Saat Kau Berkhianat

Saat Kau Berkhianat
Rutinitas yang menyakitkan


__ADS_3

"Baiklah. Pembicaraan tentang ini kita simpan dulu. Kalau hati mu sudah tergerak untuk mengubah hubungan kita maka katakan pada ku. Kita akan cari cara supaya kita bisa bersama." Ucap Aditya pada akhir nya.


Aditya mengecup lembut kening Rosa sekali lagi. Sebuah kecupan terakhir sebelum mereka berdua ke rumah Aditya untuk makan siang bersama dengan keluarga Aditya.


***


Hari pun telah berganti, acara makan siang itu berjalan seperti biasa. TERASA MENYAKITKAN BAGI GINA. Tapi Gina tetap harus menelan semua itu. Dia harus rela mendengar semua pujian ibu mertua nya arahkan pada Rosa, yang jelas – jelas bukan siapa- siapa.


Dan rutinitas pun kembali di mulai....


"Mas, sudah subuh." Ulang ku sekali lagi membangunkan nya, tapi seperti nya tidak berhasil. Dia sama sekali tidak bangun.


"Pasti mas Aditya sangat kelelahan. Aku biarkan saja dia tidur sebentar. Nanti dia pasti akan bangun juga."

__ADS_1


Akhirnya ku putuskan untuk membiarkan nya dengan pertimbangan mungkin suami ku ini kelelahan dan perlu waktu lebih untuk beristirahat sebelum berangkat ke kantor, melaksanakan rutinitas yang melelahkan di kantor seperti biasa nya.


Aku pun pergi ke dapur untuk memulai aktivitas rutin ku. Membuat sarapan, mencuci motor Bagas, menyapu rumah, menyiram bunga. Semua nya harus selesai aku kerjakan sebelum semua orang di rumah ini bangun dan memulai hari mereka, terutama sebelum putri kecil ku bangun.


Putri kecil ku memang biasa bangun pukul sembilan pagi. Aku lah yang membiasakannya untuk rutinitas ini karena kalau dia bangun lebih pagi maka aku akan jadi kesulitan. Putri ku sangat membutuhkan diri ku. Bahkan sebenarnya dia lah yang paling membutuhkan ku di rumah ini dibandingkan dengan penghuni rumah yang lain nya.


Tapi apalah daya ku. Dari pada putri ku di caci maki, lebih baik aku biasakan dia bangun lambat. Jadi setelah pekerjaan ku selesai, aku bisa langsung ada untuk diri nya.


Singkat cerita, dua jam pun berlalu. Seperti biasa Bagas selalu terburu- buru keluar dari kamar. Karena setiap Rabu dan Kamis kuliah nya akan di mulai di pagi hari.


Sedangkan ibu mertua ku, biasa nya di pagi Rabu dia akan berangkat Arisan dengan menebeng dengan mobil suami ku. Kebetulan rumah teman nya itu memang letak nya tidak jauh dari area perkantoran nya mas Aditya.


Tapi tunggu! Dimana suami ku? kenapa aku tidak melihat suami ku?

__ADS_1


"Apa mas Aditya masih tidur?" Pikir ku dalam hati, melihat ke arah tangga tapi mau dlilihat seperti apa pun tangga itu kosong. Tidak ada tanda-tanda orang yang turun dari lantai atas.


"Gina? Aditya mana? kok belum kelihatan?" Tanya ibu mertua ku yang sama heran nya dengan diri ku karena tidak melihat mas Aditya di meja makan pagi ini.


"Sebentar mami, aku lihat ke kamar. Apa masih tidur ya?" ucap ku pelan.


"TIDUR??? istri macam apa kamu Gina! Kenapa kamu tidak membangunkan suami mu!! Ini kan jam pergi kantor! Gara-gara kamu tidak membangunkan suami mu, suami mu bisa telat pergi kerja!" Sentak ibu mertua ku marah.


"Maafkan Gina Mami Tapi tadi Gina sudah membangunkan mas Aditya, tapi seperti nya mas Aditya kelelahan maka nya Gina biarkan saja dulu mas Aditya tidur." Jawab ku sambil mengigit bibir bawah ku, dan pandangan ku tetap ke arah tangga.


"Alasan aja kamu ini! Cepat sana kamu susul ke kamar dan cek, apakah Aditya sudah bangun atau belum! Cepat sana pergi! Mami juga bisa ikut-ikutan terlambat kalau sampai Aditya masih tidur di kamar. Kamu ini Gina seperti istri bego aja! Padahal sudah menikah bertahun- tahun tapi tidak ada kemajuan sama sekali. Benar-benar istri yang tidak bisa di andal kan! Mami saja sewaktu masih muda seperti kamu tidak pernah seperti ini kelakuan mami. Mami tidak pernah melalaikan semua tugas dan tanggung jawab mami. Semua nya beres mami kerjakan. Tidak ada mengeluh atau pun membuat kesalahan seperti yang kamu lakukan sekarang. Hanya istri malas dan tidak mau belajar yang selalu melakukan kesalahan." Semprot nya padahal hari masih jam 6.30 pagi.


Repetan ibu mertua ku bahkan masih bisa aku dengar saat kaki ku sudah menginjak lantai kamar ku. Bunyi nya mengalahkan bunyi air masak yang melengking di dapur. Sungguh menyakitkan telinga.

__ADS_1


__ADS_2