
Setelah kejadian malam itu, Dian menjadi tidak betah tinggal di rumah itu. Dia pun mencari informasi kepada temannya Wita.
"Ayolah, Yuk, masih bisa tidak aku ikut kalian?" ujar Dian ketika bertemu dengan Wita di Diknas untuk tanda tangan gaji.
"Sudah penuh, Di. Rumah kontrakan kami itu bedeng bukan satu rumah. Nantilah kalau sudah habis masa kontraknya, kamu bisa ikut. Kita cari satu rumah. Kalau dibagi orang enam kan jadi lebih murah" jelas Wita.
"Benar, ya. Aku ikut, lho. Kabari aku kalau sudah dapat" ujar Dian. Wita mengangguk.
"Memangnya kenapa kamu sampai mau pindah?. Enakan di sana, letaknya strategis begitu" tanya Wita heran.
"Alah Yuk, aku nggak mau kecipratan dosa kalau ada penghuni lain berbuat mesum. Sementara aku tidak mampu untuk menegurnya. Jadi lebih baik aku yang keluar dari rumah itu" jawab Dian kesal.
"Hah, serius, Di. Siapa yang sudah berbuat mesum di rumah kalian?" tanya Wita penasaran. Kalau Emma dia kenal. Tidak mungkin karena dia sudah menikah. Rosa juga sudah dewasa. Itu artinya penghuni kamar depan. Wita menebak-nebak sendiri dalam kepalanya.
"Sudahlah, Yuk. Nggak perlu dibahas. Terpaksa menahan diri tinggal di sana sampai kalian mendapatkan kontrakan baru" ujar Dian cemberut.
Wita mengangkat jempolnya. Mereka pun akhirnya berpisah. Dian belum menceritakan niatnya untuk pindah. Dia akan menunggu kabar dari Wita dulu. Kalau sudah pasti, baru dia akan memberitahu penghuni lainnya. Tidak masalah uang kontrakannya tidak bisa dikembalikan lagi, yang penting dia bisa pergi dari rumah itu.
Keesokan harinya.
Hari ini Dian tidak pergi ke sekolah karena badannya kurang enak. Rasa-rasanya mau demam. Semua penghuni sudah beraktivitas seperti biasanya. Dian pun keluar rumah untuk membeli obat di warung. Hidungnya meler-meler, bakalan flu berat kalau tidak minum obat. Sekalian mencari makanan yang bisa menghangatkan perut. Dian pun memutuskan untuk membeli model atau tekwan di warung dekat gang kontrakannya.
Karena dia jarang keluar dari kontrakan banyak tetangga yg tidak kenal. Sambil menunggu pesanan modelnya yang mau dibungkus untuk dibawa pulang, Dian mendengarkan obrolan ibu-ibu yang nongkrong di warung model itu.
"Betah juga ya, pegawai-pegawai yang mengontrak di rumah Bu Ida" ujar si Ibu berambut pendek.
"Iya, padahal rumah itu seram, lho" timpal yang lainnya.
__ADS_1
'Seram!. Seram bagaimana? Maksudnya ada makhluk halusnya begitu?' tanya Dian di dalam hatinya.
"Iya, makanya sebelum mereka menempatinya, rumah itu sudah lama tidak ada yang mau mengontrak. Pernah ada yang mengontrak terakhir kali, akhirnya pindah juga karena sering diganggu penunggu rumah itu" sela ibu penjual model.
"Mba, berapa tadi modelnya?" tanya ibu penjual.
"Satu bungkus saja, Bu. Cabenya dipisah, ya" jawab Dian.
"Eh, Mba ini orang baru ya, tinggal di mana?" tanya si Ibu rambut pendek menoleh ke arah Dian.
"Rumah di gang itu, Bu" tunjuk Dian.
"Oalah, rumah Bu Ida?" ujar si Ibu rambut pendek kurang yakin.
"Mungkin, saya kurang tahu siapa pemiliknya karena ikut teman saja" jelas Dian.
"Iya, Mba tinggal serumah dengan Bu Emma, kan?" tebak ibu penjual. Dian hanya mengangguk.
"Alhamdulillah, Bu. Semoga saja saya tidak bertemu dengan yang aneh-aneh seperti yang ibu bicarakan tadi" jawab Dian.
"Ini, Mba modelnya" ujar ibu penjual menyerahkan bungkusan plastik kepada Dian.
"Saya permisi Ibu-Ibu" pamit Dian meninggalkan warung model itu. Kepalanya tambah pusing, dia harus cepat pulang.
Tiba di rumah, Dian membuka pintu dapur agar cahaya masuk ke dalam rumah. Aroma masakan tetangga di sampingnya menyeruak ke dalam rumah. Dian segera menikmati model yang masih hangat itu. Setelah itu dia meminum obat flu. Dian keluar dari pintu dapur melihat area di samping rumah yang tampak kosong. Tempat itu mereka pakai untuk menjemur pakaian karena langsung bertemu dengan sinar matahari. Dian berjalan ke samping dan melihat posisi belakang rumah, tepatnya posisi di belakang kamarnya terdapat rumah dan pohon seri. Buntu tidak ada akses keluar masuk di belakang rumah itu.
"Ya Allah, jadi orang yang aku dengar seperti ramai mengobrol waktu itu siapa, ya?" gumam Dian. Badannya meremang. Dia kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dapur lalu segera masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Malam berikutnya ketika Dian sendirian di rumah. Tepat tengah malam.
Gedebuk!!
Dia mendengar suara benda berat jatuh di atas atap rumah. Tepatnya seperti di ruang tengah, dekat meja makan.
Dian bangun dari tidurnya dan sangat terkejut mendengar suara itu. Jantungnya berdetak kencang membayangkan atap ruang tengah bolong. Tapi benda apa yang sudah jatuh di sana. Badan Dian meremang. Dia menarik selimut dan menutupi seluruh badannya. Tidak lupa Dian melafazkan doa agar dilindungi dari gangguan makhluk kasat mata dan tak kasat mata.
Adzan subuh berkumandang, Dian bergegas keluar kamar menuju kamar mandi. Sebelum ke kamar mandi dia ingin melihat dulu benda apa yang sudah jatuh semalam. Ruang tengah tampak rapi dan bersih. Tidak ada plafon yang rusak akibat benda jatuh semalam. Dian mengeryitkan dahinya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah matahari menyembul di balik awan. Dian keluar rumah untuk memastikan kalau rumah mereka aman dari benda yang jatuh semalam. Seperti suara kelapa setandan yang jatuh menimpa atap rumah. Gadis itu mengamati atap rumah dari luar. Semuanya terlihat normal. Dan yang lebih mengejutkan lagi tidak ada pohon kelapa di sekitar rumah mereka. Aneh!!
Bunyi suara gedebuk semalam begitu nyata hingga membuat Dian spontan terbangun dan terduduk. Tapi ternyata rumah kontrakan itu aman-aman saja. Buku kuduknya pun berdiri membayangkan peristiwa semalam.
"Ya Allah, hanya Engkaulah yang tahu" bisik Dian agar rasa takutnya mereda. Dia hanya pasrah saja, toh dia tidak mengganggu penunggu rumah itu jadi kenapa harus takut.
Gadis berjilbab itu masuk kembali ke dalam rumah untuk membuat sarapan pagi, mencuci baju kemudian menyapu rumah.
Dian menghubungi mamanya dan menceritakan kejanggalan yang terjadi di rumah itu. Dia pun membicarakan soal kepindahannya jika sudah mendapatkan tempat kontrakan baru bersama Wita dan temannya yang lain.
"Iya, Mama setuju saja. Mungkin penunggu rumah itu mengingatkan kamu untuk cepat pergi dari sana agar kamu tidak kena imbas dosa yang sudah dilakukan teman kau itu" ujar Mama Dian di balik telpon.
"Iya, Ma. Aku mau PP sajalah. Tidak apalah badan capek" ucap Dian sebelum memtuskan sambungan telpon dari mamanya.
Sudah berapa kali Dian melihat motor RX-king itu bermalam di rumah kontrakan mereka. Sudah dipastikan laki-laki itu menginap lagi di sana. Dian sudah memberitahu Emma dan Rosa sebagai penghuni tertua di sana. Mungkin saja Emma atau Rosa bisa menasehati Ira. Tapi kenyataannya seperti apa yang dia lihat. Setiap ada kesempatan ketika penghuni lain tidak ada di rumah, motor itu akan bermalam di rumah kontrakan mereka.
"Percuma saja bicara dengan Yuk Emma dan Yuk Risa, kalau mereka tidak berani juga menegur Ira" gumam Dian di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Tanggung saja dosanya, lebih baik aku cepat pergi dari sini" sambung Dian sambil mengemasi barang-barangnya.
Dian akhirnya memutuskan untuk pulang pergi mengajar dari Palembang-Prabumulih. Sesekali dia mampir ke kontrakan karena memang belum pindah dari sana.