
Keesokan pagi nya, aku sengaja bangun lebih awal. Jangan sampai kejadian kemarin kembali terulang. Bukan hanya karena pekerjaan yang ku lakukan jadi tidak ada guna nya, uang belanja bulanan ku dari suami ku pun jadi berkurang. Aku harus putar otak agar uang yang masih tersisa bisa mencukupi makan di rumah ini hingga akhir bulan tanpa mengurangi tingkat enak nya makanan di rumah ini.
Hari di dapur, hal yang sama kembali aku dengar..
"Sebagai wanita itu seharus nya kamu itu menjaga badan kamu Gina! Jangan kayak induk gajah kayak gini!!! Kamu itu harus rajin olah raga biar kurus. Porsi makan kamu juga harus kamu jaga. Jangan makan ke makan saja kerja kamu. Selain bisa membuat mu gemuk gak berbentu seperti ini, kebiasaan mu ini bisa membuat Aditya jadi jatuh miskin. Lihat lah!! lemak mu di tubuh mu mengalahkan dosa- dosa orang satu komplek ini bila di kumpulkan.” Ceramah nya seolah- olah tubuh nya langsing saja.
Just for Information, ibu mertua ku ini tubuh nya sama saja dengan ku! Mungkin berat badan kami sama. Aku tidak tahu apa pantulan di cermin kamar ku dan kamar nya berbeda, tapi yang pasti dia selalu merasa lebih langsing dari ku.
"Ya, bu. Aku akan berusaha untuk kurus." Jawab ku untuk menyenangkan hati nya dari pada masalah ini jadi sangat panjang.
__ADS_1
"Jangan cuma ngomong saja Gina! Buktiin dong!! Enam tahun kamu disini, mami tidak pernah lihat sekali pun kamu berolah raga. Selesai kamu beres-beres rumah dan masak, kamu langsung masuk kamar. Dan tidur kan? Itu benar- benar sebuah kebiasaan yang buruk. Maka nya tubuh kamu yang dulu nya langsung berubah jadi induk gajah seperti itu. Padahal mami dulu bangga dengan tubuh kamu yang bak seorang model. Tapi setelah melahirkan anak kamu yang buta itu, kamu malah melebar!!!" Tukas nya membuat merah telinga ini.
“Jadi apa dia berharap setelah semua bejibun pekerjaan ini, aku harus sambung dengan olah raga? Yang benar saja. Alih-alih kurus, takut nya aku malah innalillah... setelah nya.
"Nanti akan Gina coba bu." Mungkin karena sudah terbiasa, akhir nya sebuah jawaban yang menyejukkan hati kembali meluncur dari mulut ku. Sebab berdebat dengan nya hanya akan membuat semua suasana hati ku rusak.
Untung nya suami ku tidak pernah mengeluh dengan diri ku. Dia mengatakan kalau aku adalah wanita terbaik yang Tuhan kirimkan untuk menjadi istri nya. Karena aku orang nya serba bisa, dan sangat sabar.
Ya, walaupun kami hanya melakukan hubungan intim satu kali sebulan tapi itu sudah sangat cukup bagi ku. Karena aku tahu mas Aditya pasti sudah kelelahan dengan semua pekerjaan nya di kantor.
__ADS_1
Ku tarik nafas ku sepelan yang ku bisa untuk menenangkan hati ku. Aku tidak ingin membalas kata-kata nya.
Ku pikir enam tahun mendengar semua hal itu akan membuat kuping ku mati rasa, tapi ternyata salah. Rasa nya tetap sama. Sama-sama menyakitkan.
"Hei! Kamu dengar kata mami gak??" Sentak nya pada ku karena aku hanya diam saja tadi.
"Ya, Gina dengar mami. Gina akan berusaha untuk menguruskan tubuh Gina seperti dulu lagi!." jawab ku pelan menelan semua rasa sedih dan kesal ku karena ucapan mertua ku yang kayak di pikir pakai otak gitu.
"Bagus lah kalau kamu paham. Cepat siapkan makan siang! Aditya dan Rosa akan makan siang di rumah. Tapi Aditya nelpon bilang gitu ke mami..” ujar seolah tidak ada yang salah dengan kata- kata nya.
__ADS_1
“Rosa........?”