Rusuk Tertukar

Rusuk Tertukar
Bab 7


__ADS_3

Riko duduk di samping Aisyah tanpa mengalihkan atensinya dari wajah Aisyah yang sedang tertidur di atas hospital bad atau tempat tidur pasien.


Setelah tiba di rumah sakit, Aisyah langsung mendapatkan perawatan, karena khawatir Aisyah akan kesakitan saat lukanya di jahit, Riko memaksa dokter yang merawat Aisyah agar menggunakan obat bius, alhasil Aisyah pun merasa mengantuk akibat efek obat tersebut.


Riko tersenyum sambil berucap, "Dalam situasi apa pun, wajah teduh nya sungguh menyejukkan hati."


"Saya merasa selama ini semesta tidak ramah, menghantam saya terus menerus seakan memaksa agar diriku kalah. Namun kehadiranmu mengubah segalanya, bak rintik hujan di tengah kobaran api." gumam nya, senyuman nya tak memudar sedikit pun.


Tak lama berselang terdengar getaran dari dalam tas Aisyah, namun Riko merasa ragu untuk membuka tas tersebut. Karena tidak ingin di salah pahami oleh sang pemilik, takut di anggap lancang menyentuh barang orang lain tanpa ijin dari pemiliknya.


"Saya beritahu setelah dia bangun saja." gumam Riko, menggaruk kepala yang tak gatal.


********


"Assalamualaikum, Ayah..." sapa Aisyah menyambut panggilan sang Ayah.


"Nak, apa yang terjadi padamu?" tanya ayah nya terdengar khawatir.


Aisyah merasa ragu menjawab sang ayah, namun Aisyah juga tidak bisa berbohong. Karena selama ini ia di ajarkan untuk berkata jujur, karena berucap dusta merupakan dosa yang di benci oleh Allah SWT.


"Aisyah baik-baik saja ayah," Kata Aisyah


"Kalau memang baik-baik saja, kenapa mengabaikan panggilan ayah?"


"Tadi Aisyah sedang tertidur, Yah."


"Tertidur?" tanya ayah nya bingung, "Sejak kapan putri ayah, tidur saat siang hari?"


"Ay, tertidur akibat efek obat, yah." jelas nya.

__ADS_1


"Obat? kamu sakit!" ujar ayah nya, "Sakit apa? Kalau sakit kenapa tidak menghubungi Ayah." dengan nada suara penuh khawatir, ayah nya kembali berucap, "Kalau begitu, Ayah akan menyusul ke sana sekarang juga."


"Ayah, Aisyah baik-baik saja."


"Mana ada seseorang yang baik-baik saja minum obat sampai tertidur sangat lama." cerca sang ayah tanpa henti.


"Ay, minta maaf ayah. Ay bukan sakit, hanya tidak sengaja melukai kaki Ay. Saat melakukan perawatan dokter nya menyuntikkan obat penghilang rasa sakit. Karena itu, Ay sampai tertidur." Jelas nya panjang lebar.


"Kamu terluka?"


"Iya, Yah."


"Separah apa lukanya? Ah, tidak. Ayah harus melihat sendiri luka nya. Ayah akan pesan tiket pesawat sekarang."


"Ayah, luka nya tidak parah, jadi ayah tidak perlu terbang kemari. Ay, baik-baik saja Ayah, maaf karena sudah membuat ayah khawatir. Tapi Ay janji akan menjaga diri dengan baik mulai sekarang dan tidak akan terluka atau pun sakit lagi. Ay, akan kembali sesuai jadwal yang Ay janjikan pada ayah. Ayah, Ay mohon, hm.." Sangat sulit baginya untuk bisa membujuk sang ayah agar dapat mengijinkan dirinya pergi berlibur keluar negeri. Namun jika sampai sang ayah menyusul tidak mungkin ia di ijinkan berada di sana lebih lama, ia pasti langsung di bawa pulang.


"Apa, Dev tahu kamu terluka?" Ujar ayah nya membuat Aisyah menghembuskan napas lega.


"Belum, Yah," kata Aisyah, "karena Ay langsung menghubungi ayah setelah bagun."


"Baiklah, sekarang hubungi dia, dan beritahu apa yang terjadi. Jangan sampai membuat nya khawatir."


"Iya, Yah."


Setelah selesai bicara pada sang ayah, kini Aisyah mulai mencari nama Devano di layar ponselnya. Seperti saran sang ayah, kalau dia berkewajiban mengabari tunangan nya.


Tanpa Aisyah sadari sedari tadi sepasang mata sedang menyaksikan perbincangan yang ia lakukan dengan sang ayah, terlukis senyum manis di sudut bibir pria itu. Melihat betapa dekat dan manja nya Aisyah saat berbicara pada ayah nya.


Sebelum Aisyah kembali meletakkan benda pipih nya di daun telinga yang terbalut hijab yang ia pakai. Riko melangkah mundur mengurungkan niatnya untuk menghampiri wanita itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Riko kembali dengan menenteng kresek putih di kedua tangan nya, setelah berada tepat di samping tempat tidur rawat Aisyah, Riko berdehem, "Ehem..."


"Kamu..." Aisyah membalik tubuhnya menatap Riko dengan wajah kaget nya.


"Sudah bagun, Mba?" tanya Riko seraya meletakkan kresek bawaan nya di atas nakas yang tersedia di sana.


"Kamu masih disini?" Aisyah membalas dengan pertanyaan.


"Hmm."


"Saya kira kamu sudah pergi."


"Memangnya saya setega itu, meninggalkan seorang gadis yang terluka, di rumah sakit seorang diri." kata Riko, "Atau, jangan-jangan, Mba takut ya saya tinggalin?"


"Ih, apaan." kata Aisyah, "Siapa yang takut kamu tinggalin."


"Hahaha... Takut juga gak pa-pa kok, mba. Atau, mba kangen ya, sama saya. Karena saat, mba bangun tidak melihat wajah tampan saya, jadi nya, mba sedih...."


"Kepedean banget sih, kamu." celetuk Aisyah memalingkan wajahnya. "Kamu bawa apa? banyak banget?" tanya Aisyah saat melihat tumpukan kresek di atas nakas di samping nya.


"Ea, ini... saya hanya membeli beberapa makanan ringan untuk pasien di ruangan ini."


Pun benar Riko membawa minuman dan juga makanan ringan untuk di bagikan pada pasien yang ada di ruangan itu. Walau mereka tidak mengenal orang-orang itu dan juga bahkan tidak terlalu mengerti ucapan mereka, dengan sabar Riko membagikan makanan dan minuman itu kepada setiap orang yang ada di sana.


"Dan ini..."ujar Riko seraya menjulurkan tangan nya ke hadapan Aisyah, "untuk wanita termanis, yang manisnya bahkan mengalahkan rasa minuman ini."


Aisyah termangu mendengar gombalan Riko membuat hati nya bergidik. Antara geli dan juga senang, walau Aisyah benar-benar tidak terbiasa mendengar seseorang memujinya.


"Riko..."

__ADS_1


__ADS_2