Sabrang Dan Mentari

Sabrang Dan Mentari
Kapan Nyusul


__ADS_3

"Pagi tante, Claranya ada?" Sabrang muncul dari balik pintu dengan senyum yang dimanis maniskan. Bu Yanti terlihat tersenyum ramah menyambut Sabrang.


"Pagi mang masuk yuk," jawab bu Yanti sambil mempersilahkan Sabrang masuk.


Bu Yanti memang sudah mengenal baik Sabrang, sahabat anaknya sejak SMP ini memang sering main ke rumahnya untuk bertemu Clara.


Sifat ramah dan sopan yang ditunjukan Sabrang membuat bu Yanti tidak mempermasalahkannya bergaul dengan Clara.


"Kamu udah makan belum? makan dulu sana tante masak nasi goreng tuh."


"Ah jangan repot repot tante, kalo ada sekalian kopinya," Sabrang cengengesan dengan wajah tidak tau malu.


Bu Yanti tersenyum kecil mendengar jawaban Sabrang, "Clar, temen kamu minta buatin kopi tu," teriak bu Yanti.


"Kasih aer keran aja ma," Suara Clara terdengar dari dalam kamar yang diikuti ketawa mengejek.


"Dikira gua ikan lele kali," Sabrang tersenyum kecut mendengar ejekan sahabatnya itu.


Tak lama Clara muncul dihadapannya dengan busana pesta, dia terlihat sangat cantik dan anggun.


"Sarapan dulu yuk mang ada nasi goreng tuh," ajak Clara sambil melangkah menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban Sabrang.


Wajah Sabrang terlihat bahagia, saat seperti inilah yang paling ditunggunya. Hari ini dia bisa mengirit uang empat ribu rupiah untuk membeli Gorengan sisa kemarin buat sarapan.


"Kok nyokap lo yang masak Clar?" Sabrang bertanya dengan nasi masih penuh dimulutnya. Hari ini dimanfaatkan Sabrang untuk memperbaiki gizinya yang selama ini terbengkalai oleh asupan mie instan, dia terlihat menyantap Nasi goreng ayam dengan lahap.


"Gua kan gak bisa masak mang," jawab Clara cuek.


"Wah parah lo, gadis kok gak bisa masak, mau di kasih makan apa laki lo ntar klo udh nikah?" Sabrang mencongkel Ayam goreng tak jauh dari piringnya. Itu Ayam kedua pagi ini yang bersarang di piringnya.


"Beli lah warung banyak, ribet amat."


"Masa mau di kasih makanan warung terus laki lo, bosen lah," jawab Sabrang pelan.


Clara tiba tiba memandang pria dihadapannya, "Emang lo cari cewek yang pinter masak ya mang?"


"Pasti lah Clar, masa nanti gua kalo pulang kerja gak ada makanan, bisa cacingan gua," balas Sabrang.


"Kurang gizi kali," Bu Yanti lewat dan ikut bergabung di meja makan.


"Nah itu maksud Sabrang tante, Kurang gizi," Irisan ayam ketiga sukses mendarat kembali.


"Clara mah boro boro masak mang, ngerebus aer aja gosong," goda bu Yanti.


"Mama!! boong mang, gua bisa masak kok cuma lagi males aja," Clara membela diri, matanya melotot ke arah mamanya.


"Bisa masak gosong?" Sabrang tertawa mengejek, membuat Clara bersingut.


"Emang kamu bisa masak mang?" tanya Bu Yanti, dia masih menggoda anak semata wayangnya.


"Alhamdulilah tante, karena tuntutan sebagai anak kos mengharuskan saya pinter masak. Kalo saya makan di warung terus, bisa abis duit bulanan," jawab Sabrang.


Clara mulai tertarik dengan perkataan Sabrang, karena sepengetahuannya Sabrang belum pernah menunjukan jika dia pintar memasak.

__ADS_1


"Masak apa lo?" Tanya Clara menyelidik.


"Rendang bisa, Ayam geprek bisa, tergantung mood."


"Wih hebat kamu mang," bu Yanti terlihat kagum.


"Tapi dalam bentuk mie Instan tan hehehehe,"


Seketika Clara dan mamanya tertawa keras setelah mendengar jawaban Sabrang.


***


Sabrang dan Clara terlihat memasuki Gedung Mangliawan, mereka langsung disambut oleh beberapa orang berada di meja tamu.


"Silahkan mas di isi buku tamunya," sapa seorang wanita muda ramah.


"Clar tulisin sih nama gw, kalo gw yang nulis kasian tuan rumah kudu bawa ahli bahasa buat baca tulisan gw," pinta Sabrang pada sahabatnya itu.


Sabrang tampak melihat sekitarnya dengan aneh, dia merasa menjadi mahluk asing di antara sekumpulan manusia yang ada digedung itu. Tidak ada yang dikenalnya.


"yuk," Clara mengajak Sabrang masuk setelah menulis di buku tamu.


Mereka bejalan beriringan memasuki gedung, tatapan Sabrang terarah ke Meja prasmanan yang berjejer rapih.


"Jadi gini rencananya Clar, ada 3 titik rawan di Gedung ini yang harus kita amanin dulu," Sabrang mulai menjelaskan sebuah strategi perang pada Clara.


Wajah Clara sedikit berubah, perasaannya mulai tidak enak melihat tingkah orang yang dicintainya itu.


"Ah cukanya kurang pedes, ah mpek mpeknya kurang terasa tapi setengah lebih stok Mpek mpek digedung ini bakal habis selama perdebatan berlangsung."


Sabrang kembali melanjutkan analisis ilmiahnya, "Yang kedua adalah pondokan Es dawet. Setelah perdebatan panjang antara cuka dan mpek mpek, tenggorokan mereka mulai haus. Di sinilah mereka melampiaskan hasrat tenggorokannya.


Topik pembahasan di titik kedua ini sedikit bergeser, kali ini dua orang yang ngejogrok di atas pelaminan jadi sasarannya. "Ah tu cewek kok mau ya nikah sama cangkokan Tapir atau ih liat tu perut ceweknya kok kayak udah ngisi ya".


Clara mulai tertawa mendengar tingkah sahabatnya itu.


"Titik rawan yang terakhir sudah jelas lumbung makanan yang ada didepan lo. mereka bakal dengan bar bar menghabiskan makanan yang ada di meja sebagai konsekwensi dari amplop yang secara tidak iklas mereka masukin kotak amplop di sebelah mempelai.


"Jadi rute kita pagi ini serbu titik pertama secepatnya terus lari ke titik kedua untuk menyelamatkan es dawetnya dan terakhir serang lumbung makanannya dengan segenap jiwa" Suara Sabrang meninggi seperti seorang komandan memberi arahan perang pada prajuritnya.


"Giman Clar? ngerti?" Sabrang menoleh ke arah Clara yang sedikit menjaga jarak darinya, Malu!


"Lu mau boker?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Hei mang apa kabar?" Sebuah suara mengagetkannya saat sedang berbicara dengan Clara. dia menoleh ke asal suara.


Seorang Gadis manis bersama seorang pria berdiri dihadapannya dengan senyum ramah.


"eh elo Mel, Alhamdulilah baik mel," Sabrang tersenyum ramah sambil menyambut jabat tangan Melly.


"Ini siapa mang? pinter ya lo sekarang," Melly menunjuk Clara dan setengah berbisik menggoda Sabrang.


"Kawinin Mang, jangan sampe lolos," goda Melly.

__ADS_1


"Dikira anak kebo lo mah maen kawinin aja," jawab Sabrang pelan.


"Oh iya ini temen gua mel namanya Clara, Clar ini Mely tetangga gua di kampung," Sabrang memperkenalkan mereka berdua.


"Jadi kapan nyusul Clar?" Pertanyaan tiba tiba Melly menusuk tepat relung hatinya, wajahnya terlihat memerah menahan malu.


"Nyusul apa mel?" tanya Clara sambil menoleh ke arah pria disampingnya.


Yak! Pria yang diharapkannya membantu menjawab pertanyaan sulit dari Melly ternyata sedang memandang jauh ke arah titik yang menurutnya tadi rawan. Dia seolah belum selesai bergulat dengan dirinya sendiri mengenai tiga titik rawan yang harus segera diselamatkan.


"Ah lo orang ni kayak anak ABG aja pake malu malu kucing". Clara hanya bisa tersenyum sambil mencubit Sabrang yang masih larut dengan rencananya


"Sakit tau," Sabrang bersingut mendapat serangan dari Clara.


"Jadi kapan lo mau nyusul mang, cewek lo ngasih kode tuh," Melly tertawa melihat tingkah pasangan unik dihadapannya.


"Gua mah tergantung dia Mel, asal mau d kasih makan mie instan aja," Sabrang menjawab asal sambil tetap melihat ke arah pondokan mpek mpek yang mulai ramai.


"Deg" Clara mengernyitkan dahinya, dia mencuri pandang kearah Sabrang, ada senyum merekah di bibirnya.


"Gua mau mang," Gumamnya dalam hati.


"Dia mah gak bakal mau mel," timpal Sabrang kembali.


"Mau monyong," jeritnya dalam hati, Clara benar benar hilang kesabarannya kali ini.


***


Setelah makan dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai, Sabrang dan Mentari pamit pulang.


Mobil yang mereka kendarai melaju cepat di jalan tol trans sumatra diiringi lagu theme song Kera Sakti.


"Temen lo lucu ya mang," Clara membuka obrolan.


"Temen yang mana?" Sabrang menjawab tanpa menoleh, dia sedang berkonsentrasi menyetir.


"Itu loh yang nanya kapan kita nyusul," jawab Clara, dia mulai mempersempit arah pembicaraan.


Clara ingin mengetahui apa yang di sampaikan Sabrang tadi tentang "tergantung dia mel", apakah hanya celetukan seperti biasanya atau benar benar dari hatinya.


"Ah si melly mah gak usah didengerin Clar, nafas aja pals dia," jawab Sabrang cuek, dia tetap berkonsentrasi pada jalan yang dilewatinya.


"Oh" Dua huruf o dan h, hanya itu yang keluar dari mulut Clara. Dia benar benar tidak dapat mentolerir sikap cuek Sabrang.


"Elu yang pals onta!" Clara bersingut dalam hati.


"Makasih ya Clar udah mau nemenin gua, lu satu satunya temen gua yang selalu ada buat gua," ucap Sabrang tiba tiba.


Clara menghentikan aktifitasnya di depan layar ponsel, dia hanya mengangguk pelan, jantungnya sedang berpacu seolah mengikuti Alunan lagu My Chemical Romance yang diputar di mobilnya.


"Gua yang harusnya makasih sama lo mang, lo udah bikin gua sadar kenapa gua selama ini selalu butuh lo" Batinnya dalam hati.


Dan sepanjang perjalanan pulang Clara hanya bisa diam sambil sesekali mencuri pandang pria disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2