Rumah Kontrakan

Rumah Kontrakan
RK 1: Pindahan


__ADS_3

Keesokan harinya


Dian sudah menceritakan tentang rumah kontrakan yang akan ditempatinya bersama lima orang pegawai negeri lainnya.


Ketika pertama kali diajak Emma ke rumah itu, Dian melihat rumah kontrakan itu tampak suram. Mungkin karena plafon rumah begitu rendah sehingga terkesan gelap dan minim pencahayaan.


"Semoga saja aku cocok tinggal di sana" gumam Dian sambil mem-packing barang-barangnya.


"Sudah berkeluarga semua teman kostan kamu, Di?" tanya Lina, Mama Dian.


"Baru Yuk Emma yang sudah menikah, Ma. Anaknya baru satu. Kalau yang lainnya masih gadis" jawab Dian.


'Yuk Rosa sudah dewasa, tapi belum menikah' batin Dian teringat ketika Emma memanggil Rosa dengan panggilan Ayuk. Artinya umur Rosa lebih tua dari Emma


"Mama percaya dengan kamu, Di. Jadi jaga kepercayaan Mama. Jangan mengajak teman laki-laki ke kostan" pesan Lina. Dian anak gadis satu-satunya. Dia tidak mau pergaulan anaknya seperti gadis-gadis di kota yang bebas pergi dengan teman laki-lakinya ke sana kemari.


"Mama bicara apa, sih. Mama nggak lihat apa jilbab yang aku pakai" ucap Dian. Mana berani dia mengajak teman laki-laki ke rumah kontrakannya nanti. Dian masih tahu batas-batas pergaulan dengan lawan jenis. Dian juga ikut pengajian di sana, salah satu majelis yang bisa membentenginya dari pergaulan bebas dan kegiatan yang tidak ada manfaatnya.


Dian sudah minta izin kepada kepala sekolahnya untuk tidak hadir karena mau pindahan. Kepala sekolahnya pun mengizinkan karena maklum kepada Dian yang merupakan CPNS baru dari luar kota.


Dian dan keluarganya tiba di Prabumulih sudah siang hari. Penghuni rumah juga sudah pulang. Kecuali dua perawat itu, Ira dan Lisa. Kebetulan tidak ada di rumah.


"Lumayan juga dekat dengan jalan" ujar Lina setelah berada di rumah kontrakan anaknya.


"Tinggal kamar kecil itu saja yang bisa ditempati Dian, Bu" ucap Emma tersenyum tidak enak dengan Mama Dian.


"Tidak apalah, yang penting dia tidak PP lagi. Capek katanya tiap hari PP dari Palembang- Prabumulih" toleh Lina ke arah anaknya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Aku juga sudah pernah merasakannya. Memang capek sekali. Sampai rumah sudah Maghrib, malam istirahat, eh subuh sudah mau bernagkat lagi. Akhirnya aku tidak tahan dan minta izin dengan suami untuk mengontrak saja di sini" ujar Emma menceritakan pengalamannya.


"Nak Emma dan Rosa, ibu titip Dian, ya. Karena kalian lebih dewasa dari dia. Tolong ditegur kalau ada sikap yang tidak mengenakan" pesan Lina sebelum berpamitan pulang. Rencananya dia dan suaminya akan mampir ke rumah adiknya yang ada di Prabumulih juga.


"Iya, Bu. Kami di sini juga saling mengingatkan" Emma dan Rosa mengangguk tersenyum.


Setelah kedua orang tuanya pulang, Dian segera membereskan barang bawaannya tadi. Susan kebetulan belum pulang karena dia langsung mengajar di salah satu bimbel ternama di kota itu.


Beberapa hari kemudian.


Dia pulang dari sekolah langsung menunaikan sholat dzuhur. Sementara Emma langsung makan siang di kamarnya. Selesai sholat, Dian melihat Emma di kamarnya sedang makan bersama Rosa.


"Di, ayo makan di sini saja" ajak Rosa melihat Dian berdiri di muka pintu kamar mereka. Dian melirik pintu lain yang ada di samping kamar Emma. Pintu itu selalu tertutup sejak dia datang pertama kali ke rumah ini.


'Katanya tiga kamar. Itu ada ruangan lagi. Tapi ruangan apa. Di sampingnya kan jalan gang' batin Dian.


"Eh, iya, Yuk" Akhirnya Dian masuk ke dalam kamar Emma ikutan nimbrung makan di sana. Kebetulan Rosa masak nasi dan oseng-oseng tempe.


"Yuk, aku mau tanya. Pintu di sebelah itu ruangan apa. Kok, ditutup?" tanya Dian penasaran.


Emma dan Rosa saling pandang. Mereka tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya kepada Dian, nanti gadis itu takut.


"Oh, itu. Hanya ruangan kecil, kok. Tempat untuk menjemur pakaian kalau sedang hujan. Jadi pakaian kita bisa tetap kering kalau dijemur di sana" jawab Rosa melirik Emma.


"Oh, begitu. Aku kira gudang" ucap Dian tersenyum lalu menikmati nasi dan lauk buatan Rosa.


Ketika malam hari, Dian terbangun dari tidurnya karena mendengar ada suara di luar kamar. Gadis itu duduk dan melihat Susan masih terlelap tidur di sampingnya.

__ADS_1


"Jam berapa ini?" gumam Dian sambil melihat jam tangannya. Maklum dia belum membeli jam dinding.


"Jam 1. Siapa di luar itu?" gumamnya lagi sambil berdiri kemudian membuka pintu kamarnya.


Dian melihat ada motor matic sudah terparkir di ruang tamu yang memang plong, tidak ada kursi atau barang apapun.


"Oh, Ira baru pulang" bisik Dian karena ketika dia tidur motor matic itu belum ada di sana.


Dian menuju ke kamar mandi, mumpung dia bangun jadi sekalian mau buang air kecil.


Dian tidak begitu akrab dengan Ira, dari mulutnya bisa terlihat kalau gadis itu judes. Lagi pula dia jarang bertemu dengan gadis itu. Dia juga tidak suka mengusik urusan orang lain walaupun mereka satu rumah.


Ketika hari libur, semua penghuni rumah pulang ke Palembang. Sabtu siang mereka sudah pergi. Kadang Ira dan Lisa pulang ke Palembang tidak harus menunggu hari Minggu karena jadwal kerja mereka di rumah sakit shift-shiftan.


Kalau sedang sendirian di rumah itu, Dian akan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya dan tidak keluar dari kamar kalau tidak kebelet mau buang air kecil.


Suatu hari ketika teman-temannya tidak ada di rumah karena pulang semua ke Palembang. Ira juga dinas malam di rumah sakit.


Dian tidur hanya dengan beralaskan kasur milik Susan. Dian tidak bisa memejamkan matanya malam itu. Ketika membaringkan badannya dengan posisi telinganya menempel di bantal, Dian seperti mendengarkan suara obrolan laki-laki dengan bahasa yang tidak jelas di telinganya.


Badan Dian meremang. Setahu dia posisi di belakang kamarnya itu dinding rumah tetangga. Jadi, tidak ada sela untuk orang berkumpul dan mengobrol.


Dian melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia pun mencoba untuk memejamkan matanya dengan posisi badan telentang. Seketika suara itu tidak terdengar lagi, tapi ketika dia memiringkan badannya, suara orang ngobrol itu jelas terdengar namun tidak jelas bahasa apa yang mereka gunakan.


Dian membaca ayat kursi. Kemudian menutup wajahnya dengan bantal agar suara-suara itu tidak terdengar lagi. Dia berharap matahari cepat bersinar. Agar rasa takut itu segera lenyap. Meskipun dia rajin sholat, sebagai manusia biasa rada takut itu tetap ada.


Dian merupakan salah satu penghuni kontrakan yang jarang pulang ke Palembang. Karena kalau hari Minggu dia gunakan untuk pengajian. Kebetulan sekali teman-teman pengajian memilih tempat untuk pekan ini di rumah kontrakan Dian. Gadis itupun menyambutnya dengan senang hati. Jika rumah sering dibacakan Al Quran dan diadakan pengajian, rumah akan mendapatkan berkah, tidak suram dan jauh dari gangguan jin.

__ADS_1


__ADS_2