Saat Aku Terobsesi

Saat Aku Terobsesi
Acara Makan Kelas ( End )


__ADS_3

30 menit pun telah berlalu, Leo mulai bersiap untuk berangkat menjemput teman kecilnya itu di kediaman Tasya. Dengan berpakaian casual yang memperlihatkan kesan santai, Leo terlihat nyaman dan cocok. Kaos oblong berwarna coklat muda dan celana jeans hitam miliknya adalah outfit yang sering dipakai Leo.


Sebelum berangkat, Leo tidak lupa menyemprotkan parfum yang pernah diberi oleh Tasya. Parfum beraroma blue jack adalah hadiah sederhana yang diberi Tasya untuk Leo, saat Leo berulang tahun ke 17 tahun. Leo sangat menyukai Parfum itu, Leo memakainya di acara tertentu saja dengan tujuan mengirit. Karena bukan tentang Parfumnya, itu karena orang yang memberi hadiah adalah orang yang Leo sukai.


Leo mulai berangkat menuju rumah Tasya dengan perasaan gembira. Karena tak sabar melihat Tasya memakai gamis baru. Leo merasa penasaran dan terus berekspetasi, penampilan cantik Tasya malam ini.


Sesampainya dirumah Tasya, Leo terpanah melihat gadis cantik didepannya. Tasya memakai gamis berwarna plum yang terlihat manis, tak lupa juga memakai jam tangan yang diberi Leo. Leo yang melihat Tasya pun terus memandangi Tasya fokus tanpa berkedip.


" Ehemm .. Awas loh kemasukkan abu Kamu. Hahaha ", ledek Tasya melihat ekspresi Leo termelongo.


" Haa .. Oh! Oh .. Hehe, maaf ya aku habis dihipnotis soalnya ", Leo tersadar.


" Eh, dihipnotis ? Serius Kamu ! "


" Iya Cya, dihipnotis kecantikan Kamu ! ", Leo tersenyum licik.


" Ehh dasar ! Uda ah. Yuk jalan ! Tadi aku juga udah minta pamit sama Kakak ", jelas Tasya.


" Ohhhh .. Pantes. Ga ngeliat satpam yang kadang matanya bakal melotot kalo ngeliat Aku. Apa muka ku ini kaya muka maling Cya ? ", Leo menatap Tasya.


" Hahaha .. Mungkin ", tawa Tasya puas.


" Haaa .. Enggak, enggak. Kamu ganteng kok ! ", sambung Tasya terpaksa memuji.


" Wkwkw .. Akhirnya Kamu menyadari Cya ! Makin pede ni aku rencana punya bini 9 ", Leo memuji diri sendiri sambil bercermin di kaca spion motornya.


" Ehhmm Gilaa .. Gila. Dapet 1 aja harus sujud syukur Kamu Yo, soalnya cewe sekarang standar nya tinggi - tinggi loh Hahaha "


" Alah gampang itu. Aku soalnya paket komplit buat jadi imam "


" Yaudah deh. Iyaa Iyaa serah Kamu dah ", Tasya bosan berdebat.


" Hehe .. Yuk Cya ", titah Leo.


" Ok .. Ey ", tutup Tasya mengakhiri.


Tasya dan Leo memulai perjalan mereka ke restauran Mahmed. Karena mereka berangkat pukul 8, membuat Leo membawa motor dengan kecepatan tinggi. Tasya yang duduk dibelakang terus menarik baju belakang Leo dengan erat. Diikuti rambut Tasya yang menjadi tak karuan bentuknya.

__ADS_1


Leo dan Tasya sampai dengan selamat. Leo memarkirkan motor di sekitar restoran dipokok tempat parkir. Jantung Tasya yang berdegup kencang akibat lajunya motor Leo, mulai sedikit membaik saat Tasya sudah memijakkan kaki diatas tanah. Leo dan Tasya masuk kedalam restoran Mahmed sambil merapikan penampilan mereka.


Reyna yang duduk disamping Emon melihat penampilan rambut Tasya yang sedikit urakan menjadi tertawa kecil. Dengan muka menyeringai, terus memandangi rendah Tasya yang berada tepat didepan duduknya. Emon yang memperhatikan kelakuan pacarnya itu pun memasang eksperesi wajah tidak senang saat menatap Reyna.


Reyna yang menjadi gugup dan ketakutan, langsung merubah tatapannya kepada Tasya. Reyna tidak ingin menghancurkan mood baik Emon yang sangat menantikan makan bersama teman sekelasnya. Karena bagi Emon, ini adalah momen penting yang jarang bisa Emon lakukan. Sebab itu Emon adalah orang yang sibuk sebagai Ketua Osis.


Tasya tak menghiraukan tatapan Reyna yang merasa jijik melihat penampilannya. Tasya terus fokus memperhatikan bagian bawah gamisnya yang mungkin ikut kusut karena angin kencang.


Disisi lain Leo memperhatikan gelagat Reyna, merasa kesal didalam hati. Namun melihat Tasya yang tidak mengetahui itu membuat Leo merasa sedikit tenang dan tak menghiraukannya lagi.


Dodi mulai membagikan iuran sisa uang kas ke setiap orang yang hadir. Masing - masing mendapat jumlah uang yang berbeda - beda, namun milik Tasya lah yang terbanyak. Tasya mendapatkan sisa uang kas sebanyak 300 ribu. Jumlah tersebut sangat disambut oleh Tasya dengan perasaan riang, dengan uang tersebut bisa membantu sedikit biaya masuk perguruan tinggi yang sudah Tasya rencanakan.


Semua orang yang hadir diacara itu mulai menyantap pesanan mereka. Tasya yang duduk disamping Putri menyantap makanan sambil mengobrol. Putri adalah sahabat dekat Tasya, mereka mengenal saat pertama kali masuk SMA. Isi pembicaraan mereka adalah tentang Universitas mana yang akan mereka tuju. Putri dan Tasya berniat masuk di Universitas yang sama, agar mereka bisa terus bertemu dan menyelesaikan pendidikan bersama.


Tiba - tiba Emon yang mendengar obrolan Tasya dan Putri merasa penasaran.


" Tasya ", panggil Emon menatap wajah Tasya.


" Eh .. Oh, I .. Iyaa Emon ? ", jawab Tasya dengan gugup.


" Kamu mau coba masuk ke Universitas mana ? "


" Oh, itu yaa. Emm bagus lah ! Semoga diterima yaa ", Emon tersenyum.


" Makasih Emon ", jawab Tasya membalas senyum.


Reyna merasa kesal melihat Emon yang mengajak bicara Tasya. Disisi lain Tasya tak menghiraukan bila dia akan ditegur kembali oleh Reyna, karena Reyna sudah pernah memperingati Tasya sebelumnya. Tasya merasa semangat nya berapi - api setelah Emon mendukungnya. Tasya berharap dia bisa masuk kedalam Universitas Mars dengan jalur beasiswa, karena Tasya berpikir prestasinya selama ini akan memuluskan rencananya.


Reyna yang melihat Tasya terus tersenyum - senyum, menjadi hilang kendali. Reyna mulai berdiri dan langsung memegang piring makan milik Tasya. Reyna mengangkat piring makanan Tasya dan membantingnya ke lantai. Pecahan kaca langsung berserakkan kesetiap sisi. Tidak cukup dengan itu, Reyna mengangkat gelas Orange Jus miliknya dan menuangkan isi gelasnya keatas kepala Tasya.


" Udah cukup yah kumuh ! Lo tau ga sih ! senyum murah Lo itu menjijikkan ! ", suara lantang Reyna mengisi ruangan restoran.


" Hikss .. Hikss. I .. Iyaa Reyna ", jawab Tasya dengan gugup sambil menangis.


" REYNA CUKUP ! KAMU GILA YAAAA ?! SIKAP KAMU SEKARANG INI KAYA NUNJUKKIN KAMU TUH MURAHAN ! DUDUK KAMU SEKARANG !! ", titah Emon dengan lantang sambil melotot kearah Reyna.


" A .. Aku minta maaf Emon. Hikss .. Hikss. Habisnya Aku kesal sama Kamu Sayang, Aku tuh ga suka Kamu senyum ke perempuan lain ", protes Reyna diikuti menangis sambil duduk mengikuti perintah Emon.

__ADS_1


" Hmm .. Iyaa Oke. Aku cuma senyum gitu aja. Lagian Kami juga teman, ga ada maksud apa - apa. Udah jangan nangis, Aku ga suka punya pacar cengeng ", ujar Emon sambil mengelus kepala Reyna.


" Maaf ya Tasya sama kelakuan Reyna. Aku juga minta maaf ", sambung Emon menatap Tasya.


" Iya, gapapa kok. Udah gapapa ", tunduk Tasya malu karena penampilannya sekarang pasti sangat buruk.


Leo yang melihat dari sudut meja dan mendengar sikap Reyna yang menggila merasa marah. Terlebih melihat Emon yang bersikap seperti mendukung Reyna yang salah, hanya karena Reyna pacarnya.


" Woy Bajin*an ! Pake otak dong ! Lo liat ni Tasya disiram air sama pacar Lo yang ga tau make pikirannya. Seenaknya Lo minta maaf dengan gampang gitu ? Haaaa !", ucap Leo lantang mencengkram kerah kemeja Emon.


" Apaan sih ! Awasin ga ni tangan Lo ! Kan gue udah minta maaf, Tasya juga udah maafin Kok ! ", protes Emon.


" Tasya gitu karena biar cepat aja Lo berhenti ngomong. Dia tuh sebenarnya jijik sama pasangan sok Oke kaya kalian. Gue aja mau muntah . Cuihhh ", Leo membuang air liur dan mempererat cengkramannya.


" Oh serius ya, Lo ga mau lepasin. Beranda*an ! Sia**n Lo ! Mau ribut Lo haaaa ! ", balas Emon menantang.


" Ohh Anj*ng ! Mati Lo sini Ban*s*t ! ", Leo murka.


Duak .. Duak .. Plaak .. Plaakk ( Leo dan Emon sudah memulai perkelahian )


Putri yang melihat Tasya terpuruk dan juga basah kuyup langsung membawanya keluar restoran. Putri memanggilkan Taksi untuk mengantar Tasya pulang. Tasya yang sudah tidak tahu apalagi yang dilakukan langsung menurut. Suara Perkelahian antara Leo dan Emon menjadi musik yang tak enak didengar oleh Tasya.


...****************...


Sesampainya Tasya dirumah, Tasya langsung masuk kedalam rumahnya yang pintunya sedang terbuka. Setelah didalam rumah, Tasya langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Andrian yang melihat penampilan Tasya basah kuyup langsung khawatir.


Tok .. Tokk.. ( suara mengetuk pintu Tasya )


" Dek .. Buka ! Tasya !! Ayo Buka ! Kamu kenapa ? Ayolah Kakak khawatir ", pinta Andrian sambil berulang kali mengetuk pintu kamar Tasya.


Hikss .. Hikss ... Mmm .. Hikss ( suara Tasya merintih dari dalam kamar )


Tasya tidak menyahut permintaan Andrian, Tasya terus menangis didalam kamar. Malam yang tadinya terasa cerah akan sinaran bintang berubah menjadi kelabu dalam sekejap. Dingin dan terpuruk sendirian didalam kamar, merintih kesakitan. Ini akibat ulah manusia yang merasa jijik dengan senyuman, yang melampiaskan semua ini pada gadis yang tidak punya Ibu untuk menenangkan dan Ayah yang pasti akan memberi pelajaran dengan pukulan.


Tasya merasa kecewa dengan sikap Reyna, terlebih pada Emon. Emon seperti memandang sebelah mata perbuatan pacar nya itu. Tasya kecewa pada orang yang selama ini Dia suka, pada orang yang Tasya ingin bangun sebuah hubungan. Tasya bergumam dalam hati dan terus menyalahkan diri sendiri, karena bodoh membiarkan dirinya masih menyukai Emon atas apa yang Emon sudah lakukan.


Tasya terus menangis, hingga Dia tak sadar sampai tertidur. Air mata Tasya yang membanjiri bantal, seakan menjadi bukti kalau obat tidur Tasya itu bukan obat yang baik. Tasya lelah, Tasya kelelahan.

__ADS_1


Di lain sisi, Andrian juga jadi tertidur didepan pintu kamar Tasya. Andrian menjadi lelah karena terus menanyai keadaan Tasya, yang satu pun Tasya tidak tanggapi.


...****************...


__ADS_2