Rumah Kontrakan

Rumah Kontrakan
RK 2: Seram Juga


__ADS_3

Dian masih menunggu informasi kontrakan dari Wita. Meskipun belum sampai satu tahun, tidak mengapa jika harus pindah dan uang tidak kembali karena sudah bayar kontrakan setahun. Daripada harus kecipratan dosa dan ditegur 'penunggu rumah'.


Emma tidak mau ambil pusing dengan sikap Dian yang menurutnya terlalu berlebihan. Urusan Ira yang sudah berbuat mesum, toh dia sendiri yang akan menanggung dosanya.


Drettt. Drettt. Drettt


Ponsel Nokiko type 1100 milik Dian berbunyi. Gadis itu pun menekan tombol hijau di keypad ponsel.


"Yuk Wit, ada apa?"


"Di, kami mau pindah juga"


"Lho, kan belum setahun. Memangnya kenapa?" Dian jadi merasa heran. Tapi baguslah kalau mereka mau pindah juga. Lamun Dian.


"Kami tidak tahan dengan gangguan di rumah kontrakan kami" jawab Wita.


"Gangguan apa, Yuk?. Kalian kan bisa lapor dengan pemilik kontrakan saja" Dian belum nyambung dengan ucapan Wita.


"Penunggu kontrakan, Dian!!" Wita jadi gregetan.


"Memangnya kalian diganggu seperti apa?. Dia menampakkan diri begitu?" Dian jadi penasaran. Kalau hanya mendengarkan cerita saja, dia tidak takut. Tapi kalau harus mengalaminya sendiri, tidak jamin, deh.


"Ah, sudahlah nanti saja ceritanya kalau sudah bertemu. Sore ini kami mau mencari kontrakan, kamu setuju saja ya kalau sudah dapat?"


"Iya. Pokoknya aku ikut. Di mana saja tidak masalah" jawab Dian. Setelah mendengarkan jawaban dari Dian, Wita pun langsung memutuskan sambungan telponnya.


***


Setelah mencari rumah kontrakan ke sana kemari. Akhirnya Wita dan penghuni lainnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang cukup untuk dihuni sebanyak enam orang. Dian pun dihubungi untuk menyusul dan melihat rumah tersebut.


"Lumayanlah. Tidak jauh masuk gang tapi lumayan jauh juga mau ke jalan utama" ujar Dian.


"Olah raga, Di. Kalau mau naik ojek juga tidak masalah" sela Yani.


"Tanggung kalau mau naik ojek, Yuk. Jalan kaki lumayan berkeringat, tapi kalau naik ojek nggak sampe 5 menit sudah sampai" gumam Erna.


"Yuk, Wit. Katanya mau cerita, kenapa sampai mau pindah dari kontrakan yang sekarang" tagih Dian.


"Kami semua pernah diganggu penunggu kontrakan itu ..."


Wita pun mulai bercerita.

__ADS_1


Sore-sore, dia, Yani, Erna, Novi, dan Sarah keluar rumah untuk mencari makan. Tepatnya untuk makan malam mereka. Setelah membeli makanan yang lokasinya tidak jauh dari gang rumah bedeng (kontrakan), mereka kembali pulang. Tapi setelah 10 menit berjalan rumah mereka tidak bertemu juga. Kelima gadis itu berkeliling dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke warung tempat mereka membeli nasi bungkus tadi.


"Benar kan ini jalannya?" tanya Sarah.


"Iya, Yuk. Erna masih ingat, pohon kelapa itu patokan kita belok keluar dari gang" jawab Erna.


"Bagaimana ini?. Kita sudah dua kali keliling tapi kenapa bedeng itu tidak kelihatan?" tanya Yani bingung.


"Sebentar lagi mau Maghrib ini" sela Novi cemas.


"Seingat ku, kita keluar dari gang yang ada pohon kelapa itu. Kita sudah masuk kan tadi. Terus belok kiri. Kalau belok kanan kan mentok. Tapi kok, tidak kelihatan ada bedeng di daerah sana" ujar Wita mengingat-ingat lagi di mana kesalahan mereka.


"Eh, kita tanya orang saja" usul Sarah.


"Iya. Tuh, ada ibu-ibu lewat" tunjuk Erna melihat ada seorang ibu paruh baya berjalan melewati mereka.


"Bu ... Ibu. Maaf, mau numpang tanya" tegur Yani.


"Iya, ada apa adik-adik ini, kok, rame sekali?" tanya si Ibu heran.


"Kami ini, pegawai yang mengontrak di bedeng Mbah Maimun. Mau pulang ke rumah tapi lupa jalan pulangnya Bu. Bisa minta tolong Bu, kalau Ibu tahu gang yang mana?" tanya Yani dengan sopan.


"Oh, kalian ngontrak di sana, ya. Kalian sudah dikerjai sama penunggu rumah itu" jawab si Ibu sambil tersenyum geli.


"Jalan menuju gang itu pasti ditutupnya dari pandangan kalian. Padahal kalian hanya muter-muter saja di sekitar rumah" sambung si Ibu.


"Kok, ibu bisa tahu?" tanya Erna bergidik.


"Sudah banyak yang mengontrak di sana, mereka semua sudah mengalami seperti yang kalian alami sekarang. Akhirnya tidak betah juga" jawab si Ibu lagi.


Wita dan teman-temannya saling pandang. Barang mereka meremang mendengarkan cerita si Ibu.


"Ayo, ibu antar" tawar Ibu itu. Kelima gadis itu kemudian mengikuti langkah kaki si ibu hingga tiba di depan bedeng Mbah Maimun.


"Ya, Allah. Tidak sampe 10 menit, sudah sampai" seru Novi.


"Iya. Betulkan masuk gang yang ada pohon kelapa itu. Tapi tidak ketemu juga" timpal Erna.


"Jadi dari tadi, kita memang muter-muter saja" sela Sarah.


"Ibu permisi dulu, ya. Kalian banyak berdoa dan jangan bicara sembarangan" pesan si Ibu sebelum meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Iya, Bu. Terima kasih banyak sudah mengantar kami" ucap Yani


Setelah si Ibu pergi, kelima gadis itu masuk ke dalam rumah.


Hari lainnya.


Ketika Yani menimba air di sumur untuk mengisi bak mandi. Air yang ditimba tidak penuh-penuh juga. Kalau air PAM tidak hidup, mereka akan menimba air sumur yang ada di belakang bedeng.


Sampai berkeringat juga bak mandi itu tidak akan bertambah-tambah.


"Novi!!" teriak Yani memanggil Novi yang sedang membaca di kamar.


Novi berjalan ke arah dapur mendekati Yani yang sedang terduduk lesu di lantai karena kecapekan.


"Ada apa, Yan?" tanya Novi.


"Nov, coba kamu yang mengisi bak mandi itu. Aku dari tadi menimba air, kok tidak penuh juga" keluh Yanita.


"Kok, bisa?. Jangan-jangan bak mandi kita bocor lagi" ujar Novi tidak merasa janggal sedikit pun.


"Bocor darimana?. Bukannya kemarin sore kita mengisi bak itu sampai penuh" ucap Yani mengingatkan.


"Iya, ya" Novi tampak sedang berpikir.


"Sudah berapa kali kamu mengunjal air ke dalam bak?" tanya Novi.


"Lima atau enam kali. Tapi airnya aku lihat tidak bertambah juga" sungut Yani. Badannya sudah capek, tapi tidak ada hasilnya.


Mereka berdua pun saling pandang. Teringat ketika mereka muter-muter mau kembali ke bedeng tapi tidak ketemu juga. Badan keduanya meremang.


Jangan-jangan Yani juga sudah dikerjai oleh penunggu bedeng itu. Ketika Novi yang mencoba untuk mengisi bak mandi itu, hasilnya juga tetap sama. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak mengisi bak mandi itu lagi.


Kejadian itu Yani dan Novi sampaikan kepada penghuni lainnya, Erna, Sarah,dan Wita. Mereka pun sepakat untuk hengkang dari bedeng menyeramkan itu. Penunggu rumah itu sangat jahil kepada mereka meskipun tidak menampakkan dirinya. Tapi tetap saja mengganggu.


"Oh, jadi begitu, ya, Yuk. Seram juga, ya, suka jahil begitu" ujar Dian setelah mendengarkan cerita dari Wita.


"Iya. Semoga saja rumah kontrakan baru kita aman dari makhluk tak kasat mata seperti itu" sela Yanita.


"Memang tidak bisa kita pungkiri kalau setiap rumah itu pastilah ada makhluk lain (jin), tapi sifatnya ada yang jahil ada juga yang tidak" ujar Dian.


"Ya, sudah. Besok kita bawa barang sedikit-sedikit untuk pindah ke rumah kontrakan baru" ucap Wita tersenyum.

__ADS_1


Kelima gadis itu akhirnya pulang ke rumah kontrakan mereka masing-masing untuk berkemas-kemas barang yang mau dibawa.


__ADS_2