Rusuk Tertukar

Rusuk Tertukar
Bab 4


__ADS_3

Dia tidak ambil pusing dengan ucapan Riko, karena dia sadar kalau laki-laki itu hanya ingin membuat nya kesal.


Laki-laki itu berjongkok di hadapan nya yang sudah duduk. "Saya gak ada maksud buruk lho, mba, boleh saya periksa kaki nya? " tanya Riko, "Soal nya Mba kan gak mau saya anter ke rumah sakit." lanjut nya tanpa mengalihkan pandangan dari Aisyah.


"Gak usah, saya bisa sendiri. Cuma segini aja gak perlu sampe ke rumah sakit. Aku bukan cewek manja." Celetuk nya dingin.


"Kalau gitu, boleh saya periksa ya! "


"What.... lho gila ya? "


"Laki-laki mana yang tidak akan gila, bila melihat wanita secantik, mba, bak bidadari." kata Riko kembali memperlihatkan senyum menggoda.


'Ini bocah, ngira aku cewek apaan sih!'


"Saya bilang, saya baik-baik aja. Kamu pergi saja deh." Kata Aisyah, terdengar mengusir, "Saya bisa mengurus diri sendiri."


"Saya tidak akan pernah ninggalin kamu, Mba." kata Riko, " Sebelum saya memastikan Mba baik-baik saja. Saya kan, sudah bilang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak sengaja saya lakukan."


Jika saja mereka saat ini sedang berada di bandara Indonesia, pasti orang-orang yang mendengar ucapan nya itu akan berpikir liar. Beruntung karena tidak ada yang mengerti percakapan mereka.


"Kamu tau gak yang sakit itu di bagian mana?" Riko hanya menggeleng pelan, "Lutut saya, kamu yakin masih mau memeriksa nya? " Mata Riko terlihat membulat.


"Sorry, saya kira pergelangan kaki nya."


"Pergelangan kaki juga, ya kali aku biarin lu pegang."


"Kan dalam keadaan emergensi Mba. Anggap aja aku dokter yang memeriksa pasien nya."


"Tapi kamu kan bukan dokter." celetuk Aisyah. Aisyah merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Selama ini ia yang selalu menjaga perilaku dan juga ucapan nya di hadapan seseorang, terutama kaum hawa, seakan ada energi yang mendorong dirinya untuk berlaku dengan lues.


Hal itu baru terjadi dalam sejarah hidup nya selama 25 tahun. Dan yang membuat perubahan itu terjadi adalah karena kehadiran seorang laki-laki yang di anggap nya bocah yang berisik. Namun juga mampu menjadi sosok penghibur baginya, yang selama ini tertutup dari perlindungan keluarga.


Setelah beberapa saat hening. Menunggu keadaan kakinya membaik, Riko kembali mengoceh dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


"Ohya, Mba tinggal dimana?"


"Di Jakarta." Jawab nya terdengar tak perduli.


"Terus kesini ngapain?"


"Liburan." jawab nya datar.


"Sama dong, Terus nginep di hotel apa?"


Aisyah menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan, yang sebelum nya hanya menjawab tanpa melihat lawan bicara nya. Sekarang dia menatap Riko dengan wajah masam.


"Kamu, kenapa bawel banget sih. Kenapa kamu pengen tau saya nginep dimana?" Melihat Riko tersenyum malah semakin membuat nya jengkel.


"Ya, mana tau kita nginep di hotel yang sama."


"Terus kalau pun iya, kenapa? "


Saat hendak menghardik gombalan Riko, HP nya bergetar. Iya menerima panggilan dari nomor tanpa nama.


"Halo, apa ini dengan miss Aisyah?" Tanya sang penelpon dari balik benda pipih yang ia letakkan di daun telinga.


"Iya benar, dan anda siapa?"


Pria itu pun memberi tahu bahwa dia adalah supir yang akan menjemput nya.


"Biar saya bantu bawakan." Tawar Riko yang langsung menyambar koper Aisyah. Dia pun membiarkan nya, karena walau ia bilang tidak. Riko pasti tidak akan menghiraukan.


Melihat dia masih berjalan dengan menahan rasa sakit, Riko kembali menawarkan lengan nya untuk dia pegang, namun Aisyah menolak.


"Jangan modus deh."


"Ya ampun Mba, bisa gak sih jangan suzan mulu napa! saya padahal tulus lho dari lubuk hati paling dalam."

__ADS_1


Setiba nya di pintu keluar, si supir yang di kirim dari hotel sudah menunggu.


"Mau ngapain?"


"Saya kan udah bilang bakal tanggung jawab. Saya akan pastikan, Mba aman sampai hotel." Entahlah ada apa dengan bocah itu, untuk pertama kalinya Aisyah bertemu dengan seorang yang lebih keras kepala dari nya.


Ucapan atau larangan nya seakan tak terdengar pada bocah ini. Bahkan anak itu memaksa mengantar nya sampai di depan kamar.


"Mba... "


"Apaan lagi sih tong?" Dia sudah mulai kehilangan kendali.


"Nama saya Riko Mba, bukan Tong. Saya cuma mau bilang, maaf."


"Okay, makasih sudah bertanggung jawab dengan baik." jawab Aisyah, tersenyum simpul seadanya, agar tidak terbilang menggoda yang bukan makhrum.


Riko senyum-senyum, akhirnya bisa mendengar suara lemah lembut yang terdengar sangat manis, sesuai paras sang pemilik.


"Sampai ketemu lagi, manis." Ujar Riko mengedipkan mata nya. Senyum nya terlihat begitu menggoda, walau masih bocah tapi terlihat begitu menggoda.


Manis, batin Aisyah. Seakan tersihir di saat-saat terakhir, sebenarnya sejak awal pria itu memang sudah manis, namun hanya saja sejak tadi Aisyah tidak terlalu memperhatikan wajah atau penampilan Riko.


**********


Kemarin karena keadaan kaki nya yang sakit, membuat Aisyah melewatkan salah satu rencana liburan yang sudah ia rancang sejak masih di rumah. Namun apa daya, kita tidak tau kalau kecelakaan bisa terjadi kapan dan di mana saja.


Sebaik apa pun kita merancang impian, pada akhir nya rencana Tuhan lah yang terbaik. Siapa yang menyangka perubahan situasi yang akan Aisyah alami selama berada di negara impian nya itu.


"Apa kami bisa bertemu lagi! " Gumam nya sambil merogoh ponsel dari saku gamis yang ia pakai.


"Hai..."


Deg

__ADS_1


__ADS_2