
Dian dan penghuni lainnya memang jarang bertemu dengan Ira atau pun Lisa. Belakangan ini Lisa jarang terlihat di rumah. Ternyata gadis itu tidak lagi tinggal bersama mereka. Rosa cerita, kalau Lisa pindah ke kontrakan yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. Lisa juga belum mempunyai motor, sehingga kesulitan berangkat kerja kalau dia dapat shift malam atau pun pulang malam.
Gadis itu meminta maaf karena belum sempat berpamitan dengan penghuni kamar lainnya.
Pagi hari, Dian sedang membuat sarapan. Susu hangat dan roti tawar sudah cukup untuk mengganjal perutnya di pagi hari sebelum berangkat bekerja.
Ceklek!
Terdengar suara kamar Ira terbuka. Dian menoleh dan melihat Ira keluar dari kamar menuju ke dapur yang berada di samping kamar Dian. Gadis itu dengan santai melenggang hanya memakai tank top dan hot pant saja. Pemandangan itu membuat Dian kaget. Dia tidak biasa melihat pakaian minim begitu meskipun sesama perempuan. Kok, Dian yang jadi malu. Sementara yang memakai hanya cuek saja.
'Ya Allah, kok anak ini nggak risih berpakaian begitu meskipun semua penghuni rumah ini perempuan semua' batin Dian.
"Buat apa, Yuk?" tegur Ira berdiri di samping Dian. Dia juga mau minta air panas sisa Dian membuat susu tadi.
"Susu coklat, Ra. Kamu nggak kerja?" toleh Dian.
"Baru pulang subuh tadi, Yuk. Mau makan dulu, nanti lanjut tidur" ucap Ira cuek.
Setelah mengambil air panas, Ira kembali lagi ke dalam kamarnya. Dian juga masuk ke kamarnya untuk sarapan. Dian masih membayangkan penampilan Ira tadi. Bodynya tampak tidak seperti seorang gadis. Badannya memang besar tinggi, tapi buah dadanya kelihatan besar sekali seperti ibu menyusui saja. Kesannya sudah seperti emak-emak beranakan saja.
Dian menepis pikiran risau di kepalanya tentang Ira kemudian dia cepat-cepat menghabiskan sarapannya. Di luar kamar, Emma sudah memanggilnya untuk pergi kerja bersama. Mereka berjalan menuju ke depan Pemkot untuk menunggu angkot jurusan ke daerah sekolah mereka.
Selesai beraktivitas di sekolah, Dian tidak pulang bersama Emma. Rencana nya dia mau ke toko ATK dan mencari cemilan dulu. Di jalan, Dian seperti melihat Lisa yang baru saja turun dari ojek.
"Lis ... Lisa!" panggil Dian sedikit berteriak memanggil gadis berjilbab pendek itu. Gadis itu pun sontak menoleh ke sumber suara.
"Yuk Dian" serunya ketika melihat Dian berdiri di depan toko ATK. Lisa kemudian menyeberang jalan dan menghampiri Dian.
"Eh, pindah kok nggak bilang-bilang" ucap Dian memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Maaf sekali, Yuk. Kita jarang bertemu walaupun satu rumah. Jadi nggak sempat pamitan" terdengar suara tawa kecil Lisa karena merasa tidak enak.
"Apa alasan kamu pindah, Lis?" selidik Dian.
"Jauh dari rumah sakit, Yuk. Aku kan sering dinas malam, takut juga pulang sendirian" jawab Lisa.
"Ira kok santai saja, nggak ikut kamu pindah" ujar Dian masih memancing Lisa. Terlihat mimik wajah Lisa sedikit berubah.
"Hmm. Dia kan punya motor, Yuk. Dan kayaknya Ira juga betah di sana" jelas Lisa. Tapi ucapan Lisa tidak membuat Dian puas.
"Apa ada sesuatu yang lain sampai kamu pindah?" tanya Dian lagi.
"Ah, sudahlah Yuk Dian. Nanti Ayuk tahu sendiri. Aku mau beli bakso dulu, ya. Titip salam untuk Ayuk yang lainnya" jawab Lisa kemudian meninggalkan Dian begitu saja. Lisa tidak mau membahas lebih jauh alasan dia pindah dari rumah kontrakan itu.
"Tahu sendiri?. Tahu sendiri tentang apa?. Nggak jelas sekali jawaban Lisa ini" gumam Dian. Dia pun melanjutkan kembali langkahnya menyusuri pelataran ruko-roko untuk mencari cemilan.
***
"Nggak tahu juga, Yuk. Kenapa memangnya?" Dian balik bertanya.
"Nggak, tadi sebelum Ira pergi dinas, dia menanyakan kamu" jawab Emma.
Dian mengeryitkan dahinya. Biasanya juga ketika dia tidak pulang, Ira tidak pernah bertanya.
"Mungkin pulang, Yuk. Kalau pengajian minggu ini dipindah hari lain. Tapi aku masih menunggu informasi lagi. Takutnya ada perubahan" jelas Dian.
'Aneh, kenapa Ira menanyakan tentang aku mau pulang atau tidak?' batin Dian curiga.
Emma pun mengabari Ira bahwa kemungkinan Dian pulang ke Palembang. Emma berpikiran kalau Dian tidak pulang, Ira ada teman di rumah karena Minggu ini, dia dapat jatah libur, hari Rabu.
__ADS_1
Tanpa Ira ketahui ternyata Dian tidak jadi pulang ke Palembang. Mereka juga belum bertemu karena Ira dinas siang. Setelah pulang dari sekolah, Dian juga mengurung diri di dalam kamar. Seperti biasa dia keluar kamar ketika mau beraktivitas di kamar mandi saja. Makanan dan minuman sudah Dian siapkan di dalam kamarnya. Gorden di ruang tamu juga tidak pernah dibuka. Sehingga kondisi di rumah itu ada penghuninya atau tidak, sama saja.
Setelah mengambil wudhu untuk sholat Isya, Dian melihat ruang tamu masih kosong. Belum ada motor Ira di sana. Itu artinya, perawat itu belum juga pulang.
Jam 10 malam, Dian baru bisa memejamkan matanya. Entah Ira sudah pulang atau belum, dia tidak tahu lagi. Kebiasaan yang sering Dian lakukan adalah terbangun tengah malam untuk buang air kecil. Seperti kejadian sebelumnya, Dian melihat lagi motor RX-King yang sama berada di ruang tamu.
"Astaghfirullah, datang lagi" lirih Dian.
Dian pun berjalan pelan mengambil jilbab langsungnya di dalam kamar. Dian ingin memastikan apakah ada laki-laki atau tidak di rumah itu. Dia menempelkan telinganya di daun pintu kamar Ira. Hening tidak ada suara apapun.
'Ira pasti sudah tidur' batin Dian menyakinkan dirinya.
Daun telinga Dian masih menempel di pintu kamar Ira. Belum sempat dia menarik dirinya menjauh dari kamar itu. Dian dikejutkan dengan suara desahan dari dalam kamar. Badan Dian meremang. Suara desahan Ira dan seorang laki-laki.
'Astaghfirullah!!' jerit Dian di dalam hatinya.
Dian langsung menjauhkan diri dan masuk ke dalam kamarnya. Badannya sudah panas dingin membayangkan apa saja yang dilakukan Ira dan pacarnya di dalam sana. Lebih menakutkan daripada melihat penampakan makhluk halus.
Setelah mendengarkan suara itu, Dian tidak dapat memejamkan matanya lagi.
"Ya Allah. Aku tidak mau tinggal di rumah ini lama-lama" gumam Dian.
Keesokan paginya.
Motor RX-king itu sudah tidak ada lagi di dalam ruang tamu. Hanya ada motor matic Ira.
"Apa gadis itu sudah pergi?" gumam Dian sambil berjalan pelan ke ruang tamu. Dia ingin melihat apakah sepatu kerja Ira masih ada di ruang tamu atau tidak.
Sepatu kerja Ira sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Itu artinya dia sudah berangkat kerja. Dian menarik napas panjang. Sepertinya Ira tidak tahu kalau Dian ada di dalam rumah.
__ADS_1
Dian tidak akan memberitahu penghuni lainnya. Dia pun teringat dengan ucapan Lisa tempo hari. Apa mungkin itu juga penyebab Lisa tidak mau sekamar lagi dengan Ira. Entahlah.