya memang strategis, makanya kami mau mengontrak di sini" ujar Emma sambil berjalan. Mereka belok ke kanan dan ternyata posisi jalan tepat berada di belakang gedung Pemkot. Kemudian masuk gang kecil, kami sudah tiba ke teras rumah. Rumah di sana ternyata sangat padat sekali. Posisi rumah kontrakan itu diapit oleh rumah lain yang ada di sisi depan, belakang dan kanan. Sedangkan sisi kirinya, jalan gang terus sampai ke belakang.
"Ayo, masuk, Di. Assalamualaikum" ajak Emma sambil membuka pintu rumah setelah memasukkan kuncinya. Masing-masing penghuni memiliki kunci rumah.
"Assalamualaikum" Dian ikut mengucapkan salam dan masuk ke dalam mengiringi langkah Emma.
"Penghuni yang lain belum pulang ya, Yuk?" tanya Dian melihat suasana rumah yang tampak sepi.
"Sudah. Paling juga ada di kamar mereka" jawab Emma sambil membuka kamarnya. Benar saja, Rosa, teman sekamarnya sudah pulang dan tertidur di atas kasur yang menempel di lantai. Rosa adalah guru SD negeri, rumahnya juga di Palembang.
Setelah meletakkan tasnya, Emma mengajak Dian melihat kamar yang akan dia tempati.
"Eh, San. Sudah pulang juga, ya" tegur Emma melihat Susan keluar dari kamar yang akan di tempati Dian. Rupanya dia akan satu kamar dengan Susan, guru SMA itu.
__ADS_1
"Lho, Yuk Susan?" tegur Dian ketika melihat wajah gadis yang ditegur Emma tadi.
"Dian!!" Susan pun tidak kalah kaget melihat Dian.
"Kalian saling kenal?" tanya Emma bingung menunjuk ke arah mereka berdua.
"Iya, Yuk. Kami sama-sama CPNS. Yuk Susan ini juga satu almamater dengan ku tapi beda jurusan. Dia jurusan IPA sedangkan aku jurusan IPS" jawab Dian.
"Oh, jadi kamu, Di yang mau ikutan ngontrak di sini" seloroh Susan.
"Iya, Yuk. Tapi mungkin besok atau lusa aku baru pindahan. Soalnya aku mau memberitahu orang tuaku dulu. Mereka rencananya mau datang ke sini untuk melihat rumah tempat aku tinggal nanti" jelas Dian.
"Beginilah kamarnya, Di. Sempit. Tapi lumayanlah daripada tinggal di bedeng" ujar Susan mengajak Dian melihat kamarnya.
Sebuah ruangan kecil hanya muat kasur berukuran nomor 3 saja. Dia melihat kasur tanpa seprei itu disandarkan ke dinding. Di bawahnya lantai tanpa keramik. Dian pun berpikir akan membawa ambal berukuran kecil agar dia tidak kedinginan ketika duduk nanti.
"Kamar mandinya satu. Kamar yang itu, dihuni dua orang perawat di RSUD. Memang kamarnya lebih besar dan bayarannya juga besarlah dibandingkan kita" ujar Emma menunjuk kamar yang berhadapan dengan dapur.
Tok. Tok. Tok
"Ira!" panggil Emma.
Tak lama pintu kamar pun terbuka. Gadis berpostur tinggi, badan berisi dan berkulit putih muncul dari balik pintu.
"Ra, kenalkan ini Dian, dia akan sekamar dengan Susan" ujar Emma mengenalkan Dian kepada Ira. Gadis itu sepertinya baru bangun tidur terlihat dari wajahnya yang sayu. Sepertinya dia mendapat shift malam. Makanya di pagi hari, dia molor tidur.
"Oh, iya. Guru yang Ayuk ceritakan kemarin, kan?" ucap Ira.
"Lisa belum pulang, ya?" tanya Emma.
"Belum yuk. Dia hari ini shif pagi" jawab Ira.
"Yuk, aku pulang dulu, ya. Nanti kesorean sampai di Palembang" sela Dian sambil melirik jam di tangannya.
__ADS_1
"Iya ... Iya. Hati-hati, ya. Maaf ya, Ayuk tidak mengantar" ujar Emma.
"Iya, Yuk. Tidak apa" Dian pun berpamitan dengan yang lainnya. Kebetulan sekali setelah dia menyeberang jalan, ada bis Tanjung Enim lewat. Sopir bis sudah familiar dengan pegawai yang menunggu di pinggir jalan pastilah akan ke Palembang.