
Sudah hampir empat bulan Dian tinggal di rumah kontrakan itu. Dia pergi ke sekolah selalu bersama Emma dan Susan. Susan yang Dian kenal dulu tidak sama dengan yang sekarang. Dulu Susan merupakan aktivis di mushola kampus dengan jilbab lebarnya. Sekarang Ayuk tingkatnya itu memakai jilbab yang disemat ujungnya ke atas kepala. Sehingga tidak terlihat panjang lagi. Wajahnya juga sudah memakai make-up meskipun tidak menor. Untuk kalangan aktivis make-up adalah hal yang tabu karena termasuk perbuatan tabarruj. Tabarruj merupakan perbuatan seorang wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya kepada kaum laki-laki (selain suami dan mahromnya).
Okelah lupakan itu. Sabtu malam. Setelah sholat Isya, seperti biasanya, Dian akan mengurung diri di dalam kamarnya. Sementara Susan, Rosa dan Emma tidak ada di tempat karena jadwal pulang mereka ke Palembang. Dian tidak tahu apakah penghuni kamar depan, Ira dan Lisa juga pulang. Karena dia belum bertemu dengan kedua gadis itu sejak tadi siang.
Karena kecapekan, tanpa menunggu lama gadis itu pun terlelap tidur. Biasanya dia akan menyalakan kaset nasyid hingga telelap tidur untuk mengurangi rasa kesendiriannya di dalam rumah itu. Ketika jam 12 malam, Dian terbangun karena mau buang air kecil. Suhu malam itu memang agak dingin karena sore tadi hujan deras.
Keluar dari kamar mandi, mata Dian tanpa sengaja melihat ke arah ruang tamu. Seperti ada yang berbeda dari biasanya.
"Eh, kok ada motor lain di sana" gumam Dian.
Dian pun memberanikan diri berjalan ke ruang tamu. Benar saja, dia melihat motor besar di sana, RX-King berdampingan dengan motor matic milik Ira.
Jantung Dian berdegup kencang sambil memikirkan, sejak kapan motor itu ada di sana. Sampai dia mengambil wudhu sholat Isya tadi, dia tidak melihat kedua motor itu di sana. Hati Dian mendadak resah. Dia kemudian cepat-cepat kembali ke kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
"Ya Allah, Ira ada di kamarnya. Kalau motor itu milik laki-laki berarti dia ada di rumah ini dan tidur di kamar Ira juga. Astaghfirullah!!" Dian menutup mulutnya tidak percaya.
Apa yang terjadi jika lawan jenis berada dalam satu kamar tanpa adanya ikatan pernikahan?. Dian tidak bisa membayangkan hal itu. Dia dan penghuni lainnya pun akan kecipratan dosa jika memang terjadi perbuatan mesum di kamar itu karena mereka tinggal dalam satu rumah.
Dalam pikiran Ira, mungkin di rumah itu sedang tidak ada orang. Dia berpikir kalau Dian juga pulang ke Palembang. Makanya dia berani mengajak laki-laki masuk ke dalam rumah itu.
Hari Senin, penghuni kontrakan sudah ramai kembali. Pulang dari sekolah, Dian memberanikan diri untuk bertanya kepada Emma yang sudah lama tinggal satu rumah dengan Ira.
"Yuk, hmm, Ira itu sudah menikah atau belum, sih?" tanya Dian.
"Belum, Di. Tapi dia sudah punya pacar" jawab Emma.
"Katanya mereka sudah tunangan" tambah Rosa.
__ADS_1
"Pacarnya itu pernah menginap di sini, Yuk?" tanya Dian lagi.
"Ya, nggak pernahlah, Di. Kalau main ke sini pernah sekali-sekali, tapi nggak sampai menginap" jawab Emma.
Hati Dian pun gelisah dan resah. Itu artinya mereka pun tidak tahu kalau Ira mungkin sering membawa pacarnya menginap di kamarnya. Tapi wajar saja mereka tidak tahu, kan Ira membawanya ketika teman-teman kontrakannya pulang ke Palembang semua.
"Kenapa, Di?" tanya Emma curiga.
"Aku hanya penasaran saja. Malam Minggu kemarin ada motor besar di ruang tamu. Sudah subuh motor itu sudah tidak ada lagi" jawab Dian.
Emma dan Rosa pun saling pandang. "Mungkin pacar Ira hanya numpang nitip motor saja" ucap Rosa tidak mau berburuk sangka.
'Semoga saja begitu' batin Dian.
"Oya, Yuk. Di kamar Ira ada kamar mandinya, ya?" tanya Dian karena tidak pernah melihat Ira keluar kamar untuk mengantri mandi.
"Hmm. Pantas saja" gumam Dian. Dia menggelengkan kepalanya menepis pikiran yang tidak-tidak di kepalanya.
Dian pun tidak memikirkan hal itu lagi. Dia sibuk dengan kegiatannya sendiri. Minggu depan dia akan pulang ke Palembang. Sudah lama tidak pulang, dia kangen dengan masakan mamanya.
***
Sabtu siang, Dian sudah bersiap-siap mau pulang ke Palembang. Dia akan pulang bersama Rosa dan Emma juga.
"Yuk Susan tidak pulang Minggu ini?" tanya Dian melihat Susan santai membaca buku di dalam kamar.
"Tidak, Di. Ada urusan" jawab Susan.
__ADS_1
"Aku pulang, ya, Yuk. Hati-hati ya di rumah" ujar Dian kemudian keluar kamar menghampiri kamar Emma.
Kini tinggallah Susan sendirian di rumah itu. Menjelang malam dia masuk ke kamar dan mengunci diri di sana hingga adzan Isya berkumandang. Susan pun baru keluar kamar untuk mengambil wudhu.
Suasana yang sunyi ketika di malam hari membuat bulu kuduknya berdiri. Susan belum juga bisa memejamkan matanya. Baru kali ini dia menginap di rumah kontrakan karena ada janji bertemu dengan seorang laki-laki yang menyukainya.
Belum tengah malam, Susan keluar untuk mengambil minum di meja makan yang berada di depan kamar Emma. Ketika menuju ke sana, Susan tercekat melihat sosok hitam besar tinggi berdiri di depan pintu ruang kosong, di depan meja makan. Dia pun mengurungkan niatnya dan memutar balik badannya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat. Susan melafazkan ayat kursi agar makhluk besar itu tidak mengganggunya.
"Ya Allah, apa itu penunggu rumah ini" gumam Susan dengan badan gemetar ketakutan. Baru kali ini dia melihat penampakan makhluk halus. Dia pun menjadi takut untuk keluar kamar. Hingga adzan subuh berkumandang barulah Susan keluar untuk mengambil wudhu.
Kejadian yang dia alami itu dia ceritakan kepada Emma dan Rosa ketika sudah bertemu kembali.
Ternyata Rosa dan Emma juga pernah melihatnya. Tapi mau pindah rumah bagaimana, mencari kontrakan yang dekat dengan jalan raya sudah susah. Makanya mereka tetap bertahan di rumah itu dengan tetap rajin sholat. Toh, makhluk itu juga tidak mengganggu mereka.
"Mungkin dia mau berkenalan dengan kamu, San" canda Rosa.
"Ah, yuk Rosa ini, yang benar saja. Menyeramkan begitu" ujar Susan.
"Eh, San. Kamu jangan cerita-cerita dengan Dian. Nanti dia takut. Dian kan jarang pulang ke Palembang. Kalau dia sampai pindah, kamu bakalan tidur sendirian, lho" Emma mengingatkan Susan untuk tutup mulut.
"Dian itu pemberani juga, kok. Buktinya dia betah tidak pulang-pulang ke Palembang" sela Rosa.
"Iya, tapi kalau sudah diberitahu, apa dia masih berani juga?. Aku rasa dia akan pulang juga" timpal Emma.
"Iya ... Iya. Aku tutup mulut, kok" ucap Susan.
Tak lama suara pintu ruang tamu terbuka. Tanda Dian sudah pulang dari mengajar, terdengar ucapan salamnya sampai ke kamar Emma.
__ADS_1