
Hari ini, suasana Kampus Bakti Luhur terlihat ramai dengan orang yang berpakaian hitam putih. Mereka terlihat sibuk kesana-kemari dengan membawa map di tangannya.
Dari kejauhan, seorang pemuda yang merasa paling normal menatap sambil menghela napas.
“Ini calon pengangguran yang bakal membebani anggaran negara, semangat amat pada daftar ulang,” ucap pemuda tersebut saat mengeluarkan analisis sambil menatap iba orang yang lalu-lalang disekitarnya.
Dia sedikit kecewa karena merasa di kampus sebesar Bakti Luhur hanya dirinya yang mampu mengangkat perekonomian Indonesia kelak.
Matanya melirik ke arah dua orang mahasiswa baru yang sedang berjalan ke gedung rektorat. Dia menatap sambil mengangguk-anggukan kepala dengan tangan berada di dagunya seperti orang sedang berpikir.
“Dilihat dari struktur wajahnya, itu ... di kantong celananya pasti isinya obeng. Prediksi gua paling lama dua semester mereka bakal dikeluarin karena nusuk anak orang," cicitnya.
Tak lama, dua mahasiswi baru terlihat berjalan di hadapannya, mereka menoleh ke arah pemuda tersebut dan menganggukkan kepalanya.
“Siang Kak," sapa mereka yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis pemuda itu.
“Nah, kalo ini tipe perempuan yang rela jual ginjalnya cuma buat nonton konser artis idolanya.”
Pemuda itu kembali menghela napas panjang seolah ingin meringankan beban di pundaknya.
“Kayaknya ... tahun ini kampus Bakti Luhur bakal kembali dirundung duka, dari tadi gua perhatiin belum ada mahasiswi yang sesuai dengan spek yang gua cari." Dia berkata pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Muka lo tu yang dirundung duka.” suara seorang perempuan mengagetkan pemuda tersebut. Dia sangat mengenal pemilik suara yang selalu mencelanya setiap hari.
“Tiap hari kerjaan lo ngegibahin orang terus Mang, kantin yuk laper gua.” perempuan tersebut menyeret pemuda di hadapannya.
Nama pemuda tersebut adalah Sabrang Damar, namun teman-temannya biasa memanggilnya ‘Mamang’ karena obsesinya terhadap mamang becak.
Saat masih kecil, Sabrang paling senang naik becak. Di mana pun berada jika melihat becak dia akan menangis jika tidak di ajak naik becak, sejak saat itu nama mamang melekat menjadi nama panggilannya sampai saat ini.
Sedangkan perempuan tinggi semampai yang menyeret Sabrang ke kantin bernama Clara Novita Sari, seorang gadis cantik yang telah berteman lama dengan Sabrang sejak masih sekolah menengah pertama.
Berbeda dengan Sabrang yang sedikit urakan. Clara adalah seorang gadis yang hidupnya tertata rapi mulai dari bangun tidur, sampai kembali tidur.
Keakraban mereka itulah yang membuat teman-temannya berpikir, jika Sabrang menggunakan ilmu hitam, sehingga Gadis cantik dan pintar seperti Clara selalu ada di dekat seorang pemuda yang menurut mereka agak kekurangan gizi.
“Gua gak punya duit Clar, tadi pagi aja gua ngangkot campur ngancem supirnya."
__ADS_1
Clara tertawa mendengar celetukan Sabrang. Dia memang selalu menantikan celetukan celetukan Sabrang yang selalu berhasil membuatnya tertawa.
“Sejak kapan lo punya duit? biasanya aja gue terus yang bayarin,” ucap Clara tak perduli dan tetap menyeret Sabrang ke kantin. Entah sejak kapan dia merasa tergantung pada Sabrang, ke mana pun dia pergi Clara selalu memaksa Sabrang menemaninya.
Suasana kantin siang ini ramai oleh mahasiswa-mahasiswi baru yang sedang bercengkerama atau saling berkenalan satu sama lain.
Sabrang memilih duduk di sebuah meja kosong dekat dengan kasir, hal ini sudah menjadi kebiasaannya selama kuliah di kampus Bakti Luhur. Dia berpendapat akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan sang kasir saat harus berhutang dengan jaminan buku catatan kucel yang selalu terselip di kantongnya.
“Lu kebagian nomer berapa Clar? ” tiba-tiba Sabrang bertanya sambil memesan makanan dan kopi. Kali ini dia memesan makanan yang sedikit mewah karena merasa tidak perlu berbisik pada kasir untuk berhutang yang kemudian dibalas dengan tatapan sinis sang pemilik warung.
Sabrang menatap gadis manis di hadapannya yang selalu menyelamatkan hidupnya dari jeratan hutang sang pemilik kantin.
Clara mengerutkan keningnya menatap Sabrang. “Nomor apa Mang? Gak ngerti gua,” balas Clara.
“Lah, ini bukannya lagi pada nunggu giliran tes wawancara kerja? bajunya item putih semua.”
Clara kembali tertawa keras mendengarnya.
Tak berapa lama seorang gadis penjaga kantin mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih ta, lo tau aja kesukaan gua.” Sabrang mengedipkan matanya ke arah Gadis tersebut yang sebenarnya lebih mirip orang cacingan.
Gadis itu bernama Meta Andini, putri dari pemilik kantin yang selalu menatap iba saat Sabrang hanya memesan nasi putih plus kuah sayur yang menggenangi hampir seluruh piringnya layaknya detik-detik kapal Titanic yang karam di lautan luas.
Meta selalu menyelipkan telur di bawah nasi saat Sabrang hanya memesan nasi Titanic tersebut. Dia melakukan itu karena ibunya pasti marah jika mengetahui Meta memberikan makanan gratis untuk Sabrang
“Ribet amat lo mau ngopi aja pake acara diaduk setengah lingkaran.” Clara protes terhadap kebiasaan sahabatnya tersebut.
“Lo gak tau sih Clar, itu cara ngopi yang paling enak, apalagi yang ngaduk Luna Maya,” ucap Sabrang seenaknya.
“Ngarep lu!” Sabrang terkekeh melihat reaksi Clara kali ini.
“Mang udah ada anak baru yang lo incar belum?" Clara menoleh kearah sahabatnya yang dengan brutalnya menyeruput kopi pahit pesanannya.
“Ini kopi enak banget Clar, kayaknya mah mertua lewat aja gua gak bakal nengok" Sabrang mulai menganalisa rasa kopi yang telah diaduk setengah lingkaran itu tanpa menjawab pertanyaan Clara.
Clara memonyongkan mulutnya mengejek Sabrang. “Sok tau lo, pake acara ngomongin mertua, pacar aja lo nggak punya.”
__ADS_1
“Ah lu ... gak tau bahasa kiasan, dulu nilai Bahasa Indonesia lo berapa sih?” Sabrang bersungut kesal yang membuat Clara tersenyum puas.
Sabrang selalu memanfaatkan waktu di kantin bersama Clara untuk melihat suasana kantin, dia merasa perlu mengklasifikasikan para anak baru seperti yang dia lakukan tadi.
Namun, tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang anak baru yang sedang duduk menghadap laptop dengan logo buah apel yang tergigit.
“Clar, arah jam sembilan ada barang bagus!" Sabrang memberi tanda pada sahabatnya untuk menoleh.
Clara menoleh ke arah kanan dengan malas kemudian kembali menatap Sabrang. “Oh itu Mbak Ijah janda dua anak, dia baru kemarin kerja di sini. Lo mau gua kenalin?”
“Lo beli jam dimana sih, Clar?” Sabrang menatap jam tangan yang dikenakan Clara sambil mengernyitkan dahinya.
“Arah jam sembilan berarti sebelah kiri lo ngapain nengok ke kanan? Ketemu janda kan lo! ” Sabrang bersungut kesal.
Clara kembali tersenyum dan menoleh ke arah kirinya sesuai dengan petunjuk Sabrang dan menemukan seorang gadis berambut panjang sedang menatap laptopnya. Dia menajamkan pandangannya ke arah gadis tersebut sebelum memberikan tanggapan.
“Standar mang,” jawab Clara.
“Lo liat lagi coba Clar, aura dia itu berbeda dari semua makhluk yang ada di kantin ini." Sabrang mencoba menjelaskan bahwa apa yang dilihatnya sungguh menyerupai bidadari.
Dia tidak dapat menerima jawaban Clara yang men-standar-kan bidadari kantin tersebut.
“Aura apa sih, Mang? Perasaan gua sama aja pake baju hitam putih juga, cantikan juga gua.” Clara menjawab seenaknya sambil matanya tetap menatap Smartphone di genggamannya.
“Ah reseh lo! Jangan samain dia sama orang orang yang pake baju seragam itu dong ... walaupun dia pake baju hitam putih, juga tapi auranya berbeda.” Sabrang terus menatap mahasiswi baru tersebut sambil tersenyum manis.
“Mentari ya?” seorang wanita tersenyum dan menyodorkan tangannya kepada wanita yang dari tadi menjadi pusat perhatian Sabrang.
“Gua Anita anak baru juga, boleh gabung?” ucap Anita ramah.
Wanita tersebut mengangguk pelan dan menyambut jabat tangan Anita.
“Gua Mentari, yuk duduk!" Mentari mempersilakan Anita duduk satu meja dengannya.
“Namanya Mentari, Clar! pantes aja auranya terang kayak mentari di pagi hari yang menyinari bumi,” dia menoleh ke arah Clara yang tetap fokus dengan hpnya.
“Panas dong! Mang bisa item lo deket matahari terus.”
__ADS_1