Saat Kau Berkhianat

Saat Kau Berkhianat
Menantu yang Tak di Anggap


__ADS_3

"Gina, motor nya Bagas udah selesai belum di cuci?! Bagas udah telat itu untuk ke kantor!!!" Ibu mertua ku dengan berkecak pinggang di pintu rumah, meneriaki ku yang sedang mengeringkan motor anak bungsu nya yang pemalas itu.


"Iya mi!! Bentar lagi beres. Ini sedang Gina keringkan." Ku lihat ibu mertua ku dan adik ipar ku yang sedang melihat ku dengan tatapan marah plus jengkel karena motor adi ipar ku belum selesai juga.


Tapi mau bagaimana lagi? Sedari pagi aku sudah di sibukan dengan segala urusan di rumah ini. Belum lagi anak ku yang berumur lima tahun yang sedang demam saat ini.


Jangan di tanya dimana suami ku? Suami ku pasti nya belum pulang. Kata nya ada rapat di kantor dan terpaksa lah dia tidur di kantor.


Sebagai orang yang pernah bekerja di kantoran, aku juga pernah sampai tidur di kantor untuk lembur bila esok hari nya ada pemeriksaan dari pusat. Jadi ku pikir apa yang suami ku lakukan masih wajar.


Ku lihat mereka masih mendumel dengan berbagai gaya di sana. Tadi aku mencoba untuk pura- ura tidak lihat saja.


"Aduh! mbak ini gimana sih?! Aku tu kan udah bilang sama mbak tadi kalau aku mau pergi ngampus jam 7.30 pagi ini. Dan sekarang udah 7 lewat 30 menit!! Tapi motor ku gak juga kering juga!!" Gerutu nya dengan muka masam, terus menyalahkan ku untuk kemalasan diri nya sendiri.


"Bentar ya Bagas. Ini mbak sedang usahakan cepat. Atau begini saja, kamu makan aja dulu! Ntar setelah kamu kelar makan, motor kamu udah siap. Bagaimana?" tawar ku mencoba memberikan solusi terbaik untuk masalah ini. Namun seperti nya hal yang aku kira ide bagus itu, tidak lah demikian di pikiran orang lain.

__ADS_1


Contoh nya saja ibu mertua ku yang tiba-tiba menyela ucapan ku dengan kasar.


"Memang nya semua orang isi kepala nya kayak isi kepala kamu! Makan mulu yang dipikir kan?!!Bagas ini sudah mau terlambat! Kamu masih aja suruh dia makan! Kerja kamu itu yang kamu buru kan! Jangan orang lain yang kamu atur! ? Udah deh, cepat bereskan saja motor nya Bagas. Dan ingat! Jangan pernah minta Bagas untuk makan pagi! Dia itu sedang diet! Jangan sampai di jadi kayak kamu! Kayak induk gajah."


Maki ibu mertua ibu ku yang tidak pernah tertinggal di setiap penutupan ucapan nya pada mu.


"Aduh mi!! Ini udah telah nih mami! Gimana???"" Rengek Bagas manja. Ya, Bagas memang sangat manja.


"Kalau gitu kamu pakai mobil mas mu yang satu lagi saja! Itu yang sering di pakai oleh mbak mu! Biar hari ini dia ke pasar pakai angkot saja. Lagian ini kan kesalahan nya! Kalau dia tidak lelet mencuci motor sport mu, ya kamu gak perlu pakai mobil.” Ujar Ibu mertua ku yang seenak nya melimpahkan kesalahan itu pada ku.


Ibu mertua ku ini memang sering kelewatan batas kalau aku pikir-pikir dengan akal sehat ku.


Tapi kalau aku menyela perkataan nya maka ceramah panjang plus perkataan yang menyerempet latar belakang ku serta bentuk tubuh ku pasti akan keluar dari mulut nya dengan mudah nya.


Jadi demi kesehatan mental ku sebaik nya aku diam saja. Kalau harus memang seperti itu yang dia perintahkan ya itu arti nya, itu lah yang harus aku lakukan AMAZING BUKAN?

__ADS_1


"Yang benar mami? Kalau begitu Bagas berangkat sekarang ya!"


Diam-diam ku lirik ke arah Bagas. Dan ya benar saja, wajah cemberut nya sudah bertukar menjadi raut wajah bahagia karena ide luar binasa dari ibu mertua ku tadi.


“Iya! Sana buruan! Dan Gina, apa lagi yang kamu tunggu! Cepat berikan uang minyak dan Tol ke Bagas.” Titah nya bak ibu ratu di rumah itu.


“Baik mi.” Jawab ku nurut.


"Ini salah kamu loh Gina! Coba saja kamu selesai nyuci dan ngeringin motor Bagas lebih awal tadi, Mami tidak akan mengatakan hal tadi untuk membujuk nya. Karena kamu lalai, Dan ingat!! Jangan minta tambahan uang bulanan ke Aditya. Dai sudah kerja banting tulang siang malam untuk menghidupi induk gajah kayak kamu! Mana makan anak mu juga banyak! Anak perempuan kok makan nya banyak! Pasti mau ngikutin ibu nya! Mau jadi induk gajah juga. "


Selain tidak menyukai diri ku, ibu mertua ku juga tidak menyukai anak ku. Padahal anak ku kan cucu kandung nya. Tapi karena anak ku buta dia tidak menyukai anak ku.


"Hem, tidak apa-apa mami." Jawaban seperti biasa.


"Baguslah! Itu lah yang paling mami suka dari kamu Gina. Kamu mantu yang penurut dan tidak terlalu banyak menuntut. Walau pun kamu sampai saat ini masih belum bisa memberikan Aditya anak yang tidak caccat, - Ya, mami mencoba memahami saja."

__ADS_1


Lagi- lagi hinaan dan cacia untuk diri ku dan putri ku harus aku telan pagi ini.


__ADS_2