
Akhirnya Dian resmi pindah dari rumah kontrakannya yang lama. Dian sudah menjelaskan alasannya kepada Emma dan Rosa. Terserah mereka mau terima atau tidak, yang jelas Ira masih juga tidak berubah.
Rumah kontrakan baru itu hanya memiliki dua kamar, satu kamar agak luas yang akan menjadi tempat tidur mereka berenam. Tidur berjajar seperti ikan sarden dengan alas ambal dan selimut tebal. Anak kost seperti mereka yang sering pindah itu, malas untuk membeli kasur. Kamar satunya lagi berukuran kecil, mereka jadikan tempat untuk sholat dan menaruh pakaian. Ruang tamunya cukup luas juga. Sementara ruang tengah langsung lurus ke dapur. Di samping dapur, ada pintu keluar yang tembus ke rumah tetangga sebelah, di dekat dapur juga terdapat satu kamar mandi. Kalau air PAM tidak hidup, mereka akan keluar dari pintu dapur untuk mengambil air di sumur yang ada di belakang rumah tetangga di sebelah rumah kontrakan mereka.
Para tetangga di dekat rumah itu sangat senang, akhirnya rumah yang sudah lama kosong itu ada penghuninya juga.
Uni Aida, tetangga yang berada tepat di sebelah mereka adalah orang yang paling senang. Rumah itu telah dihuni oleh enam orang gadis, tentu akan sangat ramai sekali.
"Terima kasih, Uni" ucap Yani ketika Uni Aida memberi mereka sayur masak di hari pertama mereka tinggal di sana.
"Kalau mau belanja sayur, di depan rumah Uni kan ada warung, Bude Atun jualan sayuran juga kalau pagi. Tapi kalau siang kalian bisa ke warung di ujung gang itu, jualan sayurnya sampai sore" ujar Uni Aida memberitahu mereka.
"Iya, Uni. Terima kasih informasinya. Kami belum sempat keluar" ucap Novi.
"Kalau ada apa-apa bisa minta tolong Uda atau Pakde di depan rumah" tawar Uni Aida.
"Terima kasih, Uni" ucap yang lainnya. Mereka sangat senang dengan Uni Aida yang begitu welcome kepada mereka.
Keenam gadis itu menjalani rutinitas setiap hari seperti biasanya. Suasana rumah memang tidak begitu terang oleh pencahayaan. Jendela model lama yang terbuat dari kaca berjajar mengelilingi ruang tamu, tidak membuat ruangan itu menjadi terang. Karena cahaya terhalang oleh rumah Uni Aida yang berada di samping. Begitu juga di sisi sebelah kanan, tepatnya di kamar utama hanya ada satu jendela kayu yang kalau dibuka menampakkan pemandangan dinding ruko fotokopi di depan. Ya, posisi rumah kontrakan mereka tepat berada di belakang ruko tersebut.
Sementara ruangan tengah, jendelanya sama seperti di ruang tamu. Tapi cahaya bisa masuk karena di samping ruko itu ada rumah penduduk sehingga cahaya matahari tidak terhalang.
Beberapa bulan kemudian, ada teman laki-laki Wita main ke rumah kontrakan mereka. Dino, merupakan angkatan mereka sesama cpns juga. Kata Wita dia memiliki indra keenam. Bisa melihat keberadaan makhluk dari dunia lain.
Ketika datang, Dino tidak langsung masuk ke dalam rumah, tapi dia berhenti di teras rumah dan melihat ke samping, tepatnya di belakang dinding ruko. Di samping teras ada pot kembang besar, jika belok ke kiri langsung tembus ke belakang kamar utama, di sanalah tempat mereka menjemur pakaian.
Dino tampak terdiam melihat ke arah pot semen besar yang tidak ada bunganya lagi itu.
"Kak Dino, lihat apa, sih?" tanya Wita penasaran.
__ADS_1
"Wit, banyak juga penampakan di sini" gumamnya.
"Penampakan apa, Kak?" tanya Wita lagi. "Di mana saja, Kak?."
"Di dekat pot, di belakang ruko itu juga banyak, lho" jawabnya.
Wita bergidik. Sebenarnya gadis itu kadang-kadang bisa juga melihat penampakan di sekitarnya. Tapi entah kenapa kali ini pandangannya buram. Dia hanya bisa merasakan saja. Ketika Wita bisa melihat, dia tidak mau memberi tahu teman-temannya karena nanti teman-temannya akan ketakutan.
Erna dan Dian keluar dari rumah ketika mendengar ada suara cowok di depan rumah.
"Kak Doni!!" seru Erna melihat Doni berdiri di samping Wita.
"Kalian membicarakan apa, sih?. Aku dengar kalian membicarakan tentang penampakan, di mana?" tanya Dian ikut penasaran.
"Sudah, tidak usah dibahas lagi" ujar Doni.
"Ah, buat penasaran saja. Ayo, cerita, Kak. Masa Yuk Wita saja yang dikasih tahu" pinta Dian.
Badan Dian meremang. Tidak lama Dino main ke rumah mereka. Dia pun segera pulang.
"Yuk Wit, serius apa yang dibicarakan oleh Kak Doni tadi?" tanya Dian ketika mereka sudah berada di dalam rumah.
"Setiap rumah kan pasti ada makhluk tidak kasat mata, Di. Mereka tidak menggangu, kok" jawab Wita.
"Ihh, tapi tetap saja seram, Yuk" sela Erna, penghuni paling muda di antara kami.
Sejak awal melihat rumah itu Dian lihat memang tampak suram, tidak bercahaya. Selain posisinya memang di apit oleh ruko dan rumah Uni Aida, rumah itu juga sepertinya sudah lama tidak ditunggu.
Entahlah, Dian hanya pasrah saja. Semoga tidak ada gangguan dari jin atau makhluk halus lainnya selama mereka tinggal di sana.
__ADS_1
Ketika malam hari, keenam gadis itu baru berkumpul. Di kamar utama mereka saling bercerita tentang kegiatan di sekolah masing-masing, hingga lelah dan akhirnya satu persatu mulai tidur.
"Kita coba satu tahun dulu, kalau betah nanti kita perpanjang kontrak rumah ini" ujar Novi setelah mendengarkan cerita dari Erna.
"Iyalah. Kita lihat situasi dulu. Akhir tahun baru kita cari-cari lagi kontrakan yang dekat dengan jalan besar" sela Sarah.
"Wit, benar di rumah ini ada penunggunya?" tanya Yanita. Wita hanya menganggukkan kepalanya.
"Di mana saja, Wit?" tanya Novi.
"Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Nanti kalian takut" elak Wita. Dia sudah mendapatkan bocoran dari Doni tadi, di mana saja posisi makhluk itu berdiam diri.
"Beritahu saja Wit, jadi kita bisa waspada di area yang ada di sana 'mereka'" desak Yani.
"Oke. Kalau kalian memaksa. Aku akan memberi tahu kalian" ucap Wita sambil memandang wajah teman-temannya satu persatu. Yani dan yang lainnya tampak tegang menanti jawaban dari Wita.
"Tadi Kak Doni bilang ada di pot depan, di sekitar jemuran belakang kamar ini, dan di dapur" jawab Wita.
Dian meremang. "Di dapur, dibagian mananya, Yuk?" tanya Dian penasaran.
"Di pojok, dekat pintu keluar. Ada anak kecil selalu duduk di sana. Dia tidak menggangu, kok" jawab Wita.
"Ya, Allah. Serem, ai, kalau mau ke dapur" seru Erna merinding.
"Kita tidak menggangu mereka, kita juga rajin sholat. Semoga aman-aman saja" ujar Novi menyakinkan teman-temannya untuk tidak takut.
"Benar, kita hanya takut kepada Allah. Mereka juga kan makhluk ciptaan Allah. Bedanya mereka tidak terlihat oleh mata kita" tambah Dian.
Rasa takut itu tetap ada, tapi bukan berarti menjadikan diri mereka ketakutan.
__ADS_1
"Ya, Allah. Jangan sampai aku melihat penampakan dari makhluk halus itu" batin Dian berdoa.