
“Rosa? Untuk apa sih di sering- sering makan siang di rumah ini?” Batin Gina, kesal tapi tidak tahu kemana harus mengarah kan nya.
“ Oh, Iya Gina! Rosa sudah bakar ikan, jadi tolong kamu tangkap ikan di kolam satu dan bakar. Dia tadi juga bilang kalau jangan terlalu banyak kecap manis, dan kalori nya nambah!” Perintah yang tidak berotak itu dia berikan begitu saja pada ku. Apa tidak memikirkan bagaimana perasaan ku sebagai istri nya mas Aditya. Kenapa aku harus melayani wanita itu. Astaga! Lama- lama bisa tumbuh tumor sakit hati di dalam hati ku.
Tapi apalah daya ku, aku pun hanya bisa mengangguk setuju. Memang nya respon apa lagi yang bisa aku berikan selain anggukan setuju.
Segera aku pergi ke kolam ikan untuk menangkap satu ekor ikan terkhusus untuk tamu istimewah ibu ku. Dengan badan ku yang gempal aku pun bersusah payah menanggguk seekor ikan patin.
Kalau aku pikir- pikir entah mana yang lebih berat, tubuh ku atau beban hidup ku? Entah lah! Aku pun tidak tahu.
Setelah mati- matian menangkap ikan di kolam, lalu membakar nya dengan api kebencian yang terpendam, akhir nya semua hidangan siap untuk di hidangkan. Satu- satu yang belum siap hanya diri ku. Yang masih belum mandi dari pagi. Amis di tubuh ku yang sudah bercampur dengan amis ikan patin sungguh bisa mematikan hidung orang pekak.
__ADS_1
Aku pikir ini adalah saat nya aku untuk mandi dan ganti baju, mumpung putri ku masih tidur. Jangan sampai aku terlihat seperti babu di mata Rosa.
"Oke! Semua sudah siap. Aku tinggal mandi dan ganti baju. Setelah itu aku akan ikut makan siang bersama mas Aditya dan si Rosa- Rosa itu! Jangan sampai dia mengira di rumah ini tidak ada nyonya rumah nya!”
Ku lihat jam di dinding! “Masih ada tiga puluh menit lagi. Semoga masih sempat." Ujar ku pada diri ku sendiri.
Aku pun buru-buru menuju ke kamar ku untuk mandi. Tapi sebelum sampai ke kamar ku, aku singgah ke kamar ibu mertua ku, untuk melaporkan pada nya kalau makan siang sudah siap aku hidangkan di meja.
"Ya!"
Karena telah mendapatkan jawaban dari ibu mertua ku, aku pun bergegas ke kamar ku. Jangan sampai aku capek- capek masak tapi aku sendiri tidak ikut makan. Enak saja mereka.
__ADS_1
***
Di dalam sebuah mobil...
"Kau kenapa Sayang?
Aditya melihat ke arah Rosa. Dia adalah sahabat istri nya Aditya sekaligus teman sekantor nya Aditya. Hubungan Aditya dan Rosa dimulai setelah Gina hamil. Saat itu Aditya merasa kebutuhan biologis nya tidak terpenuhi dengan sempurna oleh Gina. Dan di saat itu godaan itu datang.
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaan ku, sayang? " tanya Rosa kian mendesak Aditya.
“Gak ada! Aku hanya berpikir kapan aku bisa berterus terang pada Gina soal hubungan kita. Dan apa Gina bisa menerima kamu yang jelas- jelas sahabat nya menjadi madu nya?" Aditya membelai lembut rambut Rosa.
__ADS_1
“Sudah! Kamu jangan pikirkan itu! Toh aku tidak pernah mendesak kamu kan sayang. Aku itu tulus mencintai kamu Dit. Aku juga tidak mungkin menyakiti hati sahabatku. Aku sudah bahagia kok dengan hubungan yang kita miliki saat ini. Jadi kamu jangan mikir yang aneh- aneh ya.” Ucap Rosa dengan sebuah senyum yang terlihat tulus di wajahnya. Tapi apa benar senyum itu benar- benar tulus dari lubuk hati nya. Nobody knows.