
"Mba, pasti udah punya rencana mau kemana kan hari ini." Aisyah mengangguk pelan.
Terlukis senyuman di sudut bibir nya sebelum ia berucap, "Bareng aja ya."
Sebelah alis Aisyah terangkat, "Jangan ngarep." celetuk nya.
"Emang ngarep." ujar nya dengan PD.
"Saya tidak mau jalan sama kamu. Kamu terlalu bawal, lebih bawel dari ibu saya, saya di sini mau liburan bukan dengerin ocehan yang buat saya pusing." kata Aisyah dingin.
Aisyah benar-benar yakin jika mereka jalan bersama maka perjalanan nya akan sangat terganggu. Karena pria itu sangat berisik, dan punya hobi membuat dia kesal.
"Saya gak terima penolakan, dan Mba inget kan saya bilang kemarin kalau saya akan bertanggung jawab atas Mba." ujar nya penuh penekanan.
Aisyah terperangah, dia tidak bisa memahami polo pikir bocah itu, kenapa dia ingin mengambil tanggung jawab atas dirinya. Sedangkan tanggung jawab itu jelas-jelas milik sang Ayah. Hubungan apa yang mereka miliki sehingga ia ingin melaksanakan tanggung jawab.
Karena tidak ada respon dari lawan bicara ia kembali berucap, "saya akan menjaga dan memastikan keselamatan Mba sampai nanti kita kembali ke tanah air."
Dia meremas sudut gamis nya karena geram.
'saya menyesal karena sempat beberapa saat lalu memiliki pikiran dapat bertemu bocah ini lagi, ya Allah tolong buat laki-laki ini menghilang dari hadapan ku, dia terlalu berisik, terus saja berkicau bagai burung membuat otak ku terasa kram.'
Namun Tuhan tidak mengabulkan doa nya, dan malah terus membuat mereka selalu bertemu. Bagaimana pun ia menghindari anak itu, pria itu terus saja mengikuti nya kemana ia pergi. Hinga akhirnya dia sudah terbiasa dengan kehadiran Riko, mereka juga mulai mengobrol dengan santai.
Setelah beberapa saat suasana menjadi hening, Aisyah pun memulai topik, "Em, hei bocah, boleh saya bertanya? " Atensi Aisyah menatap wajah Riko.
Namun seketika itu juga alis Aisyah tertarik sebelah, karena melihat reaksi Riko yang tak biasa.
Riko menatap Aisyah dengan termangu, seraya mengukir senyuman di sudut bibir nya yang seksi, "Akhirnya Mba tertarik juga sama saya. "
"Saya cuma mau nanya. Bukan tertarik sama kamu. "
__ADS_1
"Padahal saya senang banget kalau Mba benar-benar tertarik sama saya. "
"Ya udah deh gak usah di kasih tau. Udah gak ingin tau." ujar Aisyah geram.
Riko terkekeh melihat wajah menggemaskan Aisyah, dia ingin terus menggoda nya hanya untuk bisa melihat wajah imut wanita itu saat kesal.
"Iya, iya... Galak banget, untung cantik kalau gak.... "
"Kalau gak apa?" Tanya nya seraya mendekat kan wajahnya.
"Jangan terlalu deket, entar saya khilaf. Karena, Mba itu terlalu menggoda."
Sontak Aisyah mundur, "Kamu itu ya, bocah yang gak punya sopan santun, sama orang yang lebih dewasa."
Riko terkekeh melihat Aisyah salah tingkah, "Oke, mba mau tau apa soal saya!" tanya nya.
Namun Aisyah masih bergeming seraya memalingkan wajah, dengan masam.
Perlahan atensi nya kembali menatap Riko sebelum kembali melanjutkan pertanyaan nya, " Apa yang kamu lakukan saat ini? maksud saya kamu masih sekolah atau..."
Riko memberi penjelasan, perihal keterlambatan nya meneruskan pendidikan di universitas.
Akhirnya dia pun menceritakan tujuan nya datang ke negara itu, bahwa dia sedang bingung dengan keputusan yang ingin dia ambil. Antara melanjutkan studi atau membuka usaha dengan uang biaya pendidikan nya.
"Kenapa tidak kuliah dulu, baru nanti buka usaha setelah selesai studi nya! " papar Aisyah ingin tau lebih jauh.
"Karena saya tidak yakin bisa meninggalkan ibu sendiri. Dia tidak memiliki siapa pun selain diriku, kalau saya pergi sejauh ini. Tidak ada yang akan merawat nya."
Aisyah tidak bertanya tentang ayah atau keluarga nya yang lain, dia hanya menerka-nerka mungkin sang ayah sudah meninggal.
"Hmm, saat kamu bingung. Kamu seharusnya bertanya pada Nya..."Ucap Aisyah, "Allah, dia pasti akan memberitahu mu apa yang terbaik." Papar Aisyah, tersenyum seraya menepuk pundak Riko.
__ADS_1
Tindakan Aisyah itu lagi-lagi membuat jantung Riko berdegup kencang, setiap kali senyuman itu terlihat.
********
Hari ini mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah lama ingin Aisyah datangi. Sebenarnya dia sangat ingin melihat bunga sakura di musim semi, namun hal itu mustahil karena saat ini sedang musim dingin di kota tersebut.
"Mba, turun salju." Ujar Riko seraya mendongak ke langit, dan Aisyah pun melakukan hal yang sama seraya menengadahkan kedua tangan nya ke atas hendak menangkap salju yang sudah mulai berjatuhan.
Mereka benar-benar sangat senang karena bisa melihat salju untuk pertama kalinya.
Pagi ini pemberitahuan perkiraan cuaca memang sudah di umumkan. Bahwa akan turun salju pada tengah hari
Melihat ekspresi Aisyah yang mengagumi keindahan salju yang terus berjatuhan, senyuman yang terukir di wajah Aisyah menjadi pemandangan terindah bagi Riko, ia termangu menatap wajah gadis itu seakan enggan untuk berpaling. 'Cantik.' batin nya terus menerus menyerukan satu kata yang sama. 'Cantik...'
"Mba, percaya mitos gak? " Tanyanya polos, memecah keheningan.
"Entah lah." jawab Aisyah tanpa menatap Riko. "Saya kurang yakin soal itu, karena jika percaya dan sampe menaruh harapan besar pada hal yang tak pasti, bisa melukai kita pada akhirnya." ujar nya seraya memainkan salju yang hinggap di kedua telapak tangan nya.
Salju yang jatuh semakin deras, hingga dengan sekejap setiap sudut berubah warna menjadi putih.
"Takut kecewa dan patah hati juga, Mba? " Kekeh Riko, mengulurkan sebelah tangan nya ke kepala Aisyah, Riko membersikan salju yang hinggap di pucuk kepala Aisyah yang berlapis hijab yang ia pakai.
"Emang ada orang yang tidak takut kecewa? " Aisyah sewot. Membuat Riko semakin terkekeh.
"Soal nya kesan pertama saya saat melihat, Mba itu adalah sosok wanita yang kuat, dan berpendirian teguh." ujar nya, yakin dengan penilaian nya.
"Saya juga...
Awhh... " Aisyah merintih karena kakinya tidak sengaja tersayat benda tajam yang tertimbun oleh salju.
"Kenapa Mba?" Riko panik melihat warna putih salju kini berubah warna menjadi merah. "Mba, kamu terluka?" Tanya nya semakin panik, melihat darah keluar dari kulit wanita itu.
__ADS_1
Riko langsung berjongkok dan mengangkat gamis Aisyah dengan sopan. "Maaf Mba, sata cuma mau liat luka nya, tidak ada niat buruk." Aisyah hanya termangu tidak protes dengan tindakan Riko.
Riko melepaskan kaos kaki yang Aisyah pakai, dan memang luka nya lumayan dalam di bagian pergelangan kaki sebelah kanan nya.